Selasa, 13 Februari 2018

Cerdas Finansial #10 Be An Entrepreneur Kids

Februari 13, 2018 2 Comments

Menanamkan jiwa entrepreneur sejak kecil, merupakan salah satu stimulus cerdas finansial pada anak. Hal ini juga merupakan misi saya. Terlebih, karena anak-anak saya semua perempuan, saya mencoba mengenalkan mereka dengan aktivitas-aktivitas bisnis yang bisa dilakukan dari rumah. Salah satunya dengan berwirausaha.

Yang kami lakukan, adalah membuat kerajinan-kerajinan sederhana seperti gantungan kunci atau gelang. Berkat media sosial instagram, alhamdulillah produk kami bisa dengan cepat terpromosikan ke teman-teman kakak Icha. Maklumlah, kids zaman now ini mayoritas sudah punya instagram.

Kakak Icha mencatat setiap pesanan yg masuk. Sepulang sekolah, kami bersama-sama membuatnya. Walaupun tidak sulit, tapi butub ketelatenan jg. Oiya selain dijual langsung ke teman-temannya, Icha juga saya ajari sistem konsinyasi atau titipan. Belajar nembusi ke pihak warung sekolah untuk menitipkan jualan, alhamdulillah diijinkan. Dengan pembagian keuntungan 10% dari harga jual untuk warung sekolah. Sebagai bonus atas usahanya, saya juga memberikan komisi untuk kakak Icha, biar makin semangat jualan..

Project pertama, dari 13 gantungan kunci flanel yang dititipkan ke warlah, 11 terjual. Alhamdulillah..

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial

Minggu, 11 Februari 2018

Cerdas Finansial Day#9 Butuh, Ingin atau Manfaat?

Februari 11, 2018 0 Comments
Sabtu ini, kami jalan-jalan ke toko Gading Murni yang berada di Jalan A. Yani Surabaya. Momen ini sekaligus saya manfaatkan untuk mengaplikasikan ilmu cerdas finansial pada anak-anak.

Seperti yang sudah saya duga, duo bocil ini nampak "kalap" melihat beraneka alat tulis yang lucu-lucu.  Tapi mereka tahu, bahwa mamanya akan berubah menjadi momzilla jika mereka belanja membabi buta. Anak-anak insyaa Allah sudah paham, bahwa yang boleh dibeli adalah barang yang mereka butuhkan. 

Awalnya, Faisya mengambil semua barang yang diinginkannya. Dimasukkan ke dalam troli. Kemudian barang-barang tersebut disortir lagi sesuai urutan tingkat keinginannya. Satu persatu barang yang sudah tidak diinginkannya dikembalikan ke tempat semula. Dan akhirnya tersisa satu set balon (isi 5 buah) dengan stiknya, dan 'salju' dari prithilan gabus/foam yang diwarna. Ini biasanya dipakai pada souvenir pernikahan. Sebelum ke kasir saya mengecek dulu barang bawaan mereka.

Terjadilah dialog singkat nan menggemaskan ini.

Saya : Adek, ini untuk apa dibeli ?
Faisya : Aku butuh ini
Saya : Manfaatnya untuk apa ?
Faisya : Balon bermanfaat untuk menyenangkan hati anak-anak
Saya : Hmmm.. Begitu ya...
Ha ha.. Speechless deh!
Faisya : Menurut Mama balon tidak bermanfaat ?
Saya : he - eh (mengangguk)
Faisya : Itu karena Mama sudah dewasa..
Walaupun lucu, kata-kata Faisya sedikit menyentil. Ya, seringkali kita (atau saya) melihat sesuatu dengan ukuran orang dewasa.

Di belanjaan kakak Icha ada sticky notes, loose leaf refill, kertas origami bermotif dan beberapa alat tulis lucu lainnya.


#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial

Jumat, 09 Februari 2018

Cerdas Finansial #8 Gemar Berinfaq

Februari 09, 2018 0 Comments

Kalau saya berfikir, anak-anak pada fitrahnya adalah pribadi yang dermawan, pola asuh dan pembelajaran dari orangtua yang kadang secara tidak sengaja membentuk anak menjadi kikir atau pelit. Khususnya dalam pemakaian uang. Saya pernah sedikit memarahi Faisya ketika bagi-bagi angpau ke temannya. Enak ae, duit dibagi-bagi.. Haha.. Ini sih pemikiran emak-emak ya, jangan dicontoh. Entah apa yang ada di pikiran Faisya waktu itu, sehingga berbagi "amplop" dengan teman-temannya. Untungnya saya sadar, dan saya netralkan dengan pemahaman bahwa teman-temannya juga sudah dapat angpau dari orangtua atau saudara-saudaranya, jadi tidak perlu dia beri lagi. Lagipula, jika memberi uang ke teman bisa-bisa mamanya teman marah, karena temannya bisa jajan tanpa seijin mamanya.

