Setiap mengajak Faisya mengikuti lomba, pasti saya 'briefing' sebelumnya, bahwa dalam lomba nantinya nggak semua akan menang. Ada juga yang kalah dan artinya yang kalah ini nggak dapat piala. Berangkatnya sih iya-iya. Pada prakteknya selesai lomba ada saja drama mewek-mewek minta piala.

resiliensi
Untung bisa dirayu dengan membuat piala dari kertas, gitu aja sudah bahagia 

Kondisi seperti ini memang sering terjadi di usia dini. Ketika anak-anak belum paham bagaimana menerima kegagalan. Beberapa orangtua malah mengusulkan ke sekolah agar semua peserta mendapatkan piala sebagai hadiah hiburan. Lebih ekstrim lagi, ada yang nekat mengambil jalan pintas, pesan piala. Pokoknya menang nggak menang si anak dapat piala. Gimana caranya lah asal anaknya nggak nangis. 

Pernah ada yang nyaranin ke saya begitu. "Belikan piala aja mbak, murah koq..! Timbang anaknya nangis.."

Buat saya, ini bukan sekadar tentang murah atau mahalnya harga sebuah piala. Mendingan anak nangis daripada memberikan piala yang dibeli. Saya ngobrol dengan kepala sekolah TK nya Faisya tentang usulan Mama-mama mengenai pengadaan piala untuk semua murid. Kata beliau piala akan diberikan hanya untuk yang menang saja. Bagaimanapun anak-anak juga harus berlatih berkompetisi dan menerima jika mengalami kegagalan. Saya setuju banget dengan pendapat beliau.

Mental untuk bangkit ketika menemui kegagalan ini sangat penting ditumbuhkan,dimana anak juga harus belajar kecewa ketika menemui kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena tidak selamanya anak akan dihadapkan dalam kondisi yang nyaman. Diakui atau tidak, kondisi saat ini dunia bergerak super cepat dan sangat kompetitif. Kemampuan akademis saja tidak cukup, anak harus diasah agar memiliki ketangguhan. Inilah yang dinamakan karakter resilient.


Akhirnya, dapat piala juga! kalau ini asli, bukan dari kertas

Lebih banyak tentang menumbuhkan karakter resilient, saya kemarin belajar banyak di acara Nutriclub. Menurut Ibu Nadya Pramesrani, M. Psi, Psikolog Keluarga dari Rumah Dandelion yang hadir pada acara tersebut, masa usia dini adalah waktu yang tepat dalam memahami dan mengembangkan resiliensi. Salah satu caranya adalah dengan  melalui pengalaman yang bermakna atau purposeful exposure

Dari kiri ke kanan Ibu Vega Gupta, MC, Mbak Nadia Mulya dan Mbak Nadya Pramesrani
Nah, ngomong-ngomong tentang purposeful exposure kemarin saya juga sempat mampir ke booth Royal Lounge di Pakuwon Mall Surabaya. Booth yang disponsori oleh Nutriclub ini berisikan wahana-wahana yang sarat dengan kegiatan bermakna bagi si kecil. Yang pertama saya lihat, ada lantai digital yang bisa mengajak anak untuk berinteraksi menyelesaikan tantangan yang diberikan. Misalnya, harus menghadapi "ulat-ulat" dengan cara meloncat dan menginjaknya. Wah, kebayang kan.. anak-anak pasti seneng boleh loncat-loncatan. Setelah "ulat-ulat" berhasil dikalahkan, anak-anak "memanen" buah apel.

 Nggak cuma sampai disitu, masih ada tantangan melewati "buaya" di "sungai". Jika ada step yang gagal, konsekuensinya harus mengulang permainan dari awal. Disini anak-anak nggak cuma hore-hore tetapi ada tujuan agar anak-anak berani menghadapi tantangan dan juga memiliki mental yang tangguh untuk bangkit jika menemui kegagalan. 

"..ayo Dek, kita basmi ulatnya...!" kata Kakak di booth Royal Lounge

Tidak hanya wahana untuk anak, para Mama juga bisa berkonsultasi dengan psikolog-psikolog yang dihadirkan di Royal Lounge. Kemarin saya ngobrol-ngobrol dengan mbak Binky, dari Rumah Dandelion. Meskipun Faisya sudah bukan balita lagi, tapi ternyata namanya belajar tuh nggak ada selesainya. Banyak hal yang musti masih saya biasakan lagi ke anak-anak untuk mengasah karakter resiliensinya.  Sebab, saya percaya resiliensi ini bukan bawaan lahir tetapi harus ditumbuhkan. Kita sebagai orang tua wajib banget paham bagaimana menumbuhkannya.

Ngobrol santai dengan mba Binky, Psikolog dari Rumah Dandelion

Kita bisa melakukan tes resiliensi melaluui monitor ini

Selain konsultasi dengan psikolog, disediakan juga tools untuk mengetahui seberapa kuat resiliensi si kecil kita. Mama tinggal mengisi data nama dan usia anak, kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di layar. Nanti akan muncul hasil seberapa resilient si kecil kita.

