Sabtu, 21 September 2013

Pekerjaan Om Dhiga

September 21, 2013 0 Comments
Ini cuplikan percakapan saya dan Icha sebelum tidur tadi
Icha : “Ma, Om Dhiga itu pekerjaannya apa sih?”
Mama : *mikir dulu* “mmm.. Sales Engineer...”
Icha : “Sales itu apa?”
Mama : “Sales itu.. orang yang tugasnya menjual sesuatu”
Icha : “Oooh....” *sok yes, kayakna mudheng gitu* “maksudnya jualan tahu tek.. atau pentol, gitu yaa?”
Mama : *gubrakkk?#%&&^%* “Bukan kak... bukan jualan kayak gitu. Om Dhiga jualan mesin-mesin..
*Belum selesai udah disrobot *
Icha : “Mesin cuci, kipas angin..gitu ta?”
Hahaha, langsung bayangin Om Dhiga jadi sales mesin cuci :D
Mama :”Bukan juga... Maksudnya mesin-mesin untuk mobil, pabrik... *lagi-lagi disrobot lagi*
Icha : “Ohh kakak tau, mesin-mesin pabrik yang kayak di laptop si Unyil itu yaa...?”
Mama : %&(*&)*^&%$%$#$@#!#@(*
Om Dhiga, Mama nyerah deh.. Jelaskan sendiri ke Icha yaa... :D


Rabu, 11 September 2013

Menikah dengan Pangeran

September 11, 2013 0 Comments
“Ma..,” panggil Icha suatu malam, setengah berbisik.
“Apa Kak..,” saya balas berbisik juga.
“Sini kakak bisikin..”
Saya menyorongkan telinga kemulutnya.
“Mama mau nggak, kalau dulu menikahnya nggak sama Abi..”
“Eh..?!” saya kaget. Apa anak ini tahu cerita tentang mantan-mantan saya ? Hmm, nggak mungkin. Tenang Nov, jangan salting dulu..
“Trus, Mama menikah dengan siapa”
“Dengan pangeran...” jawabnya kalem.
“Hahh?!! Dengan pangeran..?!? “ saya kaget. Tapi sedetik kemudian saya bisa menebak apa yang ada dipikiran bocah 5 tahun itu.
“Ohohoo..  Mama menikah dengan pangeran, supaya kakak jadi Princess ya..?”
Wajah mungil itu mengangguk. Tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Nyengir.
See ? Maksud dia, saya menikah dengan Pangeran, kemudian saya akan menjadi ratu. Nah anak ratu berarti  Putri atau Princess. Jadi dia lah princess itu. Hihihi.
LOL :D

Selasa, 10 September 2013

Menulis, Terapi Jiwa

September 10, 2013 0 Comments
Membuka kembali koleksi buku lama, pilihan saya jatuh pada buku merah ‘Jumpalitan Menjadi Ibu’. Dari tanggal yang biasa saya bubuhkan di halaman pertama, ternyata buku ini saya beli tanggal 20 April 2011, kurang lebih sepuluh hari sebelum saya beralih profesi dari Working Mom menjadi  Stay at Home Mom.
Sepertinya buku ini belum selesai saya baca, saya mencoba mengingat-ingat  judul artikel mana yang belum saya baca. Tapi ternyata memori saya terlalu lemah untuk mengingat itu. Akhirnya saya putuskan memilih judul yang akan saya baca melalui daftar isi. Hmm, dari sederet nama-nama penulis yang berkontribusi di buku tersebut, ternyata ada dua nama penulis yang saya kenal : Haya Aliya Zaki dan Indah Julianti Sibarani. Keduanya saya tahu dari Komunitas Emak Blogger yang saya ikuti (*walau hanya silence member*). Penulis yang lain pastinya juga emak-emak yang aktif malang melintang di dunia tulis menulis dan blogging, hanya saya saja yang belum tahu.
Selesai membaca tulisan mak Haya Aliya Zaki dan mak Indah Juli, ghirah menulis saya menggelora. Ide-ide bermunculan dan tumpang tindih di kepala. Mumpung anak-anak sudah tidur, saya mencoba memanfaatkan waktu di depan laptop. Tak tik tuk tik tak tik tuk... *suara keyboard laptop* Ah, senangnya.. sudah lama jari-jari saya tidak beradu dengan keyboard laptop. Beberapa draft tulisan yang sempat saya simpan di arsip file akhirnya bisa saya selesaikan. Juga membuat tulisan baru. Sayangnya pulsa modem lagi kosong. Jadi  tulisan-tulisan ini masih harus menghuni folder draft di drive D saya. Karena sering tak punya waktu untuk sekedar membuka internet melalui laptop, membuat saya enggan menyisakan budget untuk pulsa modem. Takut mubadzir, nanti udah terlanjur beli paket kuota sekian MB untuk satu bulan, hanya terpakai sedikit.
Tiba-tiba saya teringat akan dua bak penuh cucian kering yang belum disetrika. Teronggok pasrah seolah menantikan sentuhan tangan saya. Omai God.. ! Bukankah malam ini rencananya saya nyetrika baju-baju itu? Menoleh ke sebelah kiri saya dapati si sulung yang rela tidur di ruang tengah demi berniat menemani Mamanya menyetrika. Koq saya malah ketak ketik... ? Beklaahh, kembali ke plan A malam ini adalah menyetrika, meskipun sudah mundur tiga jam dari rencana awal (rencana nyetrika start jam sepuluh malam, yang katanya tarif listriknya sudah normal. Sekarang sudah jam satu pagi). Better late than never.. ! Harus kelar malam eh pagi ini demi tercipta weekend yang bahagia. Cemunguuddh  eeaaa.... !
 *klik tanda ‘x’ di word document, save file yes dan shut down*

