Sabtu, 29 Juli 2017

[ Level 2 -Tantangan 10 Hari ] Cekatan Melayani Diri Sendiri

Juli 29, 2017 0 Comments
Hari ini, saya cukup dibuat lega. Ketika di saat-saat genting ternyata kakak Icha bisa diandalkan. Ceritanya, kami ketiban rejeki. Malam-malam saya harus extra beberes, membersihkan 'sedikit' runtuhan eternit dari plafon rumah. Bisa dibayangkan, satu eternit melorot dan jatuh sementara kondisi sudah puluhan tahun tidak dibersihkan.Tentu dibarengi debu dan kotoran-kotoran yang cukup membuat saya kerepotan. Debunya hampir merata menutup ruangan. Butuh waktu lama untuk membersihkannya. 

Sudah waktunya makan malam, dan saya belum menyiapkan makan malam untuk mereka. Kebetulan siang sampai sore tadi, kami ada acara diluar rumah. Saya mencoba untuk mendelegasikan tugas menyiapkan makan malam untuk dia dan adiknya. Paling simpel, goreng sosis aja deh..  Alhamdulillah, masih ada stok sosis di kulkas.

"Kakak, bisa bantu Mama goreng sosis, untuk makan kakak sama adek.."
"Bisa Ma.. "

Dan, alhamdulillaaah sekali, tanpa guide dari saya, si kakak sudah mahir menjalankan perannya. Dengan polos, Wecha bercerita

"Tadi kakak goreng sosis agak gosong, tapi aku suka... sedaap..."

hahaha..


Tak berapa lama, keduanya pamit tidur. Saya pandangi dua bocil itu ketika terlelap. Kenapa ya, selalu ada rasa haru ketika melihat anak-anak terlelap

Cerita hari ke 9 dari Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak ini, ternyata menjadi hari terakhir saya menyelesaikan tantangan. Apa pasal ? Hari terakhir yang saya kira tanggal 30 Juli 2017, ternyata dimajukan menjadi tanggal 29 Juli 2017. Yah, hari ini kan.. Jadi, hanya bisa menyelesaikan 9 hari dari tantangan 10 hari. Berarti gagal ? Tidak buat saya. Proses melatih kemandirian anak, tidak berakhir pada 9 atau 10 hari mengikuti tantangan, tapi proses yang selalu bersinergi dan berkesinambungan. (..halah..) Eh tapi serius kok, melatih kemandirian bagi saya sebuah proses yang harus terus dilakukan. Untuk menyiapkan generasi di tangguh masa depan. Yang percaya diri dan tidak mudah larut oleh gegapnya arus diluar sana.

Baiklah, mari bersiap menantikan tantangan selanjutnya!

#Level2
#BunsayIIP
#LatihanKemandirian
#Tantangan10Hari


Jumat, 28 Juli 2017

[ Level 2 - Tantangan 10 Hari ] Hari ke 8 Mengembangkan Kemampuan Motorik & Bahasa

Juli 28, 2017 0 Comments

Tidak terasa sudah hari ke delapan dari tantangan 10 hari melatih kemandirian anak. Seharusnya, hari ini  saya masih melanjutkan latihan memasang tali sepatu untuk Wecha. Qadarullah, sejak Rabu sore badannya panas sehingga kemarin dan hari ini saya meminta izin ke sekolah untuk tidak masuk.
Jadi, apa aktivitas apa lagi untuk melatih kemandirian selama libur sakit ini? Si bocah sudah mulai bosan dirumah karena saya belum mengizinkannya untuk bermain diluar, sampai kondisinya benar-benar fit. Saya membuka kembali file-file catatan di kelas Bunda Sayang. Tujuh poin penting pada perkembangan kemandirian anak usia 2 - 6 tahun. Salah satu poin pentingnya adalah mengembangkan kemampuan dan keterampilan motorik dan bahasa. 

"Keterampilan motorik yang matang akan mendorong  terbentuknya konsentrasi dalam beraktivitas, perencanaan gerak yang baik, kontrol diri yang baik, dan regulasi emosi yang seimbang  sebagai bekal proses belajar hal-hal yang lebih  kompleks " 

Berhubung badan sedang not delicious, si bocah 5 tahun ini mintanya ditemani terus. Apalagi si kakak belum pulang sekolah. Jadi saya mencoba menyibukkan beliaunya dengan aktivitas yang bisa mengembangkan kemampuan motorik dan bahasanya. Hmm apa ya? Yang terpikir pertama kali adalah bermain lego dan membaca cerita.

"Eh kemarin, adek bisa bikin apa dari lego?"
"Aku bisa bikin macem-macem, Mama mau dibikinin ..?" nhaa, sudah mulai terpancing dia
"Mau doong... bikin yang bagus ya.."

Sekejap kemudian bocah itu sudah sibuk dengan lego nya.


Setelah puas bermain lego, saya mengajaknya membaca cerita. Asyik beraktivitas, tidak terasa sudah waktunya menjemput kakak Icha ke sekolah.

