Minggu, 27 Agustus 2017

[ level 3 ] Day #10 Fampro Berkebun Bagian 4 (selesai)

Agustus 27, 2017 0 Comments
Family project kami di hari ke 10 adalah menyelesaikan project berkebun. Sst.. Sebenarnya, ini sudah lewat dari deadline, alias sudah lewat dari tanggal terakhir batas waktu tantangan 10. Kok bisa..? Yaa,bisa dong. Memang butuh niat, komitmen dan ketelatenan untuk bisa menyelesaikan tantangan ini. Banyak godaan extern maupun intern. Hehe.. 

Jadi ceritanya, seharusnya hari Sabtu adalah deadline terakhirnya, eh ternyata hari Sabtu kemarin kami kondangan ke Surabaya. Rencana hunting tanaman ke jalan juanda terpaksa mundur. Padahal, deadline tidak bisa mundur. Huu..huu... Otomatis, gagal lagi saya di tantangan level 3 ini. Tapi, bagi saya yang terpenting adalah aplikasi dari family project itu sendiri. Sejauh mana bisa menimbulkan perubahan atau efek positif bagi kami. That's the point, isn't it ?

Baiklah, walaupun deadline sudah lewat tetap semangaat kakak...! Kami halan-halan berempat ke sekitaran jalan Juanda Sidoarjo untuk mencari bunga. Ternyata, beneran murah-murah bangeet. Pengen nangis kalau ingat kemarin habis 200 rebu untuk 3 buah tanaman. (Sudahlah..lupakan) Dari jalan Juanda kami mendapatkan bunga mawar, anyelir dan dua buah tanaman gantung lengkap dengan potnya. Plus pupuk kompos sebagai media tanam hanya seharga 60 ribu saja. 

Sampai dirumah, anak-anak sudah tidak sabar untuk menanam. Karena kali ini pak suami ikut ambil peran dalam fampro, maka sayapun cukup menjadi seksi dokumentasi saja. Asiik...


#day10
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KelasBunsayIIP

Kamis, 24 Agustus 2017

[ level 3 ] Day #9 Fampro Berkebun Bagian 3

Agustus 24, 2017 0 Comments

Hari ke 9, target saya hari ini nambah tanaman dan merapikan gazebo. Jadi hari ini saya sempatkan untuk membeli pot plastik dan karpet plastik untuk alas duduk di gazebo. Sementara itu, hasil marketing Icha untuk gantungan kunci hijabnya pun cukup baik, terbukti dengan orderan ganci hijab yang lumayan membludag. Jadi saya sempatkan ngebut memproduksi gantungan kunci.
"Hari ini kita stop dulu orderan ganci ya Ma.. ?" pinta Icha kemarin
"Lho kenapa ??" tanya saya heran
"Kan Sabtu - Minggu kita mau berkebun... tunggu kakak lho ya." terangnya
"Oh.. iya ya.. hehe. tapi Mama tetap harus bikin untuk titip ke warlah, kan sudah janji sama mbaknya, nanti ditungguin.

Karena project berkebun kemarin dia ketinggalan, kali ini dia protes. 

Sebenarnya, kalau dituruti banyak sekali yang ingin saya lakukan untuk 'kebun' kami. Tapi apa daya, anggaran terbatas, jadi seadanya dulu. 

#Day9
#Level3
#MyFamilyMyTime
#KelasBunsayIIP

Rabu, 23 Agustus 2017

[ Level 3 ] Day #8 Berkebun Bag 2 Mengecat

Agustus 23, 2017 0 Comments


Setelah menanam bunga, project kami selanjutnya adalah mengecat tembok pagar dan besi pagar. Sempat awang-awangen, saat akan memulai project mengecat ini. Sanggup tidak ya ? Melihat saya terdiam diantara kaleng cat, Wecha sempat bertanya 
"Kenapa Ma ?"
"Mama bingung Dek, kita ngecat tidak ya ?"
"Mama takut tenaganya Mama tidak cukup ya? Aku bantu koq, tenang aja.. nanti malam aku pijit-pijit.."
"Ha ha ha.. bener ya, ayolah kita mulai ngecat.."

Akhirnya kami mulai mengecat. Bukan karena mau dipijit Wecha, tapi karena sudah terlanjur beli seperangkat alat cat segini banyak, kalau nggak dipakai trus buat apa ? Ternyata cukup sulit juga membuka kaleng cat ini. Di congkel pakai sekop, ngga bisa, pisau dapur juga nggak bisa. Lagi-lagi semangat saya mulai drop lagi. Tapi rasa penasaran dan rasa eman-eman karena cat sudah terlanjur terbeli membuat saya berusaha lagi.. Alhamdulillah.. terbuka juga kaleng catnya !