Tapi lain halnya jika berbagi uang untuk berinfaq. Kegemaran ini yang justru perlu kita pupuk sedari kecil. Untuk membentuk pribadi-pribadi yang dermawan.
Alhamdulillah dari sekolahpun selalu memotivasi agar anak-anak selalu rajin berinfaq. Jadi kami para orangtua tinggal mendukung saja, sambil selalu mengingatkan anak-anak agar menjaga amanah. Jika diberi uang untuk infaq, tidak boleh dipakai untuk jajan. Alhamdulillah, sejauh ini lancar.

Faisya rutin setiap hari membawa uang infaq walaupun hanya 1000 atau 2000 rupiah per hari nya. Syukur-syukur ada kelebihan rizki bisa lebih. Kakak Icha, biasanya hanya membawa uang infaq di hari Jumat, besarannya saya usahakan minimal tidak kurang dari uang saku hariannya. Saya mencoba menanamkan ke anak-anak, bahwa uang infaq tidaklah harus berupa receh-receh atau dari 'sisa-sisa' uang jajan, tetapi sangat baik dipersiapkan tersendiri. Jumlah besarpun boleh, asalkan sesuai kemampuan.

Iseng-iseng, mencoba ngetes sejauh mana pemahaman Faisya tentang infaq.

Saya : Untuk apa kita infaq ?
Faisya : Biar dapat pahala..
Saya : Eh, pahala itu apaan siih?
Si kakaknya bisikin, paha dan kepala.. Ayam guriiing...
Saya : ish ish ish.... Tak betul tu..

Hahaha, seringkali bahasa kami sehari-hari terkontaminasi dengan dialek upin ipin. Lupakan.

Gemar berinfaq, juga merupakan salah satu stimulus mendidik anak cerdas finansial sejak dini. Agar anak-anak senantiasa paham bahwa dalam harta yang kita miliki, juga ada hak orang lain. Dan apa yang kita infaq kan tidaklah hilang, melainkan sebagai tabungan kita kelak untuk bisa ke surga. In syaa Allah..

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial

Kamis, 08 Februari 2018

Cerdas Finansial #7 Yuk Menabung!

Februari 08, 2018 0 Comments

Konsep menabung, sudah sejak dini saya kenalkan kepada anak-anak. Bagaimana dengan kemampuan yang terbatas, kita bisa memenuhi keinginan yang tidak terbatas, caranya yaitu dengan menabung.

"Mama, hari ini uang jajan mainanku 5000 boleh?"
"Lho, kok 5000 ?"
"Iya, karena aku ingin beli lego di Paklek.."
"Mmm.. Kalau begitu, uang jajan mainan hari ini Adek simpan dl, digabung dengan uang mainan besok lusa,  dan kalau adek pintar menabung akan mama tambah 1000. Jadi deh 5000 .. kan kan kan?" kata saya sambil kedip-kedip mata.
"Hmm.. Hari ini 2000, besok 2000..." Faisya bicara sendiri sambil menghitung jari-jarinya.
"Eh, bukan besok, tapi lusa.." potong saya.
"Kenapa besok lusa?"
"Iya, karena kalau hari ini Adek bawa uang jajan mainan, berarti besok beli mainannya libur kan ?"

Ini ya, walau sudah dipahamkan namun negosiasi alot seperti ini masih kerapkali terjadi. Bukan sekali deal kemudian lancar jaya. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Makanya, di materi 8 ini kami dikenalkan dengan 'mantra' berikut:

Latih - percayai - jalani - supervisi - latih lagi

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial

Rabu, 07 Februari 2018

Cerdas Finansial #6 Raih Mimpi Setinggi Langit

Februari 07, 2018 0 Comments
Weekend kemarin, kami melintas di salah satu ruas jalan di Surabaya. Sepanjang jalan, saya melihat spanduk event Canada EduFair. Kalau tidak salah, event tersebut adalah ajang bagi yang ingin mencari informasi belajar di Canada. Melihat spanduk tersebut, saya teringat mimpinya Icha. Anak mbarep ini sejak kecil bercita-cita ingin kuliah di Canada. Kenapa Canada ? Mungkin karena orang asing yang pertama kali dia kenal berasal dari Canada. Yaitu Sheri Gibbings, sahabat saya. Ketika saya memberi tahu Sheri tentang ini, Sheri berkata dengan semangat.