Minggu, 01 September 2013

Binatang Baru

September 01, 2013 0 Comments
”Mamaaa, kakak menemukan jenis binatang baruu !” kata Icha beberapa hari yang lalu. Woww, gaya nya seperti penemu betulan.
“Oh ya ?!” saya berusaha pasang ekspresi se excited mungkin. “Gimana ciri-cirinya , kak?”
“Bentuknya seperti nyamuk, tapi badannya seperti kecoa. Dia nggak bisa terbang, Ma...”
“Hmmm” tak ayal kening saya berkerut juga mendengar deskripsinya tentang ‘jenis binatang baru’ penemuannya itu.
Seperti nyamuk, badannya besar seperti kecoa dan nggak bisa terbang? Pikiran saya langsung menebak itu tinggi alias kutu busuk. Tapi, mosok kasur spring bed ada tingginya ? Biasanya tinggi hidup dan berkembang biak di kasur kapuk. Di pinggir-pinggirnya, dibagian cekungan-cekungan tempat benang kasur. Disitulah, ibu tinggi beserta anak-anak dan telur-telurnya berada. Secara berkala kami, saya kecil, mbak Dina, Bapak dan Mamak membersihkan kasur –kasur dirumah. Baunya ? jangan ditanya.. busuuuk sekali..
Seandainya benar itu tinggi, bencana bagi kami. Bakalan nggak nyenyak tidur, mereka akan bergerilya selama kami tidur. Menggigiti kulit dan menghisap darah. Rasanya cekit-cekit, gataal sekali. Lebih gatal dari gigitan nyamuk. Dan tinggi itu bisa berkembang biak dengan cepat di setiap lipatan kasur atau bantal. Pikiran saya mulai merancang sebuah program pemberantasan hama tingkat  tinggi, sebelum mereka sempat beranak pinak.
“Mamaaa.. ini dia binatangnya...!!!” dari dalam kamar Icha berteriak. Saya bergegas menuju kamar, tak sabar ingin memastikan jenis binatang baru itu. Diatas seprei saya melihat seekor binatang  merangkak kepayahan. Perutnya menggendut penuh darah. Dia tak bisa bergerak lincah ketika saya berusaha menangkapnya. Hanya berusaha menghindar dengan gerakan slow moving. Sampai akhirnya ujung telunjuk saya berhasil menekan perut gendutnya. Darah kehitaman menodai seprei  Zoo kesayangan anak-anak.
“Kakak, ini bukan binatang jenis baru, ini nyamuk gendut kekenyangan...”
“Oooh...”
Hanya itu yang keluar dari mulut mungilnya. Hmmm, ‘binatang jenis baru’ . Aahh, anak-anak memang selalu polos dan menggembirakan hati.

Follow Us @soratemplates