#Level2
#BunsayIIP|
#LatihanKemandirian\
#Tantangan10Hari

Kamis, 27 Juli 2017

[ Level 2 - Tantangan 10 Hari ] Hari Ke 7 Menerapkan Kemandirian Dalam Aktivitas Sehari-hari

Juli 27, 2017 0 Comments

Hari ketujuh dalam Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak, qadarullah Wecha sakit sehingga harus ijin sekolah hari ini. Project latihan memasang tali sepatu sementara saya skip dulu. Karena demam, si bocah jadi sedikit rewel. Alhamdulillah, demamnya tidak terlalu tinggi. Masih bisa beraktivitas seperti biasa, hanya saja untuk makan sendiri agak susyah. Namun,  untuk kegiatan-kegiatan domestik lainnya, dia tetap bersemangat membantu saya. Seperti mengambil pakaian di jemuran, melipat pakaian yang akan disetrika, merapikan sepatu dan sandal di teras, bantu-bantu bikin kopi buat Abinya (walaupun cuma bantu ngaduk beberapa kali).  Proses - proses kecil seperti itu sangat saya apresiasi

"Mama mau dibantu?" tanyanya seringkali seperti itu
"Hmm.. boleh.."

Saya tunjukkan bahwa saya sangat menghargai pekerjaannya. Walaupun kadang-kadang (sebenarnya) hampir malah membuat berantakan dan pekerjaan lama selesai. hehehe
Lain kesempatan ketika melihat saya sibuk dia juga bertanya,

"Mama mau dipijit?'' Dan jika saya mengangguk jari-jari mungilnya mulai kremut kremut bergerak di punggung saya.
"Enak Ma..?" Saya mengangguk. Padahal geli. Hehehe..

Lain Wecha lain Icha, si kakak ini sudah mulai sibuk dengan dunianya. Dia suka membaca buku dan utak - utik laptop. Qadarullah tablet lagi rusak, jadi sementara aman dari ketergantungan  tablet. Meski begitu, saya tetap siaga 45 mengawal latihan kemandirian Icha. Kadang-kadang jengkel saat kesabaran diuji, tetep berusaha sabar. Beberapa kali mengingatkan untuk bisa melakukan kewajibannya tanpa diingatkan. Seperti mandi, sholat atau makan. Yah, namanya sedang berproses. Semoga semakin baik seiring bertambahnya usia.

Hari ini, latihan mengelola uang saku mingguan Icha sudah sampai hari ke 3. Dan sepertinya belum berhasil sodara... ! Di hari ketiga ini, jatah spend  (dari spend, save and share) hanya tersisa 2000 rupiah untuk sampai hari Jumat. Jatah share  sebesar 10 ribu rupiah disisihkan untuk infaq hari Jumat. dan itu saya wanti-wanti nggak boleh diutak-utik.

Masih terus berjuang, melatih kemandirian anak!
Semangaat..

#Level2
#BunsayIIP
#LatihanKemandirian
#Tantangan10Hari




Rabu, 26 Juli 2017

[ Level 2 - Tantangan 10 Hari ] Hari ke 6, Belajar Memasang Tali Sepatu

Juli 26, 2017 0 Comments

Sibuk dengan latihan kemandirian untuk kakak Icha, apa kabar bocah ketjil ini ? He he.. 
Jangan khawatir, kabarnya baik-baik saja. Untuk Wecha saya juga menyiapkan latihan kemandirian. Berhubung rentang usianya masih 5 - 6 tahun, tentu poin-poin latihan berbeda dengan si kakak.

Kali ini, saya mengajak Wecha berlatih memasang tali sepatu. Jadi ceritanya, sepatu sneakers nge pink bergambar helo kiti ini beli di Jogja lebaran kemarin. Di toko Venza di daerah Condongcatur. Hehe, ini penting buat dibahas lho, karena ditoko ini barangnya bagus-bagus dan harganya murah meriah. Bayangkan, sepatu lucu ini hanya di bandrol kurang dari 50 ribu rupiah saja. Murah kan? Nggak cuma itu, saya juga dapat barang-barang lucu lainnya dengan harga yang nggak bikin dompet koyak. Hahaha, emak-emak kalau ngomongin belanja murah semangatnya 45 ya !

Oke, kembali ke latihan memasang tali sepatu. Memasang tali sepatu pada anak-anak 5 tahun atau kurang seringkali dianggap sebagai aktivitas yang sulit. Makanya  banyak orangtua ( termasuk saya ) alih-alih mengajari anak memasang tali sepatu, malahan menghindari membelikan sepatu bertali. Alasannya, supaya nggak ribet. Pilih saja yang velcro, aman kan ? Tetapi apakah ini alasan yang tepat? Tentu tidak. Memasang tali sepatu, penting sekali sebagai tolok ukur perkembangan motorik halus anak. Selain itu memasang tali sepatu juga melatih koordinasi mata dan gerak pergelangan tangan, juga melatih kesabaran anak. Perlu diingat untuk orangtua, berikan dukungan ketika anak bersemangat mencoba hal baru. 
                             