Cat coklat, rencananya saya gunakan untuk mengecat besi pagar. Tapi ternyata, cat yang saya beli kurang tepat. Seharusnya bukat cat minyak biasa, tapi -sepertinya- cat khusus yang berwarna bronze. Akhirnya cat coklat saya  gunakan untuk mengecat gazebo. Sementara untuk tembok, saya gunakan cat tembok warna cream. Alhamdulillah, warna yang saya beli cocok dengan cat lama, sehingga tidak terlalu kelihatan belang blontang dengan cat lama.  Wecha membantu mengecat untuk bagian-bagian yang rendah. 
Nggak terasa, pekerjaan mengecat selesai sudah. Hasilnya ? Lumayan, cukup sedap dilihat.. Dan, malam ini badan rasanya remek puol... hahaha.. serius, capek banget rasanya. 

#Day8
#Level3
#MyFamilyMyTime
#KelasBunsayIIP

Selasa, 22 Agustus 2017

[ Level 3 ] Day #7 Fampro Berkebun Bagian 1

Agustus 22, 2017 0 Comments

Awalnya, rencana fampro kami adalah membuat Pojok Buku di ruang depan. Semacam perpustakaan kecil-kecilan, supaya buku-buku Icha dan Wecha bisa juga dibaca oleh teman-teman mereka. Ternyata eh ternyata, ketika saya tawarkan ke anak-anak mereka lebih antusias dengan kegiatan berkebun. Alhamdulillah, pas narik arisan RT (hahaha) jadi bisa dianggarkan untuk belanja peralatan berkebun termasuk untuk membeli bunga-bunganya.

Qadarullah, pagi hari setelah antar kakak Icha sekolah, saya bertemu Pak Alex di jalan. Pak Alex adalah penjual bunga keliling langganan ibu-ibu diperumahan kami. Oke, setelah meninggalkan alamat rumah ke Pak Alex, beliau berjanji akan mampir ke rumah nanti. Sebenarnya saya masih bingung dengan konsep 'kebun' kami. Tapi sudahlah, nanti bisa sambil konsultasi ke Pak Alex. Fokus saya pertama, adalah mengisi 3 buat pot kosong yang sudah ada. 

Sekitar jam 10 pagi, pak Alex datang ke rumah. Untung sebelumnya saya dan Wecha sudah sempat bersih-bersih halaman. Nego plus nawar-nawar tipis akhirnya saya memilih 3 buah bunga, yaitu bougenvil ( ini pilihan Wecha ), Oscar dan Asoka. Total dengan media tanam, dihargai Rp. 200.000,- huff lumayan mihil juga ya. Membayangkan, seandainya di kampung halaman, bunga-bunga tinggal ambil saja. 

Pada proses penanaman saya banyak dibantu oleh pak Alex. Sambil ngobrol-ngobrol beliau menyarankan agar halaman ditanami rumput jepang. Akan terlihat lebih asri. Satu meter persegi rumput jepang sekitar 40 ribu rupiah. Kalau sehalaman rumah kami, plus jasa tanam diperkirakan biaya sekitar 400 ribu rupiah. Hemm.. pending dulu lah.. 

Penanaman 3 bunga selesai. Halaman rumah terlihat lebih segar dengan bunga-bunga baru. Next project, insyaaAllah akan kami lanjutkan dengan mengecat tembok pagar dan pagar rumah. Semoga bisa.

#Day7
#Level3
#MyFamilyMyTime
#KelasBunsayIIP

Senin, 21 Agustus 2017

[ Level 3 ] Day #6 Persiapan Fampro Berkebun

Agustus 21, 2017 0 Comments


Hari keenam Family Project, bertepatan dengan hari Senin. Rencana kami, Senin ini merupakan hari pemasaran dari produk fampro kami. Bertindak selaku manajer pemasaran yaitu kakak Icha. Hari ini, laporan perdana pencil box laku 1 (karena memang baru bawa 1) dan order baru masuk 3 buah pencil box. Sedangkan ganci (gantungan kunci) hijabnya, belum ada peminat, karenaaaa... lupa nggak ditawarkan. Haha.. yo wes ra popo nduk..

Sambil ngobol ngobril  saya menawarkan bagaimana jika project berikutnya adalah berkebun ? Eh, si doi langsung semangat 45! Dan sepulang sekolah tadi, kami balik arah langsung gercep menuju toserba Sinar Rejeki  untuk belanja pot bunga. Eh lhadalah ndilalah, kok yo stoknya kosong! ada sih, tapi kebagusan.. haha, pot plastik merk Claris. Yang saya cari pot polos plastik timba warna hitam yang lebih murah, dan masih bisa dikreasikan dengan cat warna-warni. Akhirnya kami pulang dengan tangan hampa -eh, malah belanja yang lain, ding-

Sambil menunggu pot ready, saya mencoba memutar otak. Kira-kira pekarangan kosong ini supaya terlihat segar bagaimana ya..? Setelah ketemu konsep, baru saya jadwalkan ketemu pak Alex, penjual bunga langganan warga di perumahan kami. Hmm, sejujurnya fampro berkebun ini berat tantangannya bagi saya. Wong saya nanam cabe aja mati kok. Terakhir saya beli bunga se pot-potnya di pak Alex, pas agustusan tahun lalu. Belum sampai ke bulan Agustus lagi  bunganya sudah tutup usia, tinggal pot nya doang. Tapi, sudahlah yang penting proses fampronya. Mengajarkan kerjasama, kreatifitas dan kesabaran merawat tanaman kepada anak-anak. Konon hasil tak kan mengkhianati proses, yekan..?

