Selasa, 06 November 2012

sedekah ooh sedekah...

Sore hari yang seperti biasa. tak ada yang istimewa.  Melintas seorang bapak tua, menjajakan dagangannya.  "arit bendo... arit bendo... "
Langkah nya agak terpincang-pincang, membuat siapa pun yang melihatnya pasti iba. Hanya saja barang dagangannya nggak terlalu berguna. Arit ( sabit ) dan bendo ( pisau besar ) di perumahan seperti ini, khususnya untuk ibu-ibu seperti kami, sangat jarang yang menggunakan. Kalau saja pisau dapur yang dijajakan, mungkin saya dan beberapa ibu tetangga mau melihat-lihat barang sebentar.
Perlahan pak Tua makin menjauh. tanpa terlihat satupun orang membeli dagangannya. Iba hati saya, ingin sedekah barang sedikit. Saya putuskan untuk mengejarnya. Segera saya samber dompet dan kunci sepeda motor, segera meluncur ke arah si Bapak berlalu. Gotchaa..! Saya berhasil mengejarnya di lapangan fasum RW. Supaya terlihat ngga sengaja mengejarnya, saya parkirkan sepeda motor di depan sebuah toko kelontong depan lapangan. Sambil membeli beberapa keperluan. Ketika si Bapak lewat saya segera memanggilnya.
"Pak..."
"Arit bu..."
"Berapa harga nya?"
"75.000"
Mampus lah awak ! Isi dompet ini nggak sampai 75.000 !!!
Saya kira harga nya di kisaran 20-30 ribuan.
"Nawar berapa  ??" suara si Bapak sudah mulai tinggi. Ekspresi wajahnya yang sudah tidak lagi menunjukkan keramahan membuat nyali saya ciut.
"Mmm... enggak dulu deh Pak..."
"Nawar berapa ??!! Rumah sampeyan dimana ??!!"
Hiyaaa,... makin ciut nyali saya.
"Enggak dulu pak.. maaf"
Akhirnya pak Tua itu berlalu sambil mengucapkan kata-kata yang tidak saya mengerti. Mungkin bahasa daerah dia.
Pffuuuh... lega hati saya melihat pak Tua semakin menjauh. Masih sedikit gemetar saya pamit kepada ibu pemilik toko kelontong yang ikut menyaksikan peristiwa tadi.
Deg-degan, malu dan takut campuraduk jadi satu. Niat hati ingin sedekah apa daya tangan tak sampai. Kalau tak mampu berbuat, berdoa saja lah, semoga dagangan arit bendo pak Tua tadi laris dan dia bisa membawa pulang rizki yang berkah untuk keluarga nya. Aamiin :)

3 komentar:

  1. mungkin pak tua itu belum makan mbak, jadi emosi. tapi kita ga boleh ikut emosi. boleh jd jg gaya bicaranya gt.. jd kita aja yg buruk sangka ^^. oot, pelajaran dari pertigaan ponolawen pulang kerja kemaren, penari jathilan a.k.a kuda lumping di prapatan itu kok bisa senyum terus padahal kepanasan, kok bs santai ga malu padahal pakai kostum "aneh" gitu dan muka dicoret2. Kembali lagi kita harus lbh bisa tersenyum dr penari itu. senyum lebih lebar, dengan mata begini ^^ hehe. dia aja bisa, masa kita enggak :D

    BalasHapus
  2. mbak.. jamnya mbok dibenerin.. hehe pake waktu indonesia :D

    BalasHapus
  3. Ngga emosi kok... cuma ndredeg...
    Jamnya mbok tolong dibenerin.... *nodongbalik*

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca, yuk tinggalkan jejak dengan komentar yang santun