Hari pertama memakai sneakers ini ke sekolah, saya mendapati gurunya yang membantu memasang tali sepatu ketika pulang sekolah. Esoknya, saya wanti - wanti supaya berusaha memasang tali sepatu sendiri.

"Nanti waktu pulang, sepatunya ditali sendiri ya?"
"Aku belum bisa..."
"Bisa, pasti bisa ! Kalau kita berusaha pasti bisa.."
"Tapi susah.."
"Dicoba dulu, bilang Bunda ngga perlu dibantu Bun, aku coba sendiri.." Bunda adalah panggilan untuk gurunya.
"Iya, tapi Mama jangan telat jemputnya ya, kalau aku nggak bisa nanti Mama yang talikan.."
"Oke,tapi dicoba dulu kan?"
"Iya.."
"Siip... itu baru anak keren..!"

Dan, pulang sekolah saya membiarkannya mencoba memasang tali sepatu sendiri. Lihat ekspresinya. Dari muka bersemangat, serius, sampai hampir menyerah. Sambil sesekali melihat ke arah temannya yang asyik bermain. Barangkali pikirnya, andai aku nggak harus memasang tali ini, pasti aku sudah main perosotan sama teman-teman..! Hehehe..

Tahap mengendorkan tali untuk memudahkan kaki masuk ke sepatu, kemudian mengencangkannya kembali,sampai membuat simpul pertama, lulus. Mulai masuk simpul kedua agak bingung. Saya berikan contoh pada kaki kanan. Dia mencoba untuk kaki kiri. Belum berhasil. Tidak apa-apa. Semua butuh proses dan latihan. Nggak mungkin ujug-ujug bisa.. yekan?

#Level2
#BunsayIIP
#LatihanKemandirian
#Tantangan10Hari

Selasa, 25 Juli 2017

[ Level 2 - Tantangan 10 Hari ] Hari Ke 5, Cerdas Mengelola Keuangan Sendiri

Juli 25, 2017 0 Comments
Hola! 

Masih di Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak. Mulai Senin kemarin, saya mulai melatih Icha mengelola uang saku mingguan. So far, so good. Alhamdulillah Icha bukan termasuk anak yang boros, malah terbilang hemat. Jajannya sedikit. Dia lebih suka belanja alat tulis fancy ketimbang jajanan. 

Hari pertama kemarin, dia menghabiskan uang saku untuk belanja stiker lucu buat adiknya. Hari ini, saya lihat ada pembatas buku, mini notes, tuding ( alat tunjuk biasanya dipakai saat baca Qur'an) dan entah pernik - pernik apa lagi dikeluarin dari kantong harta karun tasnya.

Trus, saya kepo dong, belanja apa saja doi hari ini. Waktunya emak investigasi. Sekalian buat laporan tugas Tantangan 10 Hari, hehehe.

"Hari ini belanja apa saja kak?" tanya saya, sambil nyantai sore-sore
"Ini.." menyodorkan catatan pembelian hari ini.
"Hah..! 9000 ?? berarti.." belum selesai saya bicara sudah dijawab.
"Berarti besok pengeluaran kakak hanya bisa 1000.." jawabnya santai kek dipantai.
"Emangnya bisa, jajan hanya seribu di sekolah?'"
"Bisa..."

"Tidak boleh minta traktir teman lho ya.."
"Enggak lah.. Kakak ngga suka minta traktir traktir, tapi kadang-kadang teman-teman yang mau nraktir sendiri..."


"Loh, podo ae.."
"Ya lain lah Ma.."

sebagian belanjaan Icha yang berhasil tertangkap kamera
Duh, ngomong sama bocah pra abege ini nggak ada habisnya, pinter ngeles dan cari alasan. Sudahlah, yang penting dia sudah paham konsep pengaturan keuangan. Jika biasanya saya memberi dia 5000 perhari, sekarang saya memberikan uang 'belanja' untuk sepekan diawal. Jika pengeluaran dia hari ini melebihi anggaran berarti dia harus menyusutkan anggaran untuk hari berikutnya. kita lihat apa kabar 'uang belanja' nya sampai akhir pekan nanti , hehe..

#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari



Senin, 24 Juli 2017

[ Level 2 - Tantangan 10 Hari ] Hari ke 4, Belajar Mengelola Uang Saku Mingguan

Juli 24, 2017 0 Comments


Hari keempat dari Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak, bertepatan dengan hari Senin. Siapapun setuju hari Senin adalah hari yang sangat sangat sangaaat... rempong luar biasa !
Kesibukan pagi yang berkejaran dengan waktu sambil mengkondisikan anak-anak agar tiba tepat waktu di sekolah dengan suasana fisik dan hati yang nyaman.