Beberapa referensi dari hasil googling kira-kira seperti ini lah nantinya bentuk DIY garden saya, harapan lho ya, bentuk riilnya kita lihat nanti. (foto dari berbagai sumber)




#Day6
#Level3
#MyFamilyMyTime
#KelasBunsayIIP

Minggu, 20 Agustus 2017

[ Level 3 ] Day #5 Membuat Kerajinan Sederhana Bag.2

Agustus 20, 2017 0 Comments


Mumpung masih weekend, kami melanjutkan family project bebikinan alias membuat kerajinan tangan sederhana. Project selanjutnya yaitu membuat gantungan kunci dari bahan flanel. Bahan flanel ini bahan favorit saya untuk berkreasi bersama anak-anak. Karena mudah dibentuk, tidak perlu dijahit, dan warna-warna nya cerah. Kekurangan bahan flanel kalau menurut saya, cepat kotor dan mbradul. Kalau sudah agak lama, biasanya tampilan jadi kurang cantik. 

Bahan-bahan untuk gantungan kunci flanel sangat mudah, yaitu 
  • kain flanel aneka warna
  • gunting
  • lem Castol
  • dacron
  • benang dan jarum
  • ring gantungan kunci
alat dan bahan untuk membuat gantungan kunci flanel

Kali ini, saya dan Icha sepakat membuat gantungan kunci seri hijab. Mungkin next project kami akan mencoba membuat seri lainnya. Ini hasil jadinya,

Cantik tak...?
Besok Senin, Icha sebagai marketing manager akan mulai menawarkan ganci hija  imut ini ke teman-temannya. Dan rencananya akan di produksi ulang sesuai pesanan. Mudah-mudahan laris manis... Hehehe... ^^

#Day5
#Level3
#MyFamilyMyTime
#KuliahBunsayIIP

Sabtu, 19 Agustus 2017

[ Level 3 ] Day #4 Membuat Kerajinan Sederhana Bag. 1

Agustus 19, 2017 1 Comments

Rencana ber fampro hari ini terpaksa mundur sedikit dari waktu yang direncanakan, ternyata kakak Icha harus ke sekolah karena ada jadwal tambahan ekstra kurikuler menulis. Baiklah, tidak apa-apa. Kami memulai project setelah si kakak pulang sekolah. Dalam aktivitas ini, saya hanya sesekali terlibat. Kakak icha sudah cukup mahir membuat pola, menggunting, dan menempel. 

Dan.. satu buah pencil box pesanan alhamdulillah jadi. Diskusi kami selanjutnya yaitu menentukan harga jual. Haha, memang susah menentukan harga jual barang produksi sendiri. Kalau dijual mahal,belum sebanding dengan kualitas barang. Apalagi barang DIY yang mengandalkan bahan baku kertas, pastinya tidak tahan lama. Tapi,  kalau dijual murah, tidak seimbang dengan bahan-bahan dan effort nya. Hampir setengah hari lho bikin satu pencil box ini. Daan.. pritilan pritilan bekas guntingan alias sampahnya itu lho bertabur dimana-mana.. Akhirnya kami putuskan, menjual satu buah pencil box seharga Rp. 6000,00 

              

#Day4
#Level3
#MyFamilyMyTime
#KuliahBunsayIIP

Jumat, 18 Agustus 2017

[ Level 3 ] Day #3 Persiapan Membuat Kerajinan Sederhana

Agustus 18, 2017 0 Comments

Kalau bicara tentang aktivitas menyenangkan yang sering saya dan anak-anak lakukan, adalah bebikinan atau craftting. Ya, dan untuk family project selanjutnya saya dan anak-anak akan mewujudkan rencana bikin-bikin yang sudah tersusun sejak lama namun belum terealisasi. Yaitu membuat kerajinan -kerajinan sederhana, yang bisa dijual ke teman-teman mereka.

