Selasa, 18 Agustus 2015

Membuat Bros Dari Kain Perca

Agustus 18, 2015 0 Comments



Beberapa hasil kreasi bros telah saya publish lewat facebook, dan dari beberapa model yang asli desain saya, desain rimpel berpayet ini yang paling cetar, karena sempat jadi rebutan hehhehe.. akhirnya terpaksa saya buat dua, padahal biasanya limited edition satu desain satu buah ( ssstt, namanya juga perca, kainnya cuil-cuilan jadi gak cukup kalau bikin banyak)

Alhamdulillahnya ini ada kain lumayan lebar jadi cukup bikin dua. 

Nah, buat yang pengen tahu gimana sih cara bikinnya saya akan bagikan tutorialnya ( ada yang pengen tahu nggak sih... hihii )

Pertama-tama siapkan alat dan bahan :
1. Gunting
2. Melt glue dengan gun nya ya (lem tembak)
3. Benang dan jarum
4. Payet warna emas
5. Kain flanel atau kain keras
6. Peniti bros

Untuk bahannya kita siapkan kain perca bahan satin (yang glossy), warnanya  sesuai selera.

Cara membuatnya kayak gini nih :

1. Gunting kain dengan ukuran lebar 6,5cm dan panjang sekitar 70cm (jika panjang kain nggak  cukup bisa di sambung beberapa potong)

2. Siapkan benang dan jarum. Lipat kain menjadi dua, jahit jelujur sampai selesai.

3. Tarik benang sehingga kain terbentuk rimpel yang cantik.

4. Siapkan bulatan kecil dari flanel dan kain satin.

5.Masukan bulatan flanel ke dalam kain satin, jelujur pinggir bulatan, tarik ke tengah. Jadilah bagian tengah kelopak bunga

6.Pasang payet di bagian tersebut. Pasang di tengah kelopak bunga dengan lem tembak/melt glue.

7.Rekatkan flanel di belakang bros, kemudian rekatkan peniti bros

8.Yaiyyy.. jadi deh, bros cantik bunga payet

Selamat mencoba ya.. ^^

Minggu, 16 Agustus 2015

Tentang Impian

Agustus 16, 2015 3 Comments


Teringat obrolan sekitar tiga tahun yang lalu, dengan anak mbarep yang waktu itu berumur sekitar 4 tahun. Ketika itu saya membeli sarung tangan untuk naik sepeda motor. Dia ikut-ikutan minta beli sepasang sarung tangan kecil seharga 3000 rupiah.
"Buat apa kak..?"
"Ini kan bisa kakak pakai nanti kalau kakak ke Kanada, disana kan dingin ada salju"
"Ehm... ke Kanada ya.."

Ketika saya ceritakan ke Sheri sahabat saya di Kanada, Sheri bilang 
"That's great!! Icha harus ke Canada untuk university !

Dan pagi ini.. Icha -7th- bertanya kepada saya

"Mama suka salju?"
"Emmm.... belum tau sih, kan belum pernah pegang..."
"Kakak suka, kakak nggak sabar menunggu kuliah nanti... kakak mau kuliah di Kanada, disana kan bisa lihat salju.."

Saya pikir, angan-angan ke Kanada hanyalah celotehan bocah balita. Ternyata, selama ini dia tetap menggenggam mimpinya untuk bisa ke Kanada. Subhanallah..

Saya tak begitu ingat, kenapa Kanada yang dipilihnya. Mungkin dari cerita saya tentang Sheri juga dari hadiah-hadiah Sheri untuknya. Jadi Kanada adalah negara pertama yang di ketahuinya selain Indonesia.
Yang saya ingat, Icha kecil sering bertanya apakah di negara tante Sheri ada salju..? Dan dia semakin bersemangat untuk melihat salju di Kanada.

Tidak hanya tentang Kanada, saya ingat impian Icha sewaktu TK. Ingin piala. Sangat ingin. Beberapa teman menyarankan saya membeli piala dan titip ke guru saat ada perlombaan. Bad idea :P
Saya tidak ingin mengajarinya berbuat curang. Saya yakinkan suatu saat pasti dia akan mendapat piala. Hingga akhirnya di TK B dia berhasil mendapatkan juara dua lomba bercerita. Alhamdulillah.. ^^

Terkadang saya melupakan impian, atau menganggap impian saya sulit diraih. Tapi guru kecil ini mengajarkan kepada saya bagaimana mengenggam impian dan berusaha meraihnya. Di sisi lain, saya juga akan belajar bagaimana saya ikut bermimpi bersamanya, bukan mengajaknya meraih impian saya. Mari bermimpi, berusaha meraihnya dan berdoa.


Rabu, 12 Agustus 2015

Mama Kembalilah ke Rumah

Agustus 12, 2015 1 Comments

"Mama.. enak ya jadi Ibu.." kata kakak Icha tadi pagi
"Memangnya kenapa, kak ?"  tanya saya
"Ibu itu nggak usah cari pekerjaan, sudah punya pekerjaan..."
"Hmm.. memangnya apa pekerjaan seorang Ibu ?" tanya saya memancing
"Merawat anak..." jawab si kakak.

Subhanallah..!
Dalam hati saya hanya bisa memuji kebesaran Allah. She's better than me in everything. Jangankan dibandingkan saat saya seusianya, dibandingkan saya sekarang saja saya masih kalah.