Rencananya,di hari keempat saya masih tetap akan menguatkan poin mandiri melayani kebutuhan sendiri. Tapi karena bertepatan dengan awal pekan, saya juga mulai masuk ke poin kedua yang ingin saya latihkan yaitu mengelola uang saku mingguan. Tentunya poin-poin yang belum 'klir' pada latihan melayani kebutuhan sendiri tetap saya latihkan.

Ketika mulai sounding akan menerapkan uang saku mingguan, ternyata Icha sudah cukup familiar dengan pemisahan keuangan menjadi 3 bagian yaitu spend, save and share. Pernah diajarin sama Ustadz ( guru kelas ) katanya. Alhamdulillah kalau begitu, jadi tinggal praktek aja.
Jadi saya mulai dengan  menghitung perkiraan berapa kebutuhan Icha dalam satu mimggu, melebihkannya lima ribu sebagai dana lain-lain. Kemudian, saya sampaikan rule of the game mengenai tatacara mengelola uang saku mingguan. Pekan pertama, saya menganggarkan dana 50 ribu rupiah sebagai uang saku mingguannya. Dengan rincian sebagai berikut :
  • uang saku harian sebesar 5000 x 7 hari = 35.000
  • infaq hari Jumat  = 10.000
  • dana lain-lain/ditabung = 5000

Jika ada sisa dari uang saku hariannya, boleh dia masukkan ke dalam pos infaq atau tabungan.


Catatan hari pertama dari kelolaan uang sakunya:
  • beli stiker label nama untuk adek @2500 ( isi 10 lembar ) x 2 = 5000
lah, uang saku hari ini habis dong buat beli stiker buat adek aja?
"Ngga papa....lagi males jajan" kata Icha
"Kenapa..? kan bisa ditabung.. ?" kejar saya
"Emmmm... kakak merasa bersalah, kemarin marahin adek ...."

duuu, jadi mellow nih emaknya ><

#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari
#HariKe4


Minggu, 23 Juli 2017

[ Level 2 - Tantangan 10 Hari ] Hari Ke 3, Mencuci Piring Setelah Makan

Juli 23, 2017 0 Comments


Hari ini, kami memasuki hari ke 3 dalam Tantangan 10 hari Melatih Kemandirian Anak. Daan.. akhirnya pada hari ketiga ini, kakak Icha bisa mencuci piring sendiri setelah makan tanpa diingatkan. Alhamdulillah.. semoga istiqomah ya, aamin..


Selain fokus pada kemandirian melayani diri sendiri, saya juga menyisipkan latihan tanggungjawab menerima delegasi tugas penting lainnya. Yang sudah berjalan saat ini adalah sebagai manajer sampah dapur. Tugasnya antara lain :
  • terampil memisahkan sampah dapur basah dan sampah kering
  • mengingatkan anggota keluarga yang lain jika ada yang keliru membuang sampah dapur
  • membawa kresek sampah dapur ke bak sampah di halaman rumah, jika sudah penuh
Alhamdulillah tugas-tugas tersebut sudah berjalan lancar. Saya mencoba menambahkan tugas lain yaitu sebagai manajer laundry. Tugasnya antara lain :
  • memisahkan baju warna dan baju putih sebelum masuk ke dalam mesin cuci
  • mengoperasikan mesin cuci mulai dari menakar sabun, membuka keran air, menyalakan tombol ON dan seterusnya.
Untuk mengambil cucian dari mesin cuci dan menjemur masih menjadi tugas saya. Karena lumayan dalam dan berat juga hehe.. Nah yang lucu nih, setelah mesin beroperasi sampai proses pengeringan, saya melihat satu saset deterjen bubuk tergeletak dengan manja di keranjang cucian. Jadi..?
"Kakak tadi masukkan berapa bungkus sabunnya?"
"Satu....." suara polos menyaut kalem
"Satu mana cukup.. cucian sebanyak ini...."
"Yaah..mama ngga bilang..." jawabnya tanpa dosa wes pokoknya.. ahahhaha..

iya juga ya, saya belum bilang kalau masukkan dua saset deterjen bubuk. Alamat ngulang nggiling lagi.. wes rapopo, namanya juga belajar kan. Hargai proses,dari setiap kesalahan anak akan belajar mana yang benar.

#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari
#HariKe3



Sabtu, 22 Juli 2017

[ Level 2 - Tantangan 10 Hari ] Hari Ke 2, Happy Cooking..!

Juli 22, 2017 0 Comments

Hari kedua tantangan kemandirian, saya masih melanjutkan melatih kemandirian anak-anak dalam melayani kebutuhannya sendiri. Kali ini, saya mengajak mereka mengolah bahan makanan sampai menghasilkan makanan siap santap.