"Ya, Icha harus ke Toronto untuk university"

Sejujurnya pernah saya berada di posisi pesimis impian ini bisa tercapai. Mengingat satu dan lain hal, salah satunya tentang kadar rezeki kami saat ini. Tapi pada perkuliahan Bunsay IIP kali ini, saya "tertampar" dengan materi ke 8 Cerdas Finansial.

"Jangan batasi mimpi anak dengan kadar rezeki orangtuanya saat ini. Karena sejatinya, anak adalah milik DIA Yang Maha Kaya. Bukan milik kita''

Ya Allah, Ya Ghaniyyu...


#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial

Selasa, 06 Februari 2018

Cerdas Finansial #5 Kado Untuk Sahabat

Februari 06, 2018 0 Comments

"Mama, bulan depan sahabatku ulang tahun.." kata kakak Icha (9 tahun 10 bulan)
"Trus...??" si Mama ini pura-pura nggak tahu
"Pengen belikan kado, dia pengen buku ini..." Icha menyebut sebuah judul
"Harganya ?" sergah saya.
"Mmm... Harganya sekitar 50-60ribu, di tokopedia"
"Boleh, tapi nabung dl ya.. Sisihkan uang jajanmu.. atau..."
"Atau apa Ma?"
"Atau, ajak beberapa teman yang lain, untuk belikan kado sama-sama. Bagaimana ?"
"Oke, coba besok aku ajak teman-teman yang lain"
Esoknya, Icha nampak sibuk melakukan pencatatan. Siapa saja yang ikut iuran dan uang yang sudah terkumpul. Saya mengamati sambil berpesan, lakukan pencatatan dengan teliti jangan sampai tercampur dengan uang jajan karena ini adalah amanah. Icha memisahkan uang iuran beserta catatannya ke dalam dompet khusus.
Dalam hal ini, Icha berlatih mengkoordinir pembayaran dari teman-temannnya dan mengelola catatan keuangan secara tertib.
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial

Sabtu, 03 Februari 2018

Cerdas Finansial #3 Boleh Beli Mainan, Asal...

Februari 03, 2018 2 Comments

Keberadaan Paklek penjual mainan di parkiran masjid saat ngaji di TPQ, menjadi penyemangat tersendiri bagi anak-anak. Kami para orangtua, mengistilahkan "pajak" karena setiap ngaji selalu kena wajib "pajak" dua ribu rupiah untuk membeli mainan di paklek. Tidak terlalu mahal memang, tapi jika dalam seminggu 5 hari mengaji sehingga 5x membeli mainan, lama-lama rongsokan mainan itu "nyusuh" di pojokan rumah. Selain itu, menurut saya,  membeli mainan setiap hari, berapapun itu harganya, kurang tepat untuk dibiasakan.

Sudah beberapa bulan terakhir ini, Faisya setuju untuk menerapkan sistem selang-seling beli mainan. Hari ini, boleh beli mainan di Paklek, besok tidak beli. Demikian seterusnya. Saya bersyukur Faisya mau kooperatif melaksanakan aturan yang kami sepakati bersama.
Belum banyak anak lain yang bisa seperti itu saya rasa. Beberapa kali masih terlihat sesi drama dari beberapa anak yang merengek bahkan menangis meminta beli mainan di Paklek.

Sambil menunggu di pelataran parkir, saya menguping percakapan Faisya dan temannya sekeluarnya mereka dari masjid.

Teman : Ayo kita beli mainan dulu..
Faisya : Aku nggak beli
Teman : Kenapa ?
Faisya : Nggak apa-apa, karena kemarin aku sudah beli. Besok baru boleh beli lagi.
Teman : Oh gitu..
Faisya : Iya.. Aku pulang dulu yaa.. Daah..

Alhamdulillah no crying no drama, aman dompet mamak. Hehee...
Sekali lagi saya sangat bersyukur diberikan kemudahan dalam mendidik anak-anak.

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari #CerdasFinansial