Project Icha yang pertama adalah membuat pencil box. Tutorialnya dia dapat dari acara Fun Time di RTV. Sebelumnya, dia sudah uji coba pasar dulu, membuat satu pencil box untuk dipakai sendiri. Dan alhamdulillah, banyak peminat! Hehehe..

pencil box ala kakak Icha
kayak gini nih kalau dibuka
Jumat pagi, dia sudah mewanti-wanti saya untuk belanja keperluan craft, supaya kami bisa mulai project akhir pekan ini. Baiklah, dan inilah bahan-bahan yang saya beli untuk keperluan project kami.
  • karton duplex Rp. 4500
  • lem castol Rp. 6500
  • kertas kado Rp. 3000 ( 3 lembar)
  • flanel warna-warni Rp. 6000
  • ring gantungan kunci Rp. 3000 ( 10 pcs )
wah, alat dan bahannya ngga semua kefoto ya..

Rencananya, besok kami akan memulai project ini. InsyaaAllah akan di update pada postingan selanjutnya.

#Day3
#Level3
#MyFamilyMyTime
#KuliahBunsayIIP

Senin, 14 Agustus 2017

[ Level 3 ] Day#2 Family Project ''Fun Cooking''

Agustus 14, 2017 4 Comments
Bismillahirrahmannirrahim..

Family Project day #2 saya mulai dengan aktivitas cooking bersama Wecha. Sebenarnya, cooking day ini rencananya dilakukan weekend kemarin, supaya bisa dikerjakan bersama-sama kakak Icha. Tapi, karena ada aktivitas lain, terpaksa kami undur.  Kalau hari kerja gini, pastinya hanya saya dan Wecha yang di rumah siang-siang. Si kakak nggak apa-apa ngga ikut bikin, asalkan disisain kue nya, hehehe

Baiklah, project kali ini saya namai : Fun Cooking - Bronis Melting

Pelaksanaan : Senin, 14 Agustus 2017
Durasi : 12.30-13.45 wib

Alat dan Bahan : 
  • Tepung Premix Bronis Nutri Cake  Rp. 14.000
  • Telur 1 butir Rp. 1500
  • Margarin 10gr Rp.2000
total biaya termasuk LPG kurang lebih 20.000,-

Kenapa saya memilih cooking pada fampro kali ini ? Cooking merupakan aktivitas yang disukai Wecha. Lain dengan kakak Icha, dia tidak terlalu suka berkutat di dapur ( ehm...kayak siapa ya?). Dan saya memilih menggunakan tepung premix untuk meminimalisir kegagalan. Hahaha.. 

Pada proses kali ini, semua bisa dilakukan oleh Wecha, kecuali memecah telur. Mulai dari mencampur tepung dengan telur dan mentega. Oiya, mengoles loyang dengan mentega masih saya yang melakukan. 

Setelah adonan siap, kami mulai mengukus. Waktu untuk mengukus sekitar 35 menit. Setelah 35 menit, alhamdulillah.... enyaak bangeet! Untuk standar saya yang tidak bisa dan tidak suka baking, ini sudah enak banget lho ^^

#Day2
#Level3
#MyFamilyMyTieam
#KuliahBunsayIIP

Minggu, 13 Agustus 2017

[ Level 3 ] Day#1 Rencana dan Persiapan Family Project

Agustus 13, 2017 2 Comments

Family Project, apalagi ini ??

Membaca game level 3 ini, mendadak otak saya rasanya mbruwet, seperti hape android yang memanas karena kebanyakan aplikasi. Setelah mencari pencerahan kesana kemari, chit chat dengan sesama peserta bunsay maupun seniorita, akhirnya mulai jelaslah, apa yang dimaksud Family Project.

Eta terangkanlah, jadi Family Project atau fampro adalah kegiatan bersama yang direncanakan bersama-sama oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga, dalam rangka mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. 

Nggak perlu yang jauh-jauh deh mikirnya, aktivitas apa saja yang dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga, itulah family project. Nah, kalau begitu sih, saya punya banyak (planning) fampro. Ya, baru sebatas planning, karena saya belum menentukan target waktu pelaksanaannya. Alhamdulillah, kok yo pas banget, di materi bulan ke 3 ini tugasnya berkaitan dengan family project. Jadi saya sekaligus me review rencana-rencana apa saja yang pernah saya buat, dan memilih beberapa untuk direalisasian menjadi family project.

Beberapa rencana yang sudah sempat menari-nari di kepala saya, antara lain :

  1. menyortir mainan, khususnya boneka yang populasinya semakin tak terkendali
  2. memperbanyak cooking day bersama kakak Icha dan dedek Wecha, untuk mengurangi durasi anak-anak terpapar gadget dan televisi.
  3. simple craft project, membuat kerajinan tangan sederhana, seperti gantungan kunci, pembatas buku, pencil cap, stiker label dll yang kira-kira masuk ke pasar anak-anak, khususnya ke teman-teman kakak Icha. Targetnya, ialah menambah pemasukan / uang saku anak-anak dan pos infaq.
  4. merapikan buku-buku bacaan, karena keterbatasan tempat, buku-buku kami masih mencar-mencar. Ada yang di ruang tv, ada yang di kamar, ada yang di meja belajar dll. Sudah terpikir lama ingin menyatukannya dalam satu ruang, rencananya ruang depan, supaya bisa menjadi Pojok Baca yang bisa dinikmati oleh teman-teman Icha dan Wecha
  5. merapikan pekarangan, mulai dari mengecat pagar, menambah tanaman, menutup saluran pembuangan / got --> duh, yang ini fampro kelas berat bagi kami, bismillah semoga bisa terlaksana

