Sekali-kali pengen curhat di blog, boleh kan ?

Daripada dipendam dalam hati atau diobrolin kemana-mana malah jadi bahan gibah.. hehe.

( mudah-mudahan ditulis disini nggak termasuk gibah, ya.. Writing is healing, right? )

Buat saya, dipinang untuk mengisi workshop craft itu, sesuatu banget. Kadang sampai nggak mikirin fee segala macem. Niatnya murni pengen berbagi, walau ilmu masih cetek kek got perumahan yang sering bikin banjir ( ehh!). Bisa ketemu orang + orang yang antusias dengan craft itu bahagia rasanya.


Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu saya diminta mengisi acara di kegiatan arisan sebuah komunitas ibu-ibu. Senang dong saya.

Ternyata eh ternyata ngisi workshop craft di forum berbayar, dengan ngisi di arisan memang beda. Di workshop para peserta membayar sendiri-sendiri, jadi bisa dipastikan antusiasme peserta bakalan tinggi. Nggak mau dong, udah bayar tapi nggak dapet apa-apa.

Tetapi jika workshop craft hanya dijadikan pengisi acara di arisan yang notabene pesertanya nggak bayar, akan terasa banget bedanya. Alat bahan dan honor pemateri ( kalau ada :P) dibayarin duit kas biasanya. Dari 30 an orang yang datang di arisan, bisa dapat 5 peserta yang antusias memperhatikan sudah alhamdulillah. Tapi nggak asik banget kan, kita udah capek-capek nyiapin alat bahan sampai nggak tidur, cuma segelintir orang saja yang nyimak.

Kalau boleh milih sih, mendingan ngisi workshop berbayar meski pesertanya cuma 3, daripada disuruh ngisi di arisan yang pesertanya 30 atau 300 orang. ( hehe, emangnya ada arisan 300 orang ?)

Baca yuk : Workshop Clutch Satin

Daaann dari sedikit pengalaman saya mengisi workshop, beberapa hal yang bikin nggak nyaman diantaranya adalah..

Jreng.. Jreeeng...


1. Durasi Mepet

She : "Eh mbak, tapi nanti jangan lama-lama, sekitar setengah jam an aja, bisa ya?"

Me : "Hwaduh, lha bikin-bikin craft itu paling nggak dua jam, jeh ...!
Kalau mau cepet ya beli jadi aja" :P

Tapi dialog diatas hanya imajinasi saya saja. Saya orangnya baik hati dan tidak sombong nggak tegaan mau nylathu.

Akhirnya mencoba menawarkan win-win solution, gimana caranya supaya proses craft yang minimal 2 jam bisa dikepras jadi 30-45 menit saja. Bisa? Ya di bisa-bisa in! Akhirnya sebagian proses sudah saya kerjakan di rumah. Lembur pastinya, hehe..

Begitulah, dibela-belain segitunya. Eh ternyata...

2. Sedikit Yang Antusias

Nah, hal kedua yang bikin kapok adalah sedikit yang antusias. Beda ya dengan workshop berbayar yang saya ceritain diatas. Peserta sedikit tapi full antusiasm, feel nya beda dengan forum ramai tapi yang merhatiin cuma segelintir orang. Yang lainnya, pada ngerumpi sambil makan.

( Aku yo podo luwene, rek! wkwkkw...)


3. Acara Ditutup Sebelum Workshop Dimulai

Aneh tapi nyata.
Emang ada ??? Adaaaa..

Entah salah koordinasi antara panitia dengan MC atau gimana, saya nggak paham. Tetiba pas di acara mbak MC bilang, ada isian acara craft, tetapi acara kami tutup dulu. Masih ditambah lagi, hadirin dipersilakan makan siang. Hemm..


 Otomatis pesertanya ambyar, gaes... Hehe..

Disitu rasanya saya gimanaa,gitu. Sudah nyiapin printilan craft yang jumlahnya nggak sedikit, bawa alat dan bahan.. hemm.. lelah hayati digituin bang..., hahahaa...

4. Pengurangan Jumlah Alat Bahan Dadakan

Ini yang bikin speechless lagi. Di awal minta 10 paket, mendekati hari H menysut jadi 2 saja. Padahal bahan craft sudah dibeli sejumlah permintaan awal. Bismillah, positive thinking aja, pasti kepakai.

 ( Dan alhamdulillah memang kepakai koq )

5. Pembayaran ( Jauuuh ) di Belakang Hari

Ini yang membedakan banget workshop dengan ngisi acara arisan.Workshop berbayar, bisa dipastikan peserta membayar HTM di depan. Kalau ngisi di arisan sudahlah nggak pakai harga workshop ( cuma ngganti bahan, sewa alat dan jasa sekedarnya ) bayarnya ( jauuuuh ) beberapa hari kemudian.


Sedih juga kalau diingat-ingat.

Memang harus diniati  lillahi ta'ala berbagi ilmu, supaya bisa ikhlas. Ini bukan mau gibahin siapa-siapa, hanya sekadar catatan buat saya agar tidak terulang lagi. Kata seorang motivator di sebuah seminar NLP yang pernah saya ikuti, harus bisa memaafkan, tapi jangan ijinkan hal yang tidak nyaman bagi kita terjadi lagi.

Bagaimana dengan kalian ? Pernah nggak punya pengalaman yang bikin kapok atau cegek kalau bahasa Suroboyoannya. Cerita-cerita yuuk, siapa tahu bisa meringankan perasaan hati :D