Berbeda dengan sang kakak, Wecha ( 5 tahun ) lebih antusias jika diajak berurusan dengan dapur. Seringkali setiap memasak saya harus merelakan beberapa potong kentang, wortel atau tempe sebagai ajang eksperimen dia. Tentu saja, tidak saya masukkan ke dalam masakan.Tapi dia akan menunggu dan memastikan, bahwa sayur hasil potong - potongnya akan ikut dimasak.. hehehe.

Namun kali ini, saya membiarkan dia 'benar-benar' memproses bahan masakan sampai menjadi makanan. Mulai dari proses memotong sayur mayur bahan sop ( sayangnya tidak sempat di foto nih..), dan memotong kekean ( seperti nugget tetapi terbuat dari ikan ) dan menggorengnya. Lucu, dan harus punya stok sabar yang agak banyak. Potongan kekeannya acak adut, tidak beraturan. Nggak papa lah.. namanya juga belajar, yekan..! Saat memasukkan ke atas penggorengan, Wecha belum berani, dia meminta saya melakukannya. Ketika waktunya mengangkat, saya pikir dia juga akan takut. Ternyata tidak, Wecha cukup berani mengambil potongan-potongan kekean dari atas wajan yang masih panas, dengan bantuan penjepit makanan. Tentu saja selama proses ini saya selalu stand by disebelahnya.


Yes, makanan sudah siap. Tidak menunggu lama, makan siang pun usai. Dan setelahnya, piring kotor masih tergeletak di meja makan. Lupa lagi, kata Icha. Hehehe..

Ndak papa deh.. besok kita latihan lagi ya nduk..

Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari
#HariKe2


Jumat, 21 Juli 2017

[ Level 2 - Tantangan 10 Hari ] Hari Ke 1, Menyiapkan Makan Sendiri

Juli 21, 2017 0 Comments


Memasuki hari pertama tantangan 10 hari pada game level 2 di kelas Bunda Sayang, saya mengambil poin kemandirian dalam memenuhi kebutuhan sendiri. Poin yang ingin saya latihkan adalah melayani diri sendiri saat makan mulai dari mengambil makan sampai mencuci piring untuk kakak Icha ( 9 tahun ). Oke, sebagai permulaan saya ingin membiasakan Icha menyiapkan makanan sendiri. Hal ini tentu saja berbeda dengan kebiasaan sebelumnya. Biasanya piring berisi nasi dan lauk sudah saya siapkan di atas meja. Anak-anak tinggal makan. Nah, pastinya di awal agak-agak gimana dengan perubahan yang saya lakukan.

"Kakak, adek ayo makan..." kata saya
"Lho mana maemnya Ma ?" kaget dong, melihat meja makan belum terlihat penampakan piring nasi dan lauk pauknya.
"Sekarang mulai belajar ambil maem sendiri ya.. bisa kan?'' jawab saya kalem
"Hmmm..... bisa ! Ayo dek, kakak ambilkan.."

Saya perhatikan, sambil takut-takut membuka tutup magic jar yang memang agak panas, tapi alhamdulillah bisa juga! Setelah meletakkan nasi di dua piring, satu untuk dia sendiri dan satu untuk adiknya, kemudian beralih mengambil lauk. Lauk udang krispi kesukaan mereka, dihitung sama rata ( ampun deh.. segitunya hahaha.. )

"Ini dek,kamu enam kakak enam.. yuk makan dulu.."
"Eitt... ada yang belum tuh.." potong saya
"Apa ...?"
"Sayurnya belum..."
"Yaaahh... "

Walau terpaksa, tapi nurut juga makan pakai sayur. Hehehe..
Setelah makan, dua piring kosong terlihat masih tergeletak di meja makan. Saya ingatkan lagi untuk meletakkan piring kosong ke bak cuci piring. Setelah meletakkan piring kotor ke cucian piring, keduanya buru-buru kabur kembali ke ruang tv.

Baiklah, untuk hari pertama cukup sekian. Pastinya akan saya progres secara bertahap. InsyaaAllah bisa!

#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari
#HariKe1



Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak

Juli 21, 2017 0 Comments


Melatih kemandirian anak pastinya bukan hal yang baru bagi orang tua. Secara naluriah setiap orangtua akan mengajarkan hal-hal mendasar terkait kemandirian anak. Tapi, biasanya aspek kemandirian anak ini justru ditumpulkan oleh sikap orangtua yang memilih melakukan semua pekerjaan sendiri (dengan dalih agar pekerjaan cepat selesai) ketimbang melibatkan anak dalam aktivitas keseharian. Akibatnya, anak-anak menjadi pribadi yang tahu beres, malas berusaha dan tidak percaya diri. Ya, kemandirian anak memang erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Jika kita ingin mengingkatkan kepercayaan diri pada anak, terlebih dahulu tingkatkan kemandiriannya.

Nah, saat ini kelas Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional yang saya ikuti sudah memasuki bulan kedua. Kali ini materinya adalah Melatih Kemandirian Anak. Seperti biasa setelah mendapat materi kami ditantang untuk mempraktekkannya dalam Tantangan 10 Hari. Caranya dengan membuat program 1 pekan 1 poin kemandirian, atau maksimal 4 kemandirian dalam satu bulan. Hmm bagaimana, berani menerima tantangan ?

