Sabtu, 15 Juli 2017

Minecraft, Game Edukatif atau Adiktif ?


Beberapa waktu yang lalu,game minecraft sempat populer dikalangan Icha dan teman-temannya. Awalnya saya pikir, minecraft adalah sebuah permainan berbasis 'craft' atau kerajinan tangan. Sudah senang aja nih, waktu anak-anak sibuk kesana kemari, pamit mau main minecraft bersama teman-temannya. Ternyata oh ternyata, sama sekali berbeda dengan bayangan saya.

Minecraft, sebenarnya bukan permainan baru. Versi pertamanya dirilis pada tahun 2011 oleh developer game Mojang dari Swedia. Dan pada tanggal 16 Agustus 2014, game ini dibeli oleh Microsoft. ( sumber wikipedia). Dalam dunia minecraft, pemain bisa merancang bangunan apa saja dari bentuk kubus bertekstur dalam tampilan animasi 3D. Kalau saya bilang, minecraft adalah lego versi virtual. Namun, apakah game ini memiliki sisi edukatif seperti permainan lego? Tidak. Walaupun nampak mengasah kreatifitas seperti permainan lego, minecraft sama saja dengan permainan gadget lainnya yang bisa menimbulkan kecanduan/adiktif. 
gambar milik shop.lego.com
Lego 'asli' merupakan permainan edukatif yang cukup lengkap. Bisa dimainkan berbagai tahapan usia, karena mencakup banyak aspek perkembangan anak. Melalui bentuk dan warnanya yang beraneka ragam, anak-anak belajar mengenal bentuk dan warna. Pada saat menyusun, anak belajar koordinasi mata dengan tangan. Sedangkan aktivitas mengenggam dan membuka pasang lego merupakan latihan motorik halus. Selain itu, pemilihan warna dan rancang bangun merupakan latihan menumbuhkan jiwa seni pada anak.

Berbeda dengan minecraft, permainan ini tidak sekreatif yang dikira oleh kebanyakan orangtua. Penelitian pakar psikolog Jun Lee dan Robert Pasin untuk majalah Quartz, menyebutkan anak-anak yang diteliti mengatakan merasa gelisah dan kesal setelah bermain. Seperti dihadapkan pada keharusan menyelesaikan bangunan tanpa akhir. ( sumber www.bbc.com )

Oleh karena itu, orangtua perlu membantu anak-anak 'menikmati' minecraft dengan cara menjadi gamer yang sehat, yaitu bermain dengan waktu yang wajar. Dan tetap seimbang antara aktivitas di dunia virtual dengan aktivitas didunia nyata seperti bermain bersama teman, memancing, bersepeda dan lain-lain.


2 komentar:

  1. Anakku juga suka banget ini mba.. Iya, sisi nyandunya kayaknya mmng lebih banyak, soalnya klo dah pegang hp..susah bnget diberhentiin.
    Aku selalu batasi mb.. Klo udah nge game, anak2 cenderung mls ngapa-ngapain

    BalasHapus
  2. betul mbak.. ini qadarullah,lg liburan pas seneng2nya maen minecraft tabletnya error nggak bisa di recharge batere, hwaa awalnya pada sewot anak2, tp alhamdulillah lama2 bisa beralih ke aktivitas lainnya.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca, yuk tinggalkan jejak dengan komentar yang santun