Jumat, 27 November 2015

# uneg-uneg

Simpan smartphone mu, berbincanglah..

Jaman sekarang, bukan perkara mudah untuk menyempatkan diri menyapa dan berbincang dengan orang di dekat kita. Atau jangan-jangan kita malah sudah lupa bagaimana cara mengawali pembicaraan? Alih-alih menyapa, lebih sering kita akan asik membunuh waktu dengan ber smartphone ria.
Di acara silaturahim RT lebaran lalu, saya melihat beberapa ABG ikut hadir tapi dengan smartphone di tangan. Mereka berkumpul tapi asik dengan smartphone nya masing-masing. Miris.
Di masjid, pas tarawihan.. beberapa ABG juga datang ke masjid dengan smartphone nya. Terlalu kalau ini. Emaknya pingsan apa ya..?
Bapak-bapak, ibu-ibu nemenin anak main di playground pusat perbelanjaan juga sambil ngadep smartphone. Semoga aja anaknya nggak njungkel di mainan kuda-kudaan yaa.. naudzubillah.
Satu keluarga, makan di foodcourt, sambil nunggu pesenan datang pegang smartphone masing-masing.
Dan masiiih banyak lagi. Itu hanya beberapa yang pernah saya lihat dengan mata kepala sendiri bukan kata mbah gugel. Tapi, nggak semua begitu.. alhamdulillah di pertemanan ibu-ibu antar jemput sekolah PG nya Faisya nggak gitu. Walau hampir semua sudah pakai smartphone, waktu nya jemput kami biasanya ngariung. Ngobrol-ngobrol kecil sambil nunggu bocil-bocil keluar kelas. Ada juga siih, yang males bergabung. Lebih seneng nunggu diatas sepeda motor ditemani smartphone.. hehe. Tapi ngga banyak...
Ah.. kayak kamu udah bebas dari kutukan smartphone aja Nov? Yakin ?
Hehehe, belum sih. Jerat smartphone memang dahsyat. Apalagi buat emak yang bakulan online seperti saya. Tapi saya berusaha meminimalkan sebisa mungkin mudharat dari smartphone. Momong anak disambi ngerespon orderan (menurut saya) masih bisa di tolerir. Seperlunya lho yaa.. bukan untuk ngobrol ngalor ngidul. Kalau waktu senggang atau pas sendiri, bolehlah ber haha hihi dengan rekan sejawat yang jauh-jauh.
Memang butuh niat yang kuat, agar diri kita tidak diperbudak oleh smartphone. Sebenarnya apa sih, yang kita lakukan dengan smartphone? Sampai melewatkan waktu berharga untuk berbincang dengan orang didekat kita? Browsing ? Buka wall fesbuk? Bbm ? Wa ? Okelah, memang nggak semuanya negativ. Bisa jadi yang kita baca adalah bc nasehat/tausiyah, atau kitab suci. Tapi coba deh tunda sejenak, sempatkan berbincang dengan orang disekitar kita. Dengan berbincang, kita akan dapat hal yang lebih bermanfaat. Bisa ilmu, bisa sharing pengalaman hidup atau sekedar berkenalan menambah silaturahim (  bukan dengan lain jenis yaa ).
Daan.. saya ingin membuktikan (pada diri saya sendiri) bahwa saya tidak dikendalikan oleh smartphone, tapi saya yang mengendalikan smartphone. iih bahasanya serius amat yak ^^
Ceritanya pagi-pagi sudah nongkrong di kantin sekolah Icha. Apa pasal ? Nganterin perlengkapan prakarya yang ketinggalan! Karena saya sudah bikin perjanjian, nggak akan mengantarkan buku atau apapun yang ketinggalan ke dalam kelas, akhirnya tawar menawar dan keputusannya adalah saya hanya akan membawa perlengkapan prakarya itu ke kantin. Dititip pak kantin dan dia ambil sendiri. Tapi melihat suasana istirahat yang gaduh mendadak saya khawatir kalau barang-barang itu gak sampai ke tangannya. Pak Kantin terlihat repot melayani anak-anak yang sedang istirahat. Ya sudahlah saya tunggu saja.
Di depan saya seorang ibu (tepatnya nenek) sedang duduk. Saya duduk di bangku depan ibu itu dan mulai membuka smartphone. Nyapa enggak nyapa enggak nyapa enggak...
Setelah suara tokek berhenti pas di "nyapa" ( hehe.. bo'ong ding, pagi-pagi mana ada tokek ) akhirnya saya tutup smartphone dan mengulurkan tangan.
"Assalamu'alaikum, sedang nunggu Bu ?"
"Eh.. waalaikum salam... iya jeng.. nunggu cucu.."
"Belum jam pulang kok sudah ditunggu Bu ?"
"Ini bawain makan, makannya susah kalau nggak ditungguin.."
"Oooh.. telaten ya Bu.. anak saya juga susah makannya.. Ibu setiap hari ngantar makan di jam istirahat ?"
"Iya jeng.. lha mama nya kerja, semua saya yang urus.. kalau sakit saya juga yang repot.."
"Oooh...." lagi-lagi bengong. Obrolan-obrolan selanjutnya bikin saya makin bersyukur telah menutup smartphone tadi.
Dan, pagi itu saya mendapat banyak cerita tentang ilmu kehidupan yang sayang untuk dilewatkan.
So precious moment!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca, yuk tinggalkan jejak dengan komentar yang santun