Dari 5 poin rencana fampro diatas, sepertinya saya harus memilih lagi, mana yang bisa direalisasikan. Karena fampro ini yang terpenting adalah realisasi, bukan rencana... hehehe. Dengan mengacu kepada proses, saya pilih kegiatan yang sederhana, menyenangkan, mudah tapi juga menantang. Baiklah, berikut nama project fampro saya :
  1. Cooking Day
  2. Simple Craft Project
  3. Pojok Baca
Hari kedua, mulai pelaksanaan project pertama yaitu Cooking Day. InsyaaAllah   akan saya tulis pada postingan berikutnya.

#Day1
#Level3
#MyFamilyMyTime
#KuliahBunsayIIP

Jumat, 11 Agustus 2017

Yuk, Kenal Lebih Dekat Dengan Dus Duk Duk

Agustus 11, 2017 10 Comments

Apa yang terpikir di benak kita jika melihat atau mendengar kata kardus ? Sebagai pembungkus ? produk daur ulang ? atau, lelaki kardus ? Ahaha, yang terakhir ini beneran saya nggak tahu apa maksudnya. Tapi konon, ada lagu dangdut berjudul lelaki kardus yang cukup populer di kalangan pencintanya.

Oke, lupakan lelaki kardus  ( eh ), kali ini saya ingin cerita tentang sebuah industri kreatif anak muda dari Surabaya yang sukses bermain-main dengan kardus. Dus Duk Duk ! Unik ya namanya. Alhamdulillah, saya dan teman-teman dari Institut Ibu Profesional ( IIP ), berkesempatan untuk meet up dengan mas Angger Diri Wiranata dan mbak  Renny dari Dus Duk Duk.

Apa komentar Dus Duk Duk ketika diundang oleh IIP ?
"Ini baru pertama kalinya kami diundang oleh (komunitas) ibu-ibu, biasanya yang undang kami itu instansi,'' kata mas Angger, konseptor Dus Duk Duk. 

Wow.... aplaus buat IIP, sebagai komunitas ibu-ibu pertama yang mengundang Dus Duk Duk..!

Acara yang bertajuk Meet The Talent, Cardboard Creation With Dus Duk Duk  ini diselenggarakan tanggal 5 Agustus 2017 bertempat di Fasum Delta  Anthurium 3, Perumahan Grand Delta Sari Sidoarjo. Acara ini merupakan kolaborasi antara Rumah Belajar ( RumBel ) Craft DIY dan RumBel Playdate IIP Surabaya Raya. Diikuti kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Peserta terlihat sangat antusias sekali menyimak penjelasan dari mas Angger. 

Pada awal sesi, mas Angger menjelaskan aneka jenis kardus yang digunakan Dus Duk Duk. Pada awalnya mereka menggunakan kardus bekas, namun karena sulit untuk menemukan jenis dan kriteria yang sesuai dengan standar yang mereka butuhkan, akhirnya Dus Duk Duk memesan kardus khusus dari pabrik untuk bahan baku pembuatan produknya.


Dus Duk Duk berasal dari kata dus ( kardus ) untuk duduk. Bermula dari tugas kuliah dasar desain yang diberikan oleh kampusnya, mas Angger yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa ITS bersama teman-temannya berusaha untuk mencari ide kreatif desain yang 'out of the box' . Terbersitlah ide membuat kursi dari kardus. Jika mahasiswa lain, sibuk berkutat dengan pernak pernik khas anak desain, mas Angger pun sibuk mengumpulkan kardus-kardus bekas untuk mencari kardus yang sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan. Hal ini cukup membuat prihatin orangtuanya, dan tidak mengira jika mas Angger sedang menyiapkan sebuah produk yang spektakuler. 
sebagian hasil desain dari Dus Duk Duk - foto milik dusdukduk(dot)com
Setelah berhasil menciptakan desain kursi -yang beneran bisa diduduki dan bahkan dinaiki dengan kedua kaki- dari kardus, Dus Duk Duk pun resmi di launching bersamaan dengan pameran Ide Art tahun 2013 lalu.  Setelah itu, berbagai respon positif mengalir bak air sungai, dibarengi dengan mengalirnya berbagai pesanan. Salah satunya dari butik artis cantik Luna Maya, yang terdapat di lima pusat perbelanjaan di Surabaya, Sidoarjo dan Malang. Undangan dari media pun datang silih berganti. Tercatat, Dus Duk Duk pernah tampil di acara Indonesia Morning Show Net TV, The Roof Top Trans 7 (yang akhirnya semua properti yang dibawa Dus Duk Duk diborong oleh Gilang Dirga sang pembawa acara ), Tonight Show dan masih banyak lagi.

