Teringat obrolan sekitar tiga tahun yang lalu, dengan anak mbarep yang waktu itu berumur sekitar 4 tahun. Ketika itu saya membeli sarung tangan untuk naik sepeda motor. Dia ikut-ikutan minta beli sepasang sarung tangan kecil seharga 3000 rupiah.
"Buat apa kak..?"
"Ini kan bisa kakak pakai nanti kalau kakak ke Kanada, disana kan dingin ada salju"
"Ehm... ke Kanada ya.."
Ketika saya ceritakan ke Sheri sahabat saya di Kanada, Sheri bilang
"That's great!! Icha harus ke Canada untuk university !
Dan pagi ini.. Icha -7th- bertanya kepada saya
"Mama suka salju?"
"Emmm.... belum tau sih, kan belum pernah pegang..."
"Kakak suka, kakak nggak sabar menunggu kuliah nanti... kakak mau kuliah di Kanada, disana kan bisa lihat salju.."
Saya pikir, angan-angan ke Kanada hanyalah celotehan bocah balita. Ternyata, selama ini dia tetap menggenggam mimpinya untuk bisa ke Kanada. Subhanallah..
Saya tak begitu ingat, kenapa Kanada yang dipilihnya. Mungkin dari cerita saya tentang Sheri juga dari hadiah-hadiah Sheri untuknya. Jadi Kanada adalah negara pertama yang di ketahuinya selain Indonesia.
Yang saya ingat, Icha kecil sering bertanya apakah di negara tante Sheri ada salju..? Dan dia semakin bersemangat untuk melihat salju di Kanada.
Tidak hanya tentang Kanada, saya ingat impian Icha sewaktu TK. Ingin piala. Sangat ingin. Beberapa teman menyarankan saya membeli piala dan titip ke guru saat ada perlombaan. Bad idea :P
Saya tidak ingin mengajarinya berbuat curang. Saya yakinkan suatu saat pasti dia akan mendapat piala. Hingga akhirnya di TK B dia berhasil mendapatkan juara dua lomba bercerita. Alhamdulillah.. ^^
Terkadang saya melupakan impian, atau menganggap impian saya sulit diraih. Tapi guru kecil ini mengajarkan kepada saya bagaimana mengenggam impian dan berusaha meraihnya. Di sisi lain, saya juga akan belajar bagaimana saya ikut bermimpi bersamanya, bukan mengajaknya meraih impian saya. Mari bermimpi, berusaha meraihnya dan berdoa.