Sudah dua periode menstruasi ini saya memakai pembalut kain bikinan sendiri. Alhamdulillah, aman  nyaman dan hemat pulak..! Dan yang terpenting, lega karena sudah nggak nyumbang sampah pembalut lagi setiap bulan.

Sebenarnya nggak baru-baru ini aja sih, saya memakai pembalut cuci ulang. Dulu banget, saya sudah pernah mencoba beralih ke pembalut kain, tapi entah karena kualitas yang kurang bagus atau gimana, makin dicuci rasanya pembalutnya semakin kaku. Ingin mencoba merk lain, belum kesampaian untuk beli lagi. Alhasil, balikan lagi deh, sama pembalut sekali pakai.

Kebetulan, pas lagi buka-buka instagram saya melihat postingan akun @substitute.makerspace yang sedang mengadakan lokakarya membuat pembalut kain. Narasumbernya komunitas Needle n Bitch dari Yogyakarta. Langsung dong, saya daftar..

Foto bareng mbak Mita ( tengah ) dari Needle n Bitch seusai lokakarya
Selain mendapat kit untuk praktek membuat pembalut, kami juga diberi zine datang bulan. By the way, saya baru tahu kalau zine itu singkatan dari fanzine atau magazine. Menurut Wikipedia, artinya sebuah media cetak alternatif yang diterbitkan secara personal atau kelompok kecil, dan direproduksi dengan cara difotokopi.

Sejarah Pembalut dan Menstruasi

Zine datang bulan berisi sejarah menstruasi dan pembalut sejak jaman awal Masehi. Ternyata, di masa-masa awal Masehi kaum perempuan belum menggunakan alat bantu apapun untuk menstruasi. Kebanyakan mereka menghabiskan waktu untuk duduk di sebuah tempat dengan alas yang mampu menyerap cairan menstruasinya. Kemudian, mulailah digunakan bahan penyerap yang bisa dipasang pada tubuh. Bahan yang digunakan berbeda-beda di setiap negara. Di Mesir Kuno misalnya, mereka menggunakan papirus, di Hawaii menggunakan daun pakis, di Afrika menggunakan lumut rumput atau tanaman lain, sedangkan di Indonesia menggunakan serat sayuran.

Agak lebih maju, di Jepang sudah menggunakan tampon kertas, di China menggunakan potongan kain atau lap, di Roma menggunakan wol dan di Eropa menggunakan kapas dan spons.

Model pembalut perempuan terus mengalami evolusi seiring perkembangan zaman. Di tahun 1867 sempat muncul menstrual cup ( tapi belum seperti mens cup sekarang yang bisa dimasukkan ke dalam ms V ). Model mens cup yang muncul pertama kali berupa mangkuk penyerap cairan yang dimasukkan ke dalam kain dan dikaitkan pada ikat pinggang. ( Weww.. Nggak kebayang repotnya yaa..)
Sekitar 9 tahun kemudian, mens cup berbahan karet baru ditemukan.

Pada awal abad ke 19, para perawat di rumah sakit Eropa menemukan ide untuk membuat pembalut sekali pakai dari bahan yang tersedia di rumah sakit, perban dan pulp kayu. Ide mereka kemudian diadopsi beberapa perusahaan dan mulai diproduksi massal di era 1900 an. Namun karena harganya yang cukup mahal, hanya kalangan kaya saja yang mampu membelinya.

Sebenarnya, di tahun 1896 Johnson & Johnson sudah memproduksi pembalut sekali pakai dengan harga terjangkau melalui Lister's Towel. Sayangnya, kurang sukses di pasaran. Saat itu, iklan yang berbau 'dalaman' masih dianggap tabu sehingga tak banyak perempuan yang mengetahui bahwa produk tersebut sudah ada.

Tahun 1926, Dr. Earle Haas menciptakan sebuah tampon modern yang dapat dipakai semua kalangan. Produk ini dipatenkan dengan merk Tampax. Meski begitu, Tampax masih belum sepenuhnya diterima pasar. Masih ada kekhawatiran akan dampak penggunaan tampon terhadap kesehatan dan aktivitas seksual. Baru setelah American Medical Association menyetujui penggunaan Tampax di tahun 1945, produk ini dapat leluasa menembus pasar.

Di Indonesia, Softex menjadi pelopor penggunaan pembalut sekali pakai dan menjadi pemimpin pasar pembalut di tahun 1980 an. Pantas saja ya, sering banyak yang salah kaprah menyebut pembalut dengan kata softex.

Fakta Tentang Pembalut Sekali Pakai

Saat ini, beraneka merk pembalut sekali pakai beredar di pasaran. Beragam varian, teknologi dan harga yang cukup terjangkau. Merk yang biasa saya pakai, kemasan isi 10 pads dibandrol 4000-5000 rupiah. Artinya, harganya hanya sekitar 500 rupiah saja sebiji ! Murah banget ya..