Belum lagi respon dari para pejabat pemerintah, yang memberikan apresiasi positif bagi mereka. Salah satunya Bapak Soekarwo, Gubernur Jawa Timur yang akrab dipanggil Pakde Karwo. Testimoni berstempel resmi kantor gubernuran pun menjadi salah satu koleksi penghargaan yang mereka terima. Set furniture dari Dus Duk Duk menghias dengan manis salah satu ruangan dikantor Gubernur. Kiprah Dus Duk Duk pun menarik perhatian Noa Haim, seorang cardboard artist  dari Belanda dan mengajak mereka bergabung dalam Paper Batik Workshop di Creative Room at Historia Food and Bar pada Agustus 2015. Apresiasi yang datang dari luar negeri lainnya yaitu dari Konsulat Jendral RI di Penang Malaysia. Dus Duk Duk diundang untuk mengisi pameran di Festival George Town di Penang pada Juli 2016. Stan Dus Duk Duk yang unik menarik perhatian pengunjung pameran, awalnya pengunjung tidak percaya jika kursi kardus itu bisa diduduki seperti kursi pada umunya.

nhaa,ajaib kan.. dinaikin ngga penyok loh.. (foto dokumentasi IIP)
Saat ini, produk Dus Duk Duk sudah banyak di kenal di masyarakat. Peminatnya mulai dari instansi, toko/butik, dan para pehobi craft. Dus Duk Duk tidak hanya membuat furniture meja kursi, mereka juga bisa membuat aneka bentuk seperti hiasan dinding, plakat, rak , miniatur alat transportasi, miniatur hewan, dan berbagai bentuk lainnya sesuai keinginan pemesan. Dus Duk Duk juga mewadahi orang-orang yang suka mainan kardus (ini istilah mas Angger untuk pehobi cardboard creation) ke dalam sebuah grup FB Dunia Kardus. Di grup ini, semua member dari berbagai kota bisa sharing kreasi mereka dari kardus. Dengan adanya grup ini, juga selain menambah silaturahmi juga memudahkan Dus Duk Duk memperoleh bahan baku ketika ada event di luar kota. Untuk bahan-bahan yang bisa diperoleh dari rekan sesama pecinta cardboard creation, mereka tidak perlu membawa dari Surabaya.

Antusiasme peserta sangat luar biasa pada acara tersebut, banyak sekali pertanyaan yang masuk. Mas Angger pun cukup tabah dikerumuni ibu-ibu menjawab keingintahuan dari ibu-ibu tersebut. Beberapa pertanyaan yang masuk dari audiens antara lain,
  • berapa harga produk Dus Duk Duk ?
Harga produk Dus Duk Duk mulai dari kisaran Rp. 100.000,- untuk pajangan dan mulai Rp. 300.000,- untuk furniture
  • apakah produk Dus Duk Duk tahan air ? 
Ada semacam cairan khusus untuk melapisi produk, sehingga produk lebih aman terhadap air. Segera dibersihkan dengan kain kering jika terpercik / tertumpah air
  • berapa lama daya tahan produk?
Produk bisa tahan hingga dua tahun, tergantung perawatan. Asalkan tidak tersiram air dan dekat dengan api, produk bisa lebih awet.
  • bagaimana pengangkutan properti jika pameran keluar kota bahkan keluar negeri?
Semua produk Dus Duk Duk menggunakan teknik saling terkait, seperti membuat puzzle. Jadi produk dibawa dalam bentuk belum jadi , dan baru dirakit di lokasi tujuan. Pengangkutan dalam jumlah besar menggunakan truk yang disewa khusus. Untuk meminimalisir resiko produk rusak di jalan, mereka juga menggunakan jasa cargo tercepat untuk keluar kota. 
  • bagaimana penyaluran limbah kardus sisa produksi ?
Saat ini, kardus sisa produksi disalurkan ke pengepul barang bekas untuk didaur ulang. 
  • berapa maksimal beban untuk kursi ?
maksimal beban muatan untuk kursi yaitu 160 kg. Saat ini Dus Duk Duk sedang berinovasi untuk mengembangkan produknya sehingga bisa mencapai maksimal beban 180 kg. 
  • apa harapan Dus Duk Duk kedepannya ?
Dus Duk Duk berharap, suatu saat bisa menyelenggarakan event festival kardus di Indonesia. Festival kardus yaitu event pameran / semacam karnaval dengan menggunakan semua barang yang terbuat dari kardus.
  • apa pesan mas Angger untuk kami,  orang tua dan anak-anak disini ?
Tidak harus HEBAT saat START, tapi untuk menjadi HEBAT harus ada START. Indeed ! Keren sekali quote dari mas Angger ini. Tidak akan ada sesuatu yang hebat jika tidak dimulai. Semua bisa jadi besar jika ditekuni, apalagi jika dikerjakan dengan bahagia. 