Baiklah, sebelum saya menentukan poin-poin kemandirian apa saja yang ingin saya latihkan kepada Icha ( 9 tahun ) dan Wecha ( 5 tahun ), saya mereview kembali pencapaian kemandirian mereka dengan tolok ukur sesuai tahapan usianya.

Parameter kemandirian anak usia 3 - 5 tahun adalah sebagai berikut :

  • Toilet training - done ✓
  • Makan dengan sendok dan garpu - done ✓
  • Duduk tenang untuk beberapa saat - done ✓
  • Senang bila mendengarkan cerita - done ✓
  • Memakai jaket sendiri tanpa batuan - done ✓
  • Mampu mengancingkan jaket sendiri - done ✓
  • Mampu memakai sepatu sendiri dengan benar - done ✓
Alhamdulillah, poin - poin parameter kemandirian anak usia 3 - 5 tahun diatas sudah terpenuhi untuk Wecha, Sedangkan untuk kakak Icha yang saat ini usia 9 tahun, parameter kemandirian usia 7 - 9 tahun adalah sebagai berikut :
  • menyiapkan dan memakai pakaian sendiri, termasuk menyiapkan pakaian sekolah - done ✓
  • menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri - done ✓
  • mandiri ketika makan - done ✓
  • mandi sendiri - done ✓
  • menyisir rambut sendiri - done ✓
  • merapikan tempat tidur sendiri - done ✓
  • mengembalikan barang ke tempatnya - masih sering lupa
  • menjaga kepemilikan barang ( tidak membiarkan barang tertinggal ) - sesekali lupa tapi tidak sering
  • tidur terpisah dari orangtua - done dengan catatan khusus *)
Karena usia kakak Icha saat ini kelas 4 SD dan menjelang 10 tahun, saya juga perlu memperhatikan poin  kemandirian  untuk usia 10 - 12 tahun atau setara kelas 4 - 6 SD,  meliputi :

Kemandirian dalam memenuhi kebutuhan sendiri :
  • Bangun tidur sendiri  - susaaah
  • Pergi mandi tanpa diingatkan / disuruh - susaaaah
  • Berolahraga, bisa bersepeda atau berjalan kaki di sekitar rumah - kadang kadang
  • Melayani diri sendiri saat makan, tidak diambilkan dan tidak dibantu sampai mencuci piring - done, belum sampai mencuci piring
  • Mengelola uang saku mingguan, serta mencatat pemasukkan dan pengeluaran di buku secara sederhana - belum dilatih
Kemandirian dalam tugas - tugas kerumahtanggaan :
  • membantu pekerjaan dapur menggunakan pisau - belum dilatih
  • berbelanja kecil-kecilan (di toko dekat rumah secara mandiri) - very well done ✓
  • memelihara dan merawat hewan - catatan khusus **)
  • menyapu sebagian atau seluruh rumah - baru sebagian
  • menjaga adik, menemani adik belajar/bermain - done ✓
  • membersihkan tempat tidur sendiri - done ✓
  • mencuci pakaian dalam sendiri- belum dilatih
  • menyetrika seragam sendiri - belum dilatih
  • membuat checklist kegiatan harian - belum dilatih
Hmm... berat juga ternyata.Untuk poin - poin latihan kemandirian anak usia 10 - 12 tahun masih banyak yang jadi pe er bagi saya. Baiklah, untuk tantangan 10 hari Melatih Kemandirian Anak, akan saya fokuskan terlbih dahulu untuk kakak Icha, Dengan rencana poin - poin latihan sebagai berikut :

  • pekan pertama ( hari ke 1 - 5 ) latihan melayani diri sendiri saat makan, sampai mencuci piring
  • pekan kedua ( hari ke 6 - 10 ) latihan mengelola uang saku mingguan, mencatat pemasukkan dan pengeluaran secara sederhana
Tantangannya sebenarnya lebih ke bagaimana membuat anak SUKA melakukannya, karena jika hanya untuk membuat anak BISA itu mudah. Jadi, mari bersiap untuk memulai tantangan 10 hari Melatih Kemandirian Anak !




Sabtu, 15 Juli 2017

Minecraft, Game Edukatif atau Adiktif ?

Juli 15, 2017 2 Comments

Beberapa waktu yang lalu,game minecraft sempat populer dikalangan Icha dan teman-temannya. Awalnya saya pikir, minecraft adalah sebuah permainan berbasis 'craft' atau kerajinan tangan. Sudah senang aja nih, waktu anak-anak sibuk kesana kemari, pamit mau main minecraft bersama teman-temannya. Ternyata oh ternyata, sama sekali berbeda dengan bayangan saya.