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa proses pembuatan pembalut sekali pakai yang berasal dari bahan baku kertas bekas dan pulp, dilakukan proses bleaching untuk memutihkan kembali kertas bekas tersebut. Bahan kimia yang digunakan pada proses produksi tersebut akan mengakibatkan kandungan zat dioxin pada pembalut sekali pakai. Dioxin dikenal dengan nama kimia Tetraclorodibenzo-p-dioxin atau atau TCDD. Rumus kimianya adalah C12H4O2C14
Dioxin merupakan salah satu dari senyawa kimia beracun yang bisa larut dalam lemak dan sangat stabil sehingga bakteri di alam pun tidak bisa menguraikannya. Dampak zat dioxin bagi tubuh antara lain vulva cancer, ovary cancer, kista, miom dan keputihan.

Meskipun sudah banyak beredar informasi kesehatan mengenai dampak pembalut sekali pakai, namun faktor kepraktisan sepertinya masih membuat produk ini laris manis di pasaran.

Belakangan, ketika gaya hidup go green dan zero waste mulai banyak diminati berbagai kalangan, penggunaan pembalut cuci ulang mulai menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Sudah banyak kita jumpai produk pembalut cuci ulang yang  dijual di pasaran. Dengan variasi bentuk dan motif yang lucu-lucu, membuat pembalut cuci ulang tidak lagi terkesan kuno.

Foto dari ig @pembalutkainjelita

Foto dari IG @pembalutkainjelita

Foto dari IG @yuspin.sidoarjo

Yuk, Bikin Pembalut Kain Sendiri..!

Harga jual pembalut kain dipasaran masih lumayan mahal, meskipun jika dihitung jangka waktu pemakaian yang di klaim bisa sampai 2 tahunan, jatuhnya kurang lebih sama atau lebih hemat daripada jika membeli pembalut sekali pakai setiap bulan. Tapi, kalau bisa bikin sendiri kenapa tidak mencoba ? Ternyata tidak terlalu sulit kok. Bahan-bahannya nggak perlu pakai kain import yang mahal. Bisa menggunakan bahan - bahan yang ada di sekitar kita.

Alat dan bahan yang dibutuhkan yaitu:

1. Bahan untuk OUTER, ada 3 lapis yaitu

✔ kain waterproof atau poly,  yang berfungai sebagai lapisan anti tembus. Harga per meternya 15 ribuan. Kain semeter bisa jadi banyak
✔ kain katun motif bebas, untuk cover, bisa memakai kain perca/sisa jika ada.
✔ kain kaos
Untuk kain kaos ini, wajib gunakan bahan yang lembut ya. Biasanya jenis cotton combed 30s. Karena bagian ini yang nantinya akan bersentuhan dengan organ kewanitaan. Tapi nggak harus baru juga lho, coba cek di lemari barangkali ada kaos-kaos yang sudah tidak dipakai lagi. Yang penting lembut dan adem.

2. Bahan untuk FILLING / isian, bisa menggunakan handuk, kain kaos atau microfiber.

Bagian filling ini berfungsi sebagai penyerap dan penampung utama cairan menstruasi. Ketebalan filling bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan.

Dari yang pernah saya coba, bahan microfiber lebih nyaman digunakan sebagai filling karena ringan, daya serap lebih banyak dan empuk.

3. Bahan lainnya

✔ kancing ceplik plastik, harganya 5000 selusin, jika tidak ada bisa kita ganti dengan velcro
✔ benang + jarum jahit
✔ jarum pentul
✔ pensil jahit
✔ mesin jahit jika ada, jika tidak bisa koq kita jahit tangan

Cara membuat pembalut cuci ulang
Alat dan bahan membuat pembalut kain
4. Pola

Ada 3 jenis pola OUTER yaitu
✔ panty liner 'manta ray' atau model ikan pari ( lihat gambar)
✔ reguler pad (lihat gambar)
✔ night pad, polanya sama dengan reguler pad tetapi dibuat lebih panjang dibagian belakang. Panjangnya senyamannya kita aja. Kalau saya, biasanya memakai night pad dengan panjang 29 cm.

Pola outer manta ray

Pola outer reguler pad

Untuk pola FILLING, bisa dicontek modelnya seperti gambar berikut. Ukuran panjang dan lebarnya menyesuaikan ukuran outer ya..
Pola Filling

Nah, setelah alat dan bahan lengkap, yuk kita simak cara membuat pembalut cuci ulang. Saya akan membuat model panty liner manta ray/ikan pari.

Step 1
Gunting bahan outer sesuai pola

Copy dulu pola diatas bahan-bahan outer, bantu rekatkan dengan jarum pentul supaya tidak bergeser. Kemudian gunting sesuai polanya. Jangan lupa, lebihkan sekitar 1 cm untuk ruang jahitan.