Tidak terasa, waktu sudah beranjak siang. Anak-anak sudah tidak sabar menantikan sesi kreasi bersama Dus Duk Duk. Kit  kreasi bentuk pesawat terbang segera dibagikan kepada para peserta. Ssst, untuk kit kreasi ini kami hanya membayar Rp. 50.000,- saja  lho, padahal harga normal nya diatas Rp. 100.000,- uwow banget kan..?



yayy, sudah jadi pesawat terbangnya..
Cara pembuatan pajangan bentuk pesawat terbang ini tidak terlalu sulit. Setiap bagian sudah di desain agar bisa menyatu kuat dengan bagian yang lain. Tanpa ribet mengelem, tanpa harus menggunting. Mudah bukan ? Dan, taraa.. jadilah pesawat terbang kardus !

penyerahan bingkisan dari IIP untuk Dus Duk Duk  (foto dokumentasi IIP)
sesi foto bersama panitia acara ( foto dokumentasi IIP)
Menjelang pukul 12.00 wib, acara Meet The Talent bersama Dus Duk Duk pun berakhir. Penyerahan bingkisan untuk Dus Duk Duk dan sesi foto-foto menjadi agenda terakhir dari rangkaian acara tersebut. Alhamdulillah, acara berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Sukses selalu untuk Dus Duk Duk dan Institut Ibu Profesional, khususnya Rumah Belajar Craft DIY dan Playdate sebagai penyelenggara acara. Kami tunggu event berkesan selanjutnya !













Rabu, 09 Agustus 2017

Vidi Vini Vici, Oleh-Oleh Kekinian Baru Dari Surabaya

Agustus 09, 2017 6 Comments

Bulan Agustus ini, jagad kuliner Surabaya akan diramaikan dengan hadirnya Vidi Vini Vici. Sebuah brand kue yang digawangi oleh penyanyi muda bertalenta. Siapa dia.? Yup, Vidi Aldiano. Wah, brand kue artis lagi ? Jangan sirik dulu dong, karena walaupun di launch dengan nama besar artis bukan berarti kue ini dibuat dengan citarasa asal-asalan. Apalagi dengan didukung packaging dan marketing event yang luar biasa hore, bisa dipastikan Vidi Vini Vici akan menjadi salah satu pilihan oleh-oleh premium kekinian dari Surabaya.

Alhamdulillah saya berkesempatan hadir pada Meet and Greet dan prelaunch Vidi Vini Vici yang diadakan tanggal 6 Agustus 2017 di Grand City Mall and Convex Surabaya. Vidi Aldiano datang bersama sang ibunda Mama Besbarini dan adiknya Vadie Akbar. Berbalut kostum dengan nuansa warna baby pink dan light blue, keluarga artis itu terlihat kompak sekali. Duet vokal Vidi dengan gitar akustik Vadie membuka meet and greet siang itu, langsung di sambut histeris oleh para The Vidies. Setelah menghangatkan panggung dengan beberapa lagu pembuka, Vidi memperkenalkan brand kue yang akan dibukanya di Surabaya yaitu Vidi Vini Vici. Pada  acara tersebut, audiens  juga diberi kesempatan mencicipi semua varian rasa yang ada. Sayangnya, bagaimana bentuk dan packaging Vidi Vini Vici yang akan dipasarkan nanti belum ditampilkan. Kita tunggu launching resminya nanti ya..

Jadi, Vidi Vini Vici, merupakan kue bolu dengan 5 varian rasa  atau topping yaitu : red velvet, coklat keju, lemon mint, keju dan berry.  Pastinya kita akan dibuat bingung untuk memilih. Bolu lembut diadu dengan topping - topping yahud itu bakalan memanjakan lidah kita. Makanya harus dicobain kelimanya.

Kenapa Vidi Vini Vici sih namanya? Jadi keinget slogan olahraga khas Romawi vini vidi vici yang artinya saya datang, saya lihat, saya menang. Ya, nama brand ini memang diambil dari slogan tersebut, berhubung ownernya Vidi, jadilah kata Vidi yang disematkan diawal. Dan filosofi artinya kira-kira begini : datang, lihat, rasakan ! ( dan jangan lupa bayar.. hehe ).