Minecraft, sebenarnya bukan permainan baru. Versi pertamanya dirilis pada tahun 2011 oleh developer game Mojang dari Swedia. Dan pada tanggal 16 Agustus 2014, game ini dibeli oleh Microsoft. ( sumber wikipedia). Dalam dunia minecraft, pemain bisa merancang bangunan apa saja dari bentuk kubus bertekstur dalam tampilan animasi 3D. Kalau saya bilang, minecraft adalah lego versi virtual. Namun, apakah game ini memiliki sisi edukatif seperti permainan lego? Tidak. Walaupun nampak mengasah kreatifitas seperti permainan lego, minecraft sama saja dengan permainan gadget lainnya yang bisa menimbulkan kecanduan/adiktif. 
gambar milik shop.lego.com
Lego 'asli' merupakan permainan edukatif yang cukup lengkap. Bisa dimainkan berbagai tahapan usia, karena mencakup banyak aspek perkembangan anak. Melalui bentuk dan warnanya yang beraneka ragam, anak-anak belajar mengenal bentuk dan warna. Pada saat menyusun, anak belajar koordinasi mata dengan tangan. Sedangkan aktivitas mengenggam dan membuka pasang lego merupakan latihan motorik halus. Selain itu, pemilihan warna dan rancang bangun merupakan latihan menumbuhkan jiwa seni pada anak.

Berbeda dengan minecraft, permainan ini tidak sekreatif yang dikira oleh kebanyakan orangtua. Penelitian pakar psikolog Jun Lee dan Robert Pasin untuk majalah Quartz, menyebutkan anak-anak yang diteliti mengatakan merasa gelisah dan kesal setelah bermain. Seperti dihadapkan pada keharusan menyelesaikan bangunan tanpa akhir. ( sumber www.bbc.com )

Oleh karena itu, orangtua perlu membantu anak-anak 'menikmati' minecraft dengan cara menjadi gamer yang sehat, yaitu bermain dengan waktu yang wajar. Dan tetap seimbang antara aktivitas di dunia virtual dengan aktivitas didunia nyata seperti bermain bersama teman, memancing, bersepeda dan lain-lain.


Jumat, 14 Juli 2017

Yayy.. akhirnya, punya dot com !

Juli 14, 2017 0 Comments

Setelah 6 tahun lebih nebeng tinggal di alamat gratisan, hamdalah di tahun ke tujuh, blog ini berani sewa alamat sendiri. Meskipun bangunan rumahnya tetap numpang gratis di yang punya kontrakan. Aih, bener nggak sih analoginya seperti itu? Hehehe, bener aja deh..

Tahun 2010 saya dibuatkan teman blog ini (mau nulis buat sendiri, ngga enak sama yang buatin hehe..) dengan platform blogger, domain dan hosting gratis dari blogger. Awalnya cuma ingin corat - coret untuk mengisi kesibukan. Kemudian, nggak sengaja saya mendapat informasi dari teman tentang komunitas blogger yang berisikan khusus ibu-ibu. Disitu saya wawasan saya semakin bertambah melihat ibu-ibu blogger keren masa kini. Tapi tetep aja masih takut mau bikin blog berbayar. Pikir saya, belajar dulu jadi blogger yang mumpuni, baru pakai dot com. Namun, semakin kesini, hasrat saya semakin tak terbendung. Akhirnya Juli 2017 ini, resmilah blog ini menempati domain dot com. 

Sebelumnya saya melakukan survei kecil-kecilan melalui internet dan ke teman-teman blogger yang sudah 'mastah' . Mulai dari perbandingan macam-macam domain,  harga domain, penyedia layanan penjualan domain, sampai cara pemasangan domain dot com ke blog berbasis blogger. Referensi utama saya ke blog mas sugeng di sugeng (dot) id. Beli domainnya juga di toko yang direferensikan mas Sugeng, yaitu rumahweb (dot) com. Keren banget deh, penjelasan dan tutorialnya sangat lengkap dan mudah dipahami. Proses beli domain di rumah web juga mudah. Ternyata, untuk mengubah blogspot menjadi dot com tidak serumit yang saya bayangkan. Dan, hasilnya saya berhasil mentransfer dengan mulus blog lama saya ke domain dot com dengan mengikuti panduan dari mas sugeng. 

Kemudian, setelah dot com mau kemana blog ini?  Kemana saja passion ini membawa saya. Tsaah....
Ya intinya, blog ini sebagai media saya menyalurkan isi pikiran  agar tetap waras. Juga sebagai sarana berbagi hal-hal positif, karena saya percaya berbagi hal positif sekecil apapun  bisa jadi bermanfaat bagi orang lain. Kita tak pernah tahu, bagian mana yang mungkin bermanfaat dan menginspirasi orang lain, bukan?

Rabu, 05 Juli 2017

Lebaran di Jogja, Kampung Halaman Kedua

Juli 05, 2017 7 Comments
foto dari imigrasi(dot)org

Pulang ke kotamu..
Ada setangkup haru dalam rindu..
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahaja..