Gambar pola diatas bahan outer

Tiga lapis bahan outer setelah digunting sesuai pola. 

Step 2
Gunting filling sesuai ukuran

Pastikan ukuran filling tidak melebihi outer. Setelah itu jahit filling dengan kain kaos. Fungsinya agar filling tidak bergeser ketika dipakai nantinya


Filling setelah dijahit (tampak atas)

Step 3
Mulai menjahit outer yang sudah dipasang filling

Susun outer dengan urutan dari bawah ke atas sebagai berikut

1. Kain katun dengan posisi bagian dalam diluar
2. Kain kaos dengan filling menghadap keatas
3. Tutup dengan kain poly

Kemudian jahit sekelilingnya ( di bagian batas gambar pola tadi ya..) menyerupai huruf U, sisakan 3-4 cm bagian atas terbuka ( tidak dijahit ). Kemudian balik melalui bagian yang terbuka, sehingga kita mendapatkan pembalut dengan susunan

1. Kain kaos sebagai lapisan paling atas
2. Filling
3. Kain poly/waterproof
4. Kain katun sudah menghadap keluar sebagai covernya.

Kemudian jahit bagian atas yang tadi sebagai jalan untuk membalik. Rapikan.

Penampakan setelah dibalik dan dijahit rapi sekelilingnya

Step 4
Pasang kancing ceplik

Pemasangan kancing harus jahit tangan


Setelah dipasang kancing
Dan .. Tadaaa..!! Pembalut kain sudah jadi. Jika tidak dipakai, bisa dilipat seperti ini. Lucu kan..?
Selanjutnya saya mencoba bereksperimen membuat  model lainya, yaitu reguler pad dan night pad. Pola tetap menggunakan pola yang saya dapat di lokakarya hanya saja  saya modifikasi sayapnya, jadi mirip sayap pesawat terbang. Hehhee.. Hasilnya jadi seperti ini.



Tips Menggunakan Pembalut Kain

Tak jarang masih ada respon menyangsikan kenyamanan pembalut kain. Sering diawal sudah membayangkan malesnya nyuci bekas mens sendiri. Memangnya kalau pakai pembalut sekali pakai nggak dicuci apa ya? Hehehe, tetap dicuci juga kan ..?

Bedanya cuma pada proses pengeringan. Jika pembalut sekali pakai habis cuci langsung dibuang, pembalut kain setelah dicuci, dijemur bisa dipakai lagi berulang kali.

Pertanyaan lainnya,bagaimana jika bepergian..? Apakah bisa menggunakan pembalut cuci ulang ? Kenapa tidak ?

Saya sempat bertanya kepada narsum lokakarya kebetulan dari Yogyakarta, dan mereka sedang mengadakan  kampanye kesehatan reproduksi wanita. Otomatis mereka banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan. Bagaimana menyiasati penggunaan pembalut kain dalam perjalanan ?

Menurut mb Mita, mereka tetap menggunakan pembalut kain ketika menghadapi periode menstruasi meskipun sedang dalam perjalanan. Lakukan pencucian singkat dulu jika waktu terbatas untuk membersihkan cairan mens pada pembalut, kemudian simpan atau letakkan pembalut kain pada kantong anti air atau wet bag. Lanjutkan pencucian jika sudah berada di tempat yang nyaman semisal hotel atau penginapan.

Oiya, untuk pencuciannya, biasanya saya  menggunakan sabun mandi. Kayaknya sih bisa lebih bersih dan minimal lebih lembut  dibanding deterjen. Teman-teman yang sudah mengamalkan ((mengamalkan)) gaya hidup go green biasanya punya alternatif pembersih yang ramah lingkungan. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa belajar go green lebih banyak lagi.

Berapa minimal stok pembalut kain yang sebaiknya dimiliki? Jika kondisi normal tidak dalam perjalanan, asumsi langsung cuci setelah pakai dan panas matahari cukup untuk menjemur, minimal 6 insyaAllah cukup. Terdiri dari 2 night pad, 3 reguler pad dan 1 panty liner ( thin pad ).

Jika kondisi musim.hujan atau dalam perjalanan sebaiknya dilebihkan ya. Untuk antisipasi jika pengeringannya lama..

Tips diatas berdasarkan pengalaman pribadi saya selama menggunakan pembalut kain cuci ulang. Jika teman-teman punya pengalaman dan tips ketika memakai pembalut cuci ulang, share yuk di kolom komentar.. ^^

Sumber tulisan :
-Lokakarya Membuat Pembalut Kain bersama SUBstitute Makerspace dan Needle n Bitch
-Zine Datang Bulan, yang dicetak dan dibagikan oleh Needle n Bitch