Apakah resiliensi hanya bisa dideteksi melalui tes ? Tentu tidak, dengan mengamati keseharian anak kita juga dapat mengukur seberapa resilient si kecil kita. Ada 5 ciri yang bisa kita jadikan patokan dalam menilai seberapa kuat resiliensi pada si kecil kita.

  1. Adaptif, yaitu kemampuan untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang cepat
  2. Berani, yaitu keberanian anak dalam mencoba dan menghadapi hal baru, juga tantangan-tantangan baru dan mengalahkan rasa takut.
  3. Mandiri, anak bisa mengandalkan diri sendiri dalam mengambil keputusan.
  4. Gigih, anak tak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
  5. Banyak Akal, mampu mencari solusi saat menghadapi tantangan.

Resiliensi Bukan Faktor Bawaan, Melainkan Ditumbuhkan


Pernah nggak kita -entah sengaja atau tidak- mempermudah tantangan dalam proses belajar anak? Misalnya nih, karena nggak sabar lihat anak kelamaan memasang tali sepatu, buru-buru kita ambil alih. Membantunya memakai kaos kaki, hanya supaya cepat selesai padahal sebenarnya si kecil bisa melakukannya sendiri. Atau menyuapinya karena nggak sabar melihat nasi berceceran..? Hayo, siapa pernah ? Sayaa dong..! ( Ngaku )

Faisya belajar mengikat tali sepatu, luwaamaa, gemes pengen bantuin sebenarnya
Hal-hal yang sepertinya remeh temeh seperti contoh-contoh diatas, merupakan proses anak dalam mengasah resiliensinya. Jadi sebaiknya berikan kepercayaan kepada si kecil untuk melakukannya. Karena peran orang tua sebagai orang terdekat untuk mendukung pembentukan karakter resilient sejak dini sangat diperlukan.

Kegiatan lain yang dapat memberikan tantangan bersifat purposeful exposure, misalnya travelling, outbond dan simple family project.

- Kegiatan travelling akan memberikan tantangan bagaimana beradaptasi dengan kondisi di luar rutinitas sehari-hari.

- Kegiatan outbond, menuntut anak bergerak aktif di luar ruangan sehingga dapat mencoba beragam aktivitas baru.

- Simple Family Project, memberikan tantangan kepada anak untuk bekerja sama sesuai tugasnya. Misalnya, membuat rumah-rumahan kardus, berikan tugas sesuai kemampuan anak dan bimbing mereka melaksanakan tugasnya hingga tuntas.

Tantangan dalam aktivitas purposeful exposure ini juga bermaksud agar anak mengetahui batas kemampuan dirinya dan apa yang dia miliki untuk menghadapi masalah.

 Jika hal ini konsisten dilakukan anak akan terbiasa menghadapi tantangan dan ketidakpastian sehingga terbiasa akan fokus pada cara penyelesaian masalah yang paling efektif.


Resiliensi Akan Menambah Percaya Diri


Ketika resiliensi anak sudah terasah dengan baik, rasanya kita nggak khawatir lagi dimanapun si kecil berada. Karena pastinya, dia akan mampu menghadapi tantangan baik di masa sekarang maupun tantangan di masa depan. Jika dulu Faisya mewek setiap lomba kalau nggak dapat piala, sekarang sudah lebih percaya diri, seperti ketika mengikuti kompetisi matematika ini. Meskipun tahun lalu belum berhasil maju ke babak semi final, tahun ini masih semangat untuk mencoba lagi. 

meski pernah gagal di lomba sebelumnya, tetap semangat daan PD aja lagi ! he he..

Buat teman-teman yang kemarin belum sempat datang ke booth Royal Lounge, jangan khawatir karena semua informasi dan pembelajaran yang ada di Royal Lounge juga diinformasikan secara detail di website resmi  Nutriclub

Di website ini, selain full dengan informasi bergizi seputar dunia parenting dan kesehatan anak,  kita juga bisa mengakses tes-tes berikut ini
  • Tes Resiliensi untuk melihat seberapa tangguh si kecil, 
  • Baby Cost Calculator untuk menghitung perencanaan kebutuhan si kecil 
  • Alergi Expert untuk deteksi resiko alergi si kecil sejak dini. 
Semua tes diatas dapat dengan mudah kita akses melalui website. Nutriclub berharap informasi dan fitur yang disajikan pada website dapat diakses lebih banyak orang tua di Indonesia, sehingga dapat bersama-sama mendukung si kecil untuk resilient baik secara mental maupun fisik dan lebih terarah dalam mencapai kesuksesan di masa depan.

Nah, setelah ada gambaran tentang karakter resilient, kira-kira tips apa yang akan teman-teman lakukan untuk mengasah karakter tersebut pada si kecil? Sharing, yuk...