Maksud saya, bukan dia 100% sempurna. Adakalanya perilaku negatif juga muncul. Yang saya yakini, itu adalah akibat contoh buruk dari saya. Misalnya, ketika saya memarahi dia dan adiknya. Di lain kesempatan dia akan memarahi adiknya dengan kalimat dan cara yang sama ketika saya memarahi mereka. Bukankah anak peniru ulung ?
Saya masih harus terus belajar. Merubah karakter dan pola asuh saya yang cenderung otoriter.

Balik lagi cerita tentang Icha. Dia pernah mengalami masa transisi, masa saya bekerja kemudian masa saya tidak bekerja. Perubahan yang paling terasa dari sudut pandang bocah seusianya pastinya tentang uang jajan. Kalau dulu kami bisa sering-sering ke minimarket. Beli jajan apapun yang dia suka. Sekarang jika kami ke minimarket, pasti dengan syarat : masing-masing boleh ambil jajan satu saja ! (Belum lagi ditambah tatapan mata galak dari emaknya.. hmmm astaghfirullahaladzim...)
Sehingga pada suatu ketika dia berucap, mama boleh kerja lagi kok...

Saya tertegun, sedih.. hampir marah. Saya ini berhenti kerja demi dia dan adiknya. Seolah apa yang saya lakukan tidak ada artinya. Juga sedih karena dia merasa bahwa lebih enak kalau punya mama yang bekerja. Tapi sedetik kemudian, saya menyadari dia hanyalah bocah 6 tahun. Saya coba memberi pemahaman kepadanya, bahwa tugas seorang Ibu adalah dirumah. Mengurus rumah, melayani suami dan mendidik anak-anaknya. Qadarullah, salah satu video tausiyah Ustadz Budi Ashari tentang Ibu yang ada di handphone saya dia lihat. Semakin memahamkan dia tentang makna tugas seorang Ibu.

Ketika, suatu hari iman saya goyah. Dorongan kembali ke dunia kerja begitu mengusik. Diam-diam saya mengunduh aplikasi Job Search di android. Dan apa yang Icha katakan sungguh-sungguh tamparan halus yang mengena di hati saya.

"Mama ingin cari kerja ?"
"Iya kak...."
"Kenapa..?"
"Biar Mama bisa bantu cari uang untuk sekolah kakak, biar kakak dan adek bisa jajan... bla bla bla " sejuta alasan saya kemukakan. Alasan yang kira-kira menyenangkan untuk anak seusianya.
"Mama.. apa Mama lupa kata ustadz di video di hp mama? Ibu kembalilah kerumah.."

Degg!!
Jantung saya seolah berhenti. Ya Allah, sungguh telah Kau titipkan seorang malaikat kepada kami. Satu kalimat yang diucapkannya, membuat saya berfikir. Keinginan bekerja kembali saya buang jauh-jauh. Saya luruskan niat berjuang di jalanNya. Mengasuh dan mendidik anak-anak. Menggali potensi diri lebih dalam lagi. Agar bisa berdaya walau bukan di belakang meja kerja.

Bukanlah hidup namanya jika tanpa ujian. Memutuskan berkarir di rumah pasti ada godaanya. Baik dari dalam diri atau dari orang lain. Semoga istiqomah.

Jumat, 07 Agustus 2015

Ketika Perca Jadi Berharga

Agustus 07, 2015 2 Comments
Membuat pernak-pernik kreasi handmade memang hobi saya. Pengennya sih, dari hobi bisa menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Beberapa bidang kreasi sudah saya coba tapi rasanya kayak belum "klik" gitu. Sampai suatu ketika ( baru beberapa hari yang lalu hehehe ) saya menemukan passion saya berkreasi di bidang bros kain perca.
Ceritanya, saya punya gamis babydoll dengan model kerah turtle neck. Lazimnya baju model kerah leher kura-kura itu biasanya kan kainnya melar nah si gamis ini nggak terlalu melar, alhasil kepala saya selalu protes setiap melewati kerah tersebut. Itung-itung pengiritan, saya nekad mem vermak sendiri kerah tersebut (lumayan, irit sepuluh atau lima belas ribuan ). Bermodal gunting jarum dan benang dimulailah proses pembedahan si gamis. Krek krek.. kerah kura-kura berhasil di potong. Pinggiran leher gamis saya sum (jahit tangan). Nggak apa2 lah agak menceng-menceng dikit, kan dipakainya ketutup kerudung juga ^^
Baju gamis sudah rapi. Ada sisa kain potongan kerah, mau diapain ya ? Tadinya pengen bikin ikat rambut. Tinggal isi karet, jahit tangan sedikit jadi deh. Etapi kudu nunggu beli karet dulu. Iseng-iseng sisa kain saya kruwel-kruwel.. lho lho.. kok bagus ya.. kayak bros. Eh beneran bisa jadi bros lho... ! Kebetulan spare part yang lain seperti peniti dan manik-manik masih ada stok. Daan..jadi deh Bros Mutiara Bunga !
Kejadian ini mengilhami saya. Kenapa tidak saya coba? Kemudian saya hubungi teman yang penjait buat minta perca kainnya. Alhamdulillah, atas ijin Allah dalam waktu singkat perca sudah sampai ke rumah saya. Beberapa bros yang sudah jadi saya upload ke akun facebook saya. Lagi-lagi Allah memberikan kemudahannya, dari foto-foto yang saya upload beberapa teman tertarik. Bahkan seorang sahabat saya khusus memesan 200 pcs bros ! Woww...
Satu lagi mukjizat yang saya rasakan, bahwa Allah akan memberikan rizki lewat jalan yang tak disangka-sangka jika kita berusaha. Saya berharap usaha ini akan menjadi besar nanti nya. InsyaAllah.. !

Follow Us @soratemplates