Selasa, 21 September 2010

my luvly icha

September 21, 2010 0 Comments
Nekad, blogging di jam krj di hari senin.. ‎​​​ƍii...:Dƍii...:D ƍii...:p
Habisnya sumpek, krjaan bejibun, ampe bingung mana yg musti di duluin.mo kangen2an sama nca aja ah..
Blm lama ini aku lihat status fb nya temenku.n dia pasang capture screen sms dari maminya yang lagi diluar kota, bunyinya gini : jeng, lagi apa? Mami kangen banget sama jeng.. Disini mami lihat teenager jalan2, mereka foto2an pake hp. Mami inget sama jeng..
Swiing.. Merinding baca nya..
Bisa semesra itu ya.. Pastinya kita semua sayang ibu kita,absolutely, no doubt !
Cuma cara penyampaiannya yang beda2.saya saja, kalo kangen emak, paling2 cuma nelpon : pa kabar ma? Sehat2 semua.. Bapak sehat.. ? Udah! Bener2 ngga pinter mengungkapkan perasaan yah.
Dari status teman saya itu, langsung berandai-andai, 20 tahun lagi, apa bisa ya, saya menciptakan hubungan yang semanis itu dengan icha. Pasti bisa!dimulai dari sekarang.. Belajar mengungkapkan isi hati kepada orang2 yang kita sayangi dengan setulus-tulusnya.
Bahkan belajar dari icha(2,5th saat ini) yang sering tiba2 memeluk saya dari belakang dan menyanyi meskipun dengan cadel nya :
I yov yu, yu yov me, we best fen ä fen sud be,wit ä gid big hat n tis fo me tuyu,won u say u yov me too... Diakhiri dengan ciuman..
Biar Ъќ bingung, ini nih syair yang asli:
I love you,you love me
We best friend like friend should be
With ä great big hug and kiss for me to you
Want you say you love me to...
Eemmuuuaahhh.. Miss u dear

Sabtu, 31 Juli 2010

Pilih Anak Pintar atau Anak Baik?

Juli 31, 2010 0 Comments
Bila diminta memilih, apakah ingin memiliki anak yang pintar atau yang baik, tentu Anda akan memilih dua-duanya. Pintar, dalam arti menguasai pelajaran di sekolah atau ketrampilan tertentu dengan baik. Sedangkan baik, bisa dimaknai sebagai karakter yang positif, seperti sifat yang sopan, tidak mudah putus asa, jujur, rendah hati, teguh dalam mewujudkan impian, dan lain sebagainya.
Namun, seringkali yang terjadi anak hanya memiliki salah satu ciri tersebut. Tak sedikit orangtua yang lebih mementingkan anak menjadi pintar, dan menomorduakan karakter yang positif. Mengapa karakter yang positif perlu dimiliki, tak lain karena dasar-dasar karakter yang positif ini yang akan membuatnya mampu bersosialisasi dengan baik dengan lingkungan sekitarnya.
Karakter positif yang dimiliki seorang individu memiliki energi positif yang pengaruhnya akan mampu menyebar ke lingkungan sekitar, dan menarik terbangunnya karakter positif pula bagi individu-individu yang lain. Terbangunnya karakter positif ini jelas merupakan proses yang panjang. Orangtua tidak bisa membebankan pembangunan karakter ini pada sekolah saja. Character building terutama harus diupayakan melalui suatu pola asuh yang tepat dari orangtua.
Sayangnya, kesibukan orangtua masa kini kerap membuat mereka "lupa" menjalankan tugas untuk membentuk anak dengan karakter positif. "Contohnya, kalau anak banyak nanya, orangtua langsung bilang, 'Bandel kamu!' Itu kan bukan bandel, anak hanya bersikap kreatif," kata Kak Seto, saat seminar "Membentuk Anak Berkarakter Positif dengan Pola Asuh Tepat", dalam Smart Parents Conference 2010 di Jakarta Convention Center, Sabtu (31/7/2010).
Saat kelelahan, wajar bila orangtua jadi cepat marah. Tetapi, tidak pada tempatnya bila kemarahan ini ditumpahkan pada anak. Sebab, kekerasan -meskipun  hanya dalam bentuk verbal- akan merusak karakter positif anak.
Ketika anak sedang malas belajar, misalnya, orangtua tak perlu lantas menjadi panik berkepanjangan. Bagaimanapun juga, belajar adalah hak anak, bukan kewajiban. Menurut Kak Seto, hak bermain anak pun harus dipenuhi. Selain itu, jangan membanding-bandingkan anak dengan anak lain, entah itu dengan kakak-adiknya, atau dengan teman-temannya.
"Setiap anak itu unik, jadi tidak bisa dibandingkan dengan orang lain. Lebih baik, bandingkan dengan dirinya sendiri. Misalnya, 'Ayo, kan kemarin bisa, sekarang juga pasti bisa!'" tutur Chairman Mutiara Indonesia Foundation ini. Buat suasana belajar yang menyenangkan, agar anak senang belajar.
Banyak cara yang bisa dilakukan orangtua untuk menciptakan suasana mendidik yang menyenangkan bagi anak. Kak Seto menyarankan orangtua untuk bersikap lebih kreatif dalam mendidik anak. Metode pembentukan karakter, menurutnya, bisa muncul dalam bentuk apa saja: hiburan, permainan, pikiran yang positif, sulap, dan lain sebagainya.
Sifat kreatif juga bisa dipelajari. Saat seminar, Kak Seto membuat permainan mencipta lagu. Ia menuliskan empat baris kalimat, lalu menyanyikan dua baris pertama dengan nada yang diciptakannya sendiri. Ketika peserta seminar diminta melanjutkan dua baris kalimat terakhir dengan nada yang juga diciptakan sendiri, ternyata semua peserta bisa melakukannya. Artinya, semua orang ternyata bisa kreatif!

*dicomot dari kompas

Follow Us @soratemplates