Bagi yang pernah menghuni Jogja, sebait lagu Kla Project diatas pasti menyiratkan makna yang mendalam. Baru mendengar intronya saja hati rasanya sudah teraduk-aduk..

Ah, siapa tak kenal Jogja! Kota indah dengan seribu satu cerita. Menawan hati siapa saja yang pernah mengenalnya. Jogja yang ramah. Beberapa kali saya terpesona oleh keramahannya. Sapaan mas mas pengantar galon, senyum hangat ibu-ibu yang kami temui saat sholat ied, juga bapak-bapak yang membantu menahan pintu dan mempersilakan saya masuk terlebih dahulu, ketika berpapasan di pintu minimarket. Jogja memang istimewa!

Belum lagi makanan khas nya, diam-diam saya membuat daftar makanan yang saya rindukan, lotek colombo, rujak es krim puro pakualaman, gudeg batas kota, bakmi kadin, hmm apalagi ya..? Hampir semua makanan Jogja saya suka. 

Saya tinggal di Jogja kurang lebih selama 10 tahun, sejak awal kuliah sampai bekerja sebelum menikah. Berbeda dengan Mbak Dina, kakak saya, yang kepincut untuk hidup di Jogja, saya membiarkan nasib membawa saya ke kota lain. ( Duh, bahasane rek..)
Dan, meskipun 10 tahun pernah tinggal di Jogja, tapi belum pernah sekalipun saya berlebaran di Jogja. Selalu mudik ke Batang Jawa Tengah. Siapa sangka, lebaran 2017 ini Ibu saya mengajak berlebaran di Jogja. Senang, tapi ada sedihnya juga. Karena itu berarti lebaran tahun ini kami tidak berkumpul bersama keluarga besar. Kalau anak-anak sih, seneng-seneng aja dengar kabar ini, tapi mereka memang selalu senang ya, dimanapun, yang penting ngumpul dan bermain. 

Jauh-jauh hari, saya dan mbak Dina merancang beberapa destinasi yang akan kami kunjungi. Walau kami tahu, mungkin tidak semuanya yang terlaksana. Lihat sikon plus budget.. hehe..

Hari pertama idul fitri, kami mengunjungi Kebun Binatang Gembiraloka ( GL Zoo ). Cukup menyenangkan, karena selain melihat-lihat koleksi satwa yang ada, GL Zoo  juga menyediakan aneka wahana menarik seperti,kereta keliling, speedboat, bebek kayuh, rakit penyeberangan dan lain-lain. Tiga bocah ini - Athan,Icha, Wecha- belum mau pulang sebelum mencoba semua wahana yang ada. Selain itu, banyak sekali spot yang instagramable, sayang untuk dilewatkan. Banyak pengalaman seru kami di GL Zoo. Suasananya juga nyaman, karena tidak terlalu ramai. Mungkin karena hari pertama lebaran, sebagian besar orang memilih berkumpul bersama keluarga. 

membaca peta disela-sela berpetualang di GL Zoo

nge dip dulu sebelum naik speedboat
Hari berikutnya, destinasi sudah melenceng jauh dari rencana semula. Anak-anak ingin ke mall, kamipun menuju lokasi terdekat dari rumah yaitu Hartono Mall. Bocaah.. dimana-mana tetep aja mall yang dicari.. Baiklah, kami-kami mengikuti saja,yang penting anak-anak happy..! Tapi sebelumnya masih kami sempatkan anjangsana ke keluarga di Jogja.

Hari ketiga tak jauh beda, hiks.. kali ini kami menuju Transmart Jogja. Kalau di mall sih kurang lebih sama saja ya dengan di Surabaya. Tapi keseruannya beda, bisa menikmati jalan-jalan sembari berkumpul dengan keluarga besar.

Hari berikutnya, Icha mulai drop. Demamnya kambuh lagi. Sebelum berangkat memang sempat demam. Jadi kami menghabiskan waktu dirumah. Saya juga khawatir Bapak Ibu kecapekan mengikuti anak-anak kemana-mana.  Selain itu, saya juga harus mengobservasi demamnya Icha, khawatir ada indikasi ke penyakit lain. Alhamdulillah, setelah istirahat dan minum obat penurun panas, kondisi Icha membaik. Mungkin hanya demam karena kecapekan saja.

Tidak terasa, sudah H+5 lebaran. Rasanya berat sekali berpisah. Tapi mau tidak mau kami harus kembali ke Sidoarjo. Walaupun hanya berkumpul selama 5 hari, alhamdulillah lebaran kali ini menjadi kenangan terindah bagi kami.

Mumpung masih dalam suasana lebaran, ijinkan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438 Hijriah. Taqabalallahu minna wa minkum, taqabbal yaa kariim..
Mohon maaf jika ada salah-salah posting yaa.. ^^

Itu cerita lebaran saya, bagaimana cerita lebaranmu tahun ini ? 










Follow Us @soratemplates