Meet and greet berlangsung cukup heboh, dipandu mc ngehits 'Duo Gambreng' Danin dan Bryan dari Gen FM Surabaya. Pada sesi game interaktif, Duo Gambreng mengajak audiens bermain game online kahoot, wah seru juga ternyata main kahoot, audiens diajak seru-seruan dengan menjawab beberapa pertanyaan tentang Vidi melalui smartphone, yang terhubung dengan monitor di atas panggung. Selain Kahoot, ada juga game ala-ala 17 an, yaitu lomba makan kerupuk dan memasukkan pulpen ke dalam botol. 3 peserta diambil dari audiens, dan dimenangkan oleh Vista, salah satu the Vidies dari kota Malang. Hadiahnya smartphone, bo..! gak rugi ya, datang jauh-jauh dari Malang..
                                      

Pada sesi kedua, Meet and Greet yang mengusung tajuk Prince Vidi and Snow Queen ini juga menghadirkan The Snow Queen yaitu Zaskia Sungkar dan sang suami Irwansyah. Zaskia Sungkar sudah lebih dahulu meramaikan Surabaya dengan Snow Cake nya. Dalam bincang santai Kakak Kia, panggilan akrab Zaskia, duo Gambreng sempat bertanya, apakah kemunculan Vidi Vini Vici ini tidak akan mengganggu pasar Snow Cake? Zaskia menyebutkan, bahwa rizki Allah yang atur, pada prinsipnya, dia dan manajemen Jannah Corp (manajemen yang menaungi Snow Cake dan Vidi Vini Vici ) tetap akan menjalankan kampanye support sahabat. Kedepannya, Snow Cake juga berencana akan lebih membuat program-program yang bisa mendukung UKM-UKM di Jawa Timur khususnya.


Pada momen bulan Agustus ini, Snow Cake juga meluncurkan varian baru yaitu Snow Merah Putih dan Snow Miss You, seperti apa rasanya? Langsung saja cuz ke outlet Snow Cake ya, karena varian baru ini akan mulai dipasarkan tanggal 10 Agustus 2017.

So, buat kalian yang hobi icip-icip kuliner kekinian, apalagi yang mengaku The Vidies jangan lewatkan opening Vidi Vini Vici tanggal 17 Agustus 2017 di outletnya Jl Diponegoro No. 48 Surabaya. Follow instagram  @vidi.vinivici untuk info up to date lainnya.
Vidi Vini Vici  iki sing anyar lho rek..!


Sabtu, 05 Agustus 2017

[ Aliran Rasa ] Kemandirian Bekal Masa Depan

Agustus 05, 2017 0 Comments

Game level dua terlewati sudah. Waktunya mengalirkan rasa. Puas ? Belum sih.. Karena waktu 10 hari memang belum cukup untuk melatih anak secara intensif, setidaknya butuh 90 hari untuk menerapkan deep habit mengenai kemandirian. Namun, pastinya aktivitas menerapkan kemandirian ini akan terus berlanjut, meskipun tidak ada tantangan. Karena menerapkan kemandirian merupakan tugas sehari-hari bagi saya selaku orang tua.

Secara naluriah setiap orangtua akan mengajarkan hal-hal mendasar terkait kemandirian anak. Tapi, biasanya aspek kemandirian anak ini justru ditumpulkan oleh sikap orangtua yang memilih melakukan semua pekerjaan sendiri (dengan dalih agar pekerjaan cepat selesai) ketimbang melibatkan anak dalam aktivitas keseharian. Akibatnya, anak-anak menjadi pribadi yang tahu beres, malas berusaha dan tidak percaya diri. Ya, kemandirian anak memang erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Jika kita ingin mengingkatkan kepercayaan diri pada anak, terlebih dahulu tingkatkan kemandiriannya

Bagi saya, mengikuti tantangan 10 hari melatih kemandirian anak ini adalah sebuah reminder. Jika tidak, saya terjebak dalam rutinitas harian yang tanpa aturan dan kerangka. Ini untungnya kalau emak sekolah lagi. Dengan belajar di kelas Bunda Sayang dan mengikuti tantangan demi tantangannya, saya lebih tertata dalam pengasuhan anak.

Dengan melatih kemandirian anak dan sense of helping nya, saya juga banyak terbantu. Walaupun itu nampaknya tugas kecil yang remeh temeh. Misalnya untuk kakak Icha, saya berikan tugas mematikan lampu-lampu yang tidak terpakai pada pagi dan siang hari, menyalakan lampu teras pada pukul 05.30 wib, membuang sampah dapur ke tempat sampah di halaman rumah. Sedangkan untuk Wecha saat ini yang sudah rutin adalah merapikan sandal dan sepatu pada tempatnya. Tentu semuanya tetap mengacu dan memprioritaskan checklist indikator kemandirian sesuai tahapan usianya. Dengan mendelegasikan tugas-tugas kecil kepada mereka, sayapun punya waktu lebih untuk main hape mengerjakan pekerjaan yang lain. So sweet kan..?

Game level 2 ini baru rangkaian awal dari 12 game yang ada di kelas Bunda Sayang. Jadi masih ada 10 game menanti. Hmm, makin nggak sabar menunggu, apa ya tantangan selanjutnya ?

#AliranRasa
#BunsayIIP
#IIP

Follow Us @soratemplates