Senin, 25 Desember 2017

Ujungnegoro, Pesona Wisata Pantai Utara

Desember 25, 2017 0 Comments

Kota Batang - Jawa Tengah, semakin berkibar dengan banyaknya spot yang populer di dunia maya. Istilah kekiniannya, instagramable. Dan salah satu spot yang instagramable ini ada tak jauh dari rumah orangtua saya, yaitu Pantai Ujungnegoro. Makanya setiap pulang kampung selalu saya sempatkan berkunjung ke pantai Ujungnegoro. Sekedar menikmati udara pantai yang sejuk, bisa jadi alternatif wisata yang murah meriah namun menyegarkan.

Lokasi Pantai Ujungnegoro cukup dekat dari rumah Bapak. Tepatnya di desa Ujungnegoro, kecamatan Kandeman, kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Perjalanan ke Pantai Ujungnegoro dari rumah Akungnya anak-anak ini sekitar 6 km atau ditempuh kurang lebih  20 menit perjalanan dengan mobil.  Akses jalan menuju lokasi sudah sangat bagus. Berbeda dengan beberapa dengan beberapa tahun silam, ketika saya SMP, sering bersepeda bersama teman-teman ke sana. Waktu itu jalanan masih berbatu dan penuh tanjakan turunan  Perekonomian masyarakat sekitar meningkat pesat dua tahun terakhir ini dengan adanya pembangunan PLTU Batang yang berlokasi di  desa yang sama, disusul dengan pembangunan jalur tol yang melewati daerah tersebut. Lahan penduduk yang termasuk di lokasi pembangunan PLTU dibeli dengan harga tinggi. Hal ini tentu saja menjadi ladang rezeki bagi penduduk setempat. Belum lagi dengan adanya kebutuhan tempat tinggal, pangan dan kebutuhan konsumtif lainnya dari para pekerja yang menetap sementara di lokasi tersebut, semakin menggairahkan perekonomian setempat. Bapak sempat cerita, tentang adanya ramalan dari para tetua  zaman dahulu, bahwa suatu saat nanti akan ada pasar yang sangat ramai di Ujungnegoro. Wallahu a’lam, faktanya di zaman now desa Ujungnegoro menjadi sangat ramai dengan adanya pembangunan PLTU dan jalan tol. Sepanjang jalan, saya melihat ada dua mesin ATM dari dua bank yang berbeda. Ini wow lho, karena box mesin ATM masih merupakan pemandangan yang langka di daerah saya.

Suasana pagi di pantai Ujungnegoro masih lengang


Tidak terasa sampai juga kami ke pantai. Tiket masuk ke Pantai sebesar  Rp. 5000,- / orang. Rombongan saya yang berisi 3 orang dewasa dan  4 anak-anak, hanya dikenai 4 tiket saja atau sebesar Rp 20.000,-  plus Rp. 3.000,- sebagai tarif parkir.  Kami tiba di pantai sekitar pukul 8.30 pagi. Suasana masih sepi, tapi sudah agak panas. Jika kami bisa berangkat lebih pagi mungkin bisa mendapatkan suasana pantai yang lebih sejuk. Aroma ikan asin cukup menyengat begitu kami memasuki area wisata. Selain lapak-lapak yang menjual makanan dan minuman ringan, memang ada beberapa lapak yang menjual ikan asin dan terasi. Pantas saja aroma nya menyengat. Tapi jangan khawatir, aroma ini lama-lama akan menghilang dengan sendirinya. Sementara anak-anak bermain di bibir pantai, saya melipir mencari tempat yang teduh untuk membuka bekal nasi megono. Wah, sarapan nasi megono di pantai.. nikmatnya..



Di wisata Pantai Ujungnegoro ini fasilitas umumnya cukup nyaman. Ada mushola, kamar mandi dan toilet yang cukup bersih. Untuk bilas mandi setelah bermain pasir di pantai, cukup membayar Rp. 2.000,- saja per orang. Setelah anak-anak mandi dan ganti baju, kami masih melanjutkan menikmati suasana pantai. Anak-anak bisa bermain ayunan, sementara kami bersantai di gazebo sambil menikmati makanan ringan. 

Sinar matahari semakin panas. Pukul 11 siang kami bersiap pulang. Sebenarnya banyak yang belum di explore di Pantai Ujungnegoro ini. Menurut yang saya baca di www.mBatang.com ada gua Aswatama di pantai ini. In syaa Allah jadi agenda jika berkunjung ke pantai Ujungnegoro selanjutnya.
Secara keseluruhan, puas. Lokasi bagus, akses mudah. Sayangnya, kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan di area wisata ini masih kurang. Di beberapa sudut menumpuk sampah bahkan diaper bekas. Sayang sekali bukan?

Saya berharap wisata Ujungnegoro semakin bisa dimaksimalkan sebagai aset wisata di jalur pantura. Bukan hanya wisatawan setempat tetapi juga dari luar daerah. Atau bahkan luar negeri. 

Sabtu, 23 Desember 2017

Uang Logamku Sayang, Uang Logamku Malang

Desember 23, 2017 0 Comments
Foto dari peruri.co.id
Bagaimana mungkin ada yang tak cinta rupiah? Dalam benak saya, semua orang pasti cinta rupiah. Apalagi  emak-emak macam saya, lebih berbinar menerima seikat rupiah daripada seikat kembang dari suami. Ahaha, jujur banget sik.. Tapi ternyata, banyak juga mereka yang melirik mata uang asing demi keuntungan pribadi.  Dan bisa jadi mereka berpesta pora ketika nilai rupiah turun, sehingga simpanan mata uang asing mereka melambung nilainya. Ah, terlalu panjang  ini kalau dibahas. Kita doakan saja, nilai rupiah terus menguat sehingga tetap menjadi primadona di negeri tercinta ini.

Sedalam apa cinta kita kepada rupiah ? Kalau saya sih, cinta banget sama rupiah. Bukan hanya rupiah lembaran biru dan merah, tapi juga rupiah logam. Ya, uang logam atau koin masih termasuk alat pembayaran yang sah di negeri  ini. Tetapi, diakui atau tidak, banyak orang yang meremehkan nilai kecil dari uang logam. Saya termasuk yang memegang teguh prinsip, uang sejuta nggak akan jadi sejuta kalau kurang uang koin 50 rupiah. Saya paling nggak bisa terima, kalau belanja di toko trus yang empunya toko bikin harga ada buntutnya 50 rupiah, padahal mereka nggak menyiapkan uang kembalian 50 rupiah. Parahnya lagi jika kasirnya langsung membulatkan keatas. Nggak disebut sama sekali si 50 rupiah ini. Duuuh, syedih.. Nggak dihargai sama sekali. Padahal 50 rupiah juga duit loh…

Kembalian uang koin, sering juga digantikan dengan permen. Padahal kalau kita beli, pastinya yang punya toko ogah dibayar dengan permen. Kasus lain, kembalian koin diminta untuk disumbangkan. Ini biasanya di minimarket jaringan. Mau nggak mau terpaksa mau, karena mau bilang ‘jangan’ tengsin juga, kan?  Tapi kalau nggak ikhlas mendingan jangan mau deh, daripada ujung-ujungnya ngamal tapi ngomel. Apakagi  ketika cek struk ternyata sama sekali tidak ada penampakan kemana larinya koin tadi. Jika memang jelas peruntukan donasinya, dan hati benar-benar ikhlas, no problemo.

Di era digital sekarang ini, fungsi  uang koin semakin terpinggirkan dengan adanya e money. Kemudahan bertransaksi dengan e money praktis tidak lagi memerlukan uang koin sebagai kembalian.  Tapi bukan berarti uang koin menjadi tidak berguna. Karena tidak semua sektor transaksi bisa terjangkau dengan layanan e money.  Jadi, selama Bank Indonesia masih mengakui uang logam sebagai alat pembayaran yang sah, uang koin masih tetap berlaku. Ada sanksi pidana bagi yang menolak pembayaran dengan rupiah, termasuk uang logam ini.

Saya biasanya membawa uang logam bernilai kecil jika keluar rumah. Hal ini sangat memudahkan saya dalam bertransaksi. Setidaknya menghindarkan saya menerima kembalian dalam bentuk permen. Keengganan masyarakat bertransaksi menggunakan uang logam, membuat tingkat pengembalian uang koin ke Bank Indonesia cukup rendah, yaitu hanya sekitar 16%. Selebihnya, uang logam tersendat di masyarakat. Jika kita mengaku cinta rupiah, coba deh cek lagi laci-laci, bawah meja, kolong lemari atau kolong tempat tidur. Kumpulkan logam atau koin receh yang tergeletak pasrah selama bertahun-tahun di tempat-tempat tersebut. Putarkan  kembali untuk transaksi. Penggunaan uang secara seimbang baik logam maupun kertas juga merupakan wujud nyata cinta rupiah.

Selasa, 05 Desember 2017

I Love Math #10 ! Menandai Kalender

Desember 05, 2017 1 Comments
Sepulang dari agen ekspedisi, saya membawa oleh-oleh yang sangat berfaedah, kalender 2018 ! Apa pasal sampai menyempatkan membeli kalender? Padahal kalender gratis jatah dari beberapa tempat yang langganan memberi kalender tiap tahun sudah cukup banyak.

Ceritanya, pulang saya dari mengirim barang kemarin, ada sesebapak yang berjalan sambil mendorong kereta bayi, isinya bukan bayi tapi kalender untuk dijual. Setelah saya dekati (untuk membeli) ternyata bapak tersebut tuna wicara. Subhanallah..

Sambil menceritakan hal ihwal kenapa saya membeli kalender tersebut, saya memancing Icha untuk do something di kalender tersebut. Apalagi kalau bukan stimulasi matematika, yaitu menandai tanggal-tanggal penting di kalender.

"Ini kalendernya bagus lho kak, walau murah. Nih, ada tempat untuk catatannya di tiap2 hari.."
"Oiya ya, wah kakak bisa isi untuk memandai tanggal-tanggal lahir kita ya Ma..?"
"Boleh.."

Alhamdulillah, kalender baru sudah ditandai dengan hari-hari penting keluarga.

Oiya hari ini saya juga mendapat setoran hafalan tambah-tambahan dan pengurangan dari Faisya. Tanpa saya minta. Secara logika, dia sudah memahami konsep penambahan dan pengurangan. Saya mencoba untuk menambah dengan memasukkan konsep perkalian. Ternyata belum bisa, hehe. 

Begini responnya.
"Aku belum bisa kalau perkalian.. Kalau tambah, dan kurangi aku tahu. Misalnya gini ya Ma... Aku punya stroberi 10, diminta kakak 4, jadi sisanya ada 6...! Itu namanya pengurangan..!!"

Masyaa Allah berbinar sekali dia menjelaskan itu.
"Ooh gitu ya dek.. ? Waah, adek pintar sekali sudah bisa tambah-tambahan dan pengurangan.." kata saya menyemangati.

Bukan basa-basi, lho! Bagi saya, memang ini sebuah progres yang menggembirakan. Bisa jadi, anak lain seusianya sudah memahami lebih banyak. Tapi, bagi Faisya yang agak tertunda kemampuan baca tulis huruf latinnya, tapi kemudian menunjukan ketertarikan bahkan pemahaman yang bagus pada matematika, itu luar biasa. Benar, setiap anak pintar. Setiap anak istimewa.

Alhamdulillah, cerita ini mengakhiri Tantangan 10 Hari dari game level 6 saya.

#day10
#gamelevel6
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#ilovemath
#mathisaroundus

I Love Math #9 ! Cerdas Mengukur Berat Benda

Desember 05, 2017 0 Comments

Sejak saya punya kitchen scale alias timbangan dapur, ada saja yang dilakukan Faisya. Kadang-kadang semua bahan makanan yang akan dimasak ditimbang terlebih dahulu. Pernah juga menimbang berat boneka-bonekanya. Emaknya belum sadar, bahwa hal tersebut termasuk bagian dari pembelajaran logis matematika.


Di hari ke 9 tantangan saya, saya ingin me review lagi kemampuan Faisya mengukur berat benda. Objeknya tentu saja mainan-mainannya. So far dia paham bahwa berat setiap benda berbeda. Tapi dalam hal membaca berat benda masih sedikit kesulitan, khususnya untuk berat benda di angka ratusan.

#day9
#tantangan10hari
#gamelevel6
#kelasbunsayiip
#ilovemath
#mathisaroundus

I Love Math #8 Cerdas Memahami Waktu dan Nama Hari

Desember 05, 2017 0 Comments
"Ma, kalau aku pakai baju ungu, berarti besok libur ya ?"
"Iya, karena baju ungu dipakai hari.... ???" pancing saya.
"Jum'aat !" jawabnya bersemangat.

Begitu biasanya Faisya menandai hari sekolah dan hari liburnya. Seragam sekolah ada tiga. Setelan oranye dipakai hari Senin dan Selasa, rok terusan kuning merah dipakai hari Rabu dan Kamis, kemudian setelan training suit ungu dipakai pada hari Jum'at. Karena sekolahnya 5 hari saja, jadi Sabtu libur. Itulah kenapa, dia menandai setelah memakai baju ungu dia libur. Khusus pekan ini, ada perubahan dalam pemakaian seragam. Seragam ungu dipakai hari Rabu dan Kamis. Sedangkan rok terusan kuning merah dipakai hari Jum'at, karena rencananya pada hari Jum'at pekan ini ada pengambilan foto untuk ijazah TK.


Sejujurnya, bocah TK saya ini belum terlalu hafal urutan hari. Mencocokan dengan seragam adalah salah satu caranya mengingat hari. Makanya, ketika ada perubahan sementara untuk pemakaian seragam perlu ada penjelasan lebih lanjut mengenai itu. Dan itu sudah saya lakukan beberapa hari yang lalu.

"Pekan ini, baju ungu adek dipakai hari Rabu dan Kamis yaa..'' kata saya.
"Trus, setelah itu libur ?" tanyanya.
"Enggak, hari Jum'at masih masuk, tetapi pakai baju kuning merah.."
"Kenapa ?"
"Kata Bunda, hari Jumat anak-anak mau difoto.."
Bunda adalah panggilan untuk guru-guru disekolah. Sengaja saya sisipkan "kata Bunda" supaya bocah TK ini tidak protes dan tidak muncul pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Etapiii, ternyata masih ada pertanyaan lainnya..
"Bunda bilang ke Mama? Kapan ?"
"Nggak, Bunda bilangnya pakai surat aja, semua Mama diberi surat.."
"Oooh pakai surat..." jawabnya manggut-manggut.


Qadarullah, dari semalam badan Faisya agak sumeng.Gejala hidung mampet beberapa hari kemarin, dilanjutkan dengan batuk-batuk, dan akhirnya diikuti demam. Sedikit pusing juga katanya. Jadi hari ini dan mungkin besok, saya mintakan ijin ke Bunda pengajar agak diperbolehkan istirahat dirumah.

Aktifitas memahami waktu dan nama-nama hari seperti ini juga termasuk stimulasi matematika logis lho! Kirain, matematika itu hanya berkutat di angka dan simbol saja. Nggak kan ?

#day8
#gamelevel6
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#ilovemath
#mathisaroundus

Senin, 04 Desember 2017

I love Math #7 ! Cerdas Membandingkan Harga

Desember 04, 2017 3 Comments


Si Mama ini lagi baik hati, dapat hidayah buat traktir anak-anak es krim.  Jadi pulang sekolah tadi kami mampir ke kedai yang jual es krim Aice.

Maunya sih beli yang murah meriah supaya 10.000 dapat 3 biji, tapi ternyata Faisya memilih es krim rasa mangga yang agak mahal, harganya 7000 rupiah. Mungkin karena ada tulisan low fat jadi lebih mahal dibanding teman-temannya . Kakak Icha, sudah lama ingin icip es krim mochi. Harga es krim mochi 3000 rupiah. Sedangkan si Mama, gak bisa move on dari es krim vanilla lapis coklat tabur kacang. Paporit deh.. ! Harganya 3500 rupiah. Total belanja kami 13.500 rupiah.
"Dek, bagi dong..." (foto diambil ketika es krim kakak Icha sudah habis)
Sambil menikmati es krim, Faisya membandingkan harga es krim nya.
"Punyaku harganya 7000 ya Ma? Punya kakak 3000 ?? Jadi lebih mahal punya siapa Ma ?"
"Ya mahalan punyamu dek.." si kakak nyahut
"Kalau 7 dengan 3 banyakan mana dek ?" tanya saya.
"Banyak 7...! Jadi 7000 dengan 3000 lebih mahal 7000 ya Ma ?"
"Pinterrr..." kata saya sambil mengacungkan dua jempol. Eh satu ding, yang satu masih pegang es krim. Hihihi..
"Kalau punyaku, dengan punya mama, mahalan yang mana?" tanya Faisya lagi.
"Es krim mama 3500, es krim mu kan 7000.." jawab saya
"Tetap lebih mahal es krim ku ya.. Yayyy...!!"
"Kalau es krim Mama dengan es krim kakak ?" tanya Faisya.
"Es krim kakak 3000, es krim Mama 3500, es krim adek 7000.. Coba mana yang lebih mahal, trus yang nomer dua lebih mahal ?"
"Ooh, jadi es krim ku paling mahal, terus es krim Mama, terus es krim kakak yang paling tidak mahal.."
"Siiip..."

Dengan media es krim, Faisya dan kakak Icha belajar membandingkan besaran harga. Jika dianalogikan berdasarkan aktifitas sehari-hari Matematika menjadi lebih menyenangkan untuk dipelajari.

#day7
#tantangan10hari
#gamelevel6
#kuliahbunsayiip
#ilovemath
#mathisaroundus

I Love Math #6 ! Menghitung Jumlah Gambar Pada Film Animasi

Desember 04, 2017 3 Comments

Perjalanan pulang sekolah selalu menjadi salah satu momen quality time saya bersama Icha.  Ngobrol asik sana sini sembari melaju diatas sepeda motor tua kami. Tiba-tiba topik nya menjurus ke matematika logis.

"Mama tahu nggak, berapa gambar yang dibutuhkan untuk membuat film animasi 1 detik ?"
"Hmm.. 5 gambar?" Ini si Mama ngarang
"Salah.."
"10 ??"
"Salah.."
"10 kurang atau lebih?"
"Kurang.."
"20 deh.."
"Iya betul.... 20 !"
"Yayyy... Padahal Mama cuma nebak aja lho, hehehe.."
"Banyak ya Ma, kalau satu detik butuh 20 gambar, berarti film se jam butuh berapa ratus gambar ya Ma ?"
"Coba dihitung.. Satu menit dulu, ada berapa detik.."
"Satu menit 60 detik, jadi kalau satu menit, 60 dikalikan 20 ya ? 6 x 2 = 12, nol nya 2 jadi hasilnya 1200..? Wow banyak sekali yaa..??"
"Iya, jadi kalau film animasi durasi 1 menit aja, membutuhkan sebanyak 1200 gambar. Jadi kalau sejam bagaimana ?"
"Satu jam 60 menit, jadi 1200 dikalikan 60 dong...??
" Iya betul. Hasilnya berapa ?"
"Waaah susah Ma, ribuan .."
"Iya, nol nya disimpan dulu.. 12 dikali 6 aja"
"Hmmmm.... 72..??" jawabnya ragu-ragu.
"Iya, trus nol nya dipasangin lagi, ada berapa td nol nya?"
"Tiga, jadi... 72.000 gambar. Woowww banyaknyaa..." Doi takjub sendiri.
"Iya, tapi gambarnya kan computerize, bukan gambar tangan.."
"Iya juga ya, kalau gambar tangan .. Waah.."

Sambil ngobrol, tidak terasa kami sudah sampai di rumah.

#day6
#tantangan10hari
#gamelevel6
#kuliahbunsayiip
#matharoundus
#ilovemath