Rabu, 21 Juni 2017

[ ALIRAN RASA ] Ternyata Begini Rasanya Telah Menyelesaikan Tantangan 10 Hari..

Juni 21, 2017 0 Comments



Alhamdulillah, game level 1 di kelas Bunda Sayang tuntas sudah. Tantangan 10 hari menerapkan komunikasi produktif berhasil saya laksanakan. Rasanya.. lega!  walaupun -karena satu dan lain hal- belum bisa mendapatkan badge apresiasi, tak apalah.. toh badge hanyalah penyemangat saja, yang utama buat saya adalah praktek dan konsistensinya.

"Tidak mudah untuk keluar dari zona nyaman pola pengasuhan yang sudah turun temurun kita jalankan, walaupun itu SALAH. Tantangan 10 hari komunikasi produktif, mengajak kita keluar dari zona nyaman tersebut. Dengan menerapkan komunikasi produktif, kita menyelamatkan masa kanak-kanak anak kita dari verbal abuse yang bisa membawa pengaruh buruk bagi jiwa dan masa depannya. Komunikasi produktif akan membangun karakter positif anak, sehingga menjadi pribadi yang lebih berani dan percaya diri."



Setelah lewat masa tantangan, apakah komunikasi produktif akan tetap saya lakukan? Tentu saja! Karena semakin dipraktekkan pastinya hasilnya akan semakin baik. Tantangan 10 hari hanyalah sebagai jembatan dalam memproses  materi ke aplikasi sehari - hari agar materi tidak menguap begitu saja.  Dan, perjalanan masih panjang. Masih ada 11 tantangan lagi menanti. Siap berubah atau siap kalah ? Saya memilih BERUBAH. [novriyanti]

#aliranrasa
#gamelevel1
#kuliahbunsayiip

----update---
ternyata, dari pengerjaan tantangan 10 hari komunikasi produktif ini, saya berhak mendapatkan salah satu dari dua badge yang ada. Yaitu badge I'm responsible for my communication result karena berhasil mengerjakan lengkap 10 hari walaupun tidak berurutan. Sedangkan untuk badge Excellent belum berhasil. Tidak apa-apa, Alhamdulillah walau hanya satu badge. Badge nya cantik euy.. InsyaaAllah menjadi penyemangat untuk tantangan-tantangan berikutnya.



   



Sabtu, 17 Juni 2017

[ GAMELEVEL 1] Day10 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif, Review dan Pemantaban Komprod

Juni 17, 2017 0 Comments


Day 10 , yayyy...!!
Mengerjakan latihan komunikasi produktif selama 10 hari,sebagai tugas / tantangan dari Kelas Bunda Sayang Institut Ilmu Profesional, rasanya sungguh...wow!!
Disini saya me review kembali, bentuk komunikasi saya ke anak-anak. Yang ternyata selama ini masih lebih banyak salah daripada benernya. 
Belum lagi, semangat yang naik turun. Dan ternyata nggak cuma saya lho.. Hamdalah, kamipun saling menyemangati, jika ada teman -sesama peserta- yang lagi down segera di up kan oleh yang lain. Perjalanan masih panjang, masih ada 11 tantangan lagi di kelas Bundsay. 

Hari terakhir tantangan, bertepatan dengan hari ke 10 saya ( alhamdulillaaah.. genap juga 10 hari ). Saya ingin memantapkan lagi poin - poin  komprod yang lebih sering saya aplikasikan sehari-hari. Antara lain : mengendalikan emosi, intonasi dan suara yang ramah, mengatakan yang diinginkan dan memberi pilihan. Ya, empat poin tersebut menurut saya adalah poin dasar yang harus saya kuasai dan aplikasikan sehari - hari.


Poin mengendalikan emosi, ