Cerita Tentang Kunjungan PT. Indofood ke Rumah Saya ( True Fact About Indomie )


Assalamu'alaikum..

Seperti janji saya di postingan instagram, saya mau ngasih bocoran cerita tentang kunjungan PT. Indofood ke rumah saya. Kemarin, Selasa, 6 Agustus 2019, ada Ibu Laila Nurdiana PR Assistant dari Indofood Pasuruan yang datang ke rumah saya untuk  follow up keluhan pelanggan yang saya kirimkan melalui email.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya dalam hati, keluhan apa sih yang saya sampaikan koq sampai - sampai Indofood mengadakan kunjungan ke rumah ? Jadi ceritanya begini, saya membeli 2 bungkus Indomie Rasa Kari Ayam di warung dekat rumah. Ndilalah bubuk cabenya kosong, di sasetnya nggak ada isi bubuk cabe sama sekali. Kemudian, saya mengirim keluhan pelanggan melalui alamat email yang tertera di kemasan.

Saset bubuk cabe kosong

Kenapa 'hanya' karena nggak ada bubuk cabe aja komplain sih ? Sebagai konsumen yang baik ( eciee..) , saya ingin memberikan feedback ke perusahaan. Meskipun kelihatannya sepele tapi idealnya produk diterima consumer dalam kondisi lengkap, kan..? Bayangkan jika produk yang gagal packing ini terproduksi (tidak sengaja diproduksi) dalam skala besar dan perusahaan tidak tahu karena tidak ada feedback dari konsumen. Berapa ratus consumer yang kecewa ? Nah, dengan adanya feedback dari consumer, minimal perusahaan bisa menelusuri dimana missed nya dan mungkin memperbaiki jika ada kesalahan proses. Alhamdulillah, pihak PT. Indofood menanggapi keluhan saya dengan sangat baik. Email saya langsung mendapat balasan yang kemudian ditindaklanjuti dengan home visit.

Sebelumnya, saya diminta untuk melengkapi informasi seputar keluhan yang saya sampaikan. Diantaranya, detil varian produk yang dikeluhkan, jumlah produk bermasalah, kode produksi dan tanggal kadaluarsa produk, mengirim foto produk yang bermasalah dan diminta menyimpan kemasan yang bermasalah. ( Harusnya kemasan dan isi, tapi isinya sudah habis, hehehe )

Setelah data lengkap saya kirimkan, akhirnya saya dihubungi oleh ibu Laila Nurdiana, Public Relation Assistant Indofood Kantor Pasuruan. Oiya, kenapa yang menghubungi saya dari Pasuruan, saya pikir karena cabang terdekat karena saya tinggal di Sidoarjo. Ternyata dari kode produksi yang tertera di kemasan tertulis kode PSRxxx yang artinya produk yang saya terima merupakan produksi dari Indofood Pasuruan. Karena itu, Indofood Pasuruan yang menanggapi keluhan saya lebih lanjut.

Setelah beberapa kali telponan, singkat cerita sampailah Ibu Laila ke rumah saya. Dan, ternyata masih muda dong orangnya, hehee.. ( makanya saya panggil mbak aja ). Pertama - tama mbak Laila menyampaikan permohonan maaf dan menyerahkan complimentary product sebagai permohonan maaf atas kejadian yang saya alami.

Complimentary product dari Indofood

Sebagai konsumen saya senang karena Indofood aware dengan keluhan pelanggan. Seperti yang mbak Laila sampaikan bahwa the real quality control is in customers hands. Sebuah perusahaan besar pastinya memang tidak akan mengesampingkan keluhan dari pelanggannya.

Dari ngobrol - ngobrol dengan Mbak Laila, saya sedikit banyak jadi tahu tentang proses produksi mulai dari proses pembuatan mie nya sampai pengepakan. Dan ternyata banyak informasi keliru yang selama ini saya (dan mungkin kalian juga) ketahui selama ini. Ini beberapa diantaranya,

1. Indomie TIDAK mengandung zat lilin

Pernah dengar informasi bahwa Indomie mengandung zat lilin ? Trus, katanya nih kalau masak mi, air rebusan pertama harus dibuang, diganti air yang baru. Konon hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan lapisan lilin ( ada juga yang bilang untuk ngilangin zat-zat pengawetnya ). Saya termasuk yang percaya itu , hehe..

Zat - zat yang ditambahkan di Indomie semuanya tercantum dalam ingredients yang disebutkan pada kemasan. Dan daftar itu telah melalui pengawasan BPOM dan Depkes RI.  Lilin sendiri bukan merupakan zat tambahan pangan. Jadi tidak mungkin jika ditambahkan ke dalam makanan. Air rebusan pertama, memang biasanya berwarna kuning keruh, hal itu bukan karena adanya zat lilin, tetapi karena mie nya sendiri yang berbahan tepung pastinya akan luruh ketika direbus. Dan jika air rebusan pertama ini dibuang, rasa mi yang kita buat jadi beda, lho..

Perhatikan juga saran penyajian yang tertulis pada kemasan agar citarasa produk bisa kita nikmati dengan maksimal.

2. Indomie TIDAK mengandung pengawet

Jujur, saya pribadi sudah beranggapan mi instan ( apapun merknya) itu sarangnya pengawet. Ternyata kunci pengawetan Indomie ada pada proses pengeringan mie nya yang dikeringkan dan digoreng dalam minyak panas suhu 140 derajat celsius. Karena tidak mengandung pengawet, umur produk Indomie tidak lama, yaitu sekitar 8 ( delapan ) bulan dari tanggal produksi. Untuk itu penting ya, selalu perhatikan tanggal kadaluarsa produk sebelum mengkonsumsi Indomie.

3. Indomie AMAN dikonsumsi tanpa direbus

Karena mie instan pada produk Indomie diproses dengan digoreng dalam suhu dan waktu tertentu, Indomie aman dikonsumsi sebelum direbus. Jadi ingat jaman SD dulu, saya suka makan mi instan diremuk langsung dari bungkusnya hehehe.. Alhamdulillah, aman ternyata.

4. Apakah Indomie Bisa Memenuhi Kebutuhan Gizi ?

Tahu kan kandungan mi itu apa  ? Yup, karbohidrat.  Karbohidrat saja tanpa tambahan bahan lain tentu belum mencukupi kebutuhan gizi sehari - hari. Untuk itu, disarankan mengkonsumsi Indomie bersama bahan pelengkap lainnya, ayam telur, sayur untuk mencukupi keutuhan gizi tubuh.

Jadi, kalau ada yang nanyain ini di bungkus Indomie ada gambar ayam telur dan lain - lain, tapi di isi nya kok ngga ada, hehe.. Jangan dicariin dimana ayamnya ya, gambar yang ditampilkan di bungkus itu merupakan cara penyajian yang disarankan agar Indomie bisa memenuhi kebutuhan gizi sehari -hari.

5. Kandungan MSG Dalam Bumbu, Amankah?

Penambahan MSG pada produk Indomie sudah mengikuti standar komsumsi yang diijinkan. Jadi insyaAllah aman dikonsumsi.

Sekedar perbandingan, bisa jadi kadar MSG pada semangkok bakso atau mi ayam lebih banyak daripada sebungkus mi instan.

Setelah tahu true fact tentang Indomie, kekhawatiran saya jadi berkurang. Buat saya Indomie itu penolong banget saat lagi malas masak. Malahan kadang-kadang bisa jadi moodbooster kalau lagi suntuk.

Tapi tetap diingat ya, konsumsi apapun dalam jumlah berlebihan juga nggak baik.

Oiya, di akhir obrolan mb Laila juga menginformasikan bahwa pabrik Indofood terbuka kunjungan untuk umum lho. Pesertanya bisa mulai anak-anak TK sampai dewasa. Dengan minimal peserta 30 orang. Pihak Indofood akan menyediakan fasilitas transportasi termasuk antar jemput dari lokasi peserta ke pabrik Indofood. Kegiatan ini bisa jadi sarana wisata edukasi buat teman-teman yang punya komunitas di lingkungannya. Atau untuk kegiatan sekolah. Bagaimana, tertarik ?


Disclaimer:

Artikel ini bukan sponsored post. Isi berdasarkan hasil bincang-bincang dengan Ibu Laila Nurdiana, PR Assistant Indofood Pasuruan. Informasi dan pertanyaan lebih lanjut mengenai produk bisa menghubungi nomor atau email Layanan Pelanggan yang tertera pada kemasan .

Wassalamu'alaikum...

22 komentar on "Cerita Tentang Kunjungan PT. Indofood ke Rumah Saya ( True Fact About Indomie )"
  1. Wow Indomie seleraku. Aku suka rasa ayam bawang. Thanks infonya tentang indomie mbaa..sangat bermanfaat 🖒😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca 'Indomie seleraku' koq autonyanyi yak... Haha.. Sama2 mb, terima kasih sudah mampir kesini

      Hapus
  2. Baik banget dah indomie kesayangan seluruh umat 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. De lejen of mi instan.. terima kasih sudah mampir kesini, madam..

      Hapus
  3. wooow hebaaaat perusahaan sebesar Indofood ternyata concern sama keluhan customernya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukti bukan perusahaan kaleng kaleng ya mba.. Sangat aware dg keluhan konsumen

      Hapus
  4. wah, aku pnh malah gk dpt minyaknya di dlm kemasan. Ternyata klo komplain direspon ya. Kapan2 komplain ah, *eh :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa. Harus mbak.. Jangan lupa simpan dan dokumentasikan 'barang bukti' nya ya...

      Hapus
  5. Wah, aku malah pernah dapat double bubuk cabe. Ternyata bener-bener menganggapi keluhan pelanggan, ya. Sampai ngasih produk pengganti yang banyak juga. Memang sempat ada kabar kalau Indomie mengandung zat lilin, air rebusannya harus dibuang. Entah kenapa menurut saya pribadi kalau masih ada kandungan berbahaya masa iya diloloskan uji makanan kayak BPOM. Jadi, tetep saya masih konsumsi sampai sekarang. Saya paling suka Varian mie goreng kalau suami yang rasa ayam bawang buat dikonsumsi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, sayapun pernah percaya kabar itu. Entah darimana sumbernya ya.. Antara percaya gak percaya tapi dilakuin juga buat jaga-jaga.. Hahhaa.. Skrg udah tau info validnya jadi ngga galau lg

      Hapus
  6. saluttt sama indofood, perhatian besar yaaa ternyata ke konsumen. nah tentang zat lilin yang diributkan itu saya juga bingung mb, jaman kita kecil dulu keknya gak ribet banget yaaa kalo makan indomie itu berasa dosa besar, padahal fine-fine ajaaa. sekarang kayaknya udah terhina banget secara kesehatan kalo makan indomie. Ya, asal gak tiap hari jugaaa sih, xixxixiiiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihii bener bgt mbaa.. Dulu waktu kecil mamam nasi lauk indomie kuah fine fine aja.. Ya mungkin karena informasi kesehatan sdh lebih banyak bisa diakses sekarang ini. Adal gak berlebihan aja konsumsinya, konsumsi apapun yg berlebihan kan ngga baik

      Hapus
  7. Selalu nyetok Indomie, hmm..
    Seru juga ya ada wisata edukasinya. Boleh juga nanti bisa ajak teman-teman UKM di Malang untuk berkunjung kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga pengen ajak ibu2 di lingkungan rumah kesana. Kalau berminat kesana Bisa japri saya untuk CP nya ya mba.. No hp beliau ngga saya share karena alasan privasi.

      Hapus
  8. masya Alloh keren banget keberanian mbak untuk keluhan mbak ke Indofood. dan tanggapan Indofood pun ga kalah kerennya. btw, lihat goodie bag nya saya jd sedih, krn lgsg ingat kl stok indomie saya sudah habis T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa.. Maaf sy ketawa baca kesedihanmu mba.. Btw, di Jepang ada yg jual Indomie kah ? Atau bawa stok dari Indonesia ?

      Hapus
  9. wah udh beberapa kali saya sering dapat yang seperti ini, mbak. Nggak ada bumbunya. terus bingung deh. dan berakhir sebel juga. Bener nih, seharusnya ada konsumen yang feedback, biar mereka semakin emningkatkan kualitasnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ternyata lumayan banyak yang ngalamin ya mb Wiwid.. Cuma pada ngga kepikiran untuk komplain.

      Hapus
  10. Baca artikel ini jd bs menjawab keraguan diantaranya bhw indomie ternyata tdk mengandung lilin. Mksh mba jadi smakun yakin sm produknya. Thx yas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Info zat lilin cukup banyak beredar rupanya ya mba.. Mudahan artikel sy meluruskan informasi yg terlanjur beredar

      Hapus
  11. Kalo ada kata Indomie, langsung kebayang nikmatnya, eummhh..
    Btw, ternyata feedback sekecil apapun bisa mereka respon dan bermanfaat untuk mereka ya mba. Ini jadi nambah awareness saya kalo misalnya nanti ketemu produk2 yang 'cacat' produksi semisal ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba.. Asalkan kita jujur ada bukti, dan usahakan kronologis didokumentasikan lengkap. Sampaikan keluhan dengan santun insyaAllah akan ditanggapi dg baik

      Hapus

Terima kasih sudah membaca. Ditunggu komentarnya ya..!

Custom Post Signature

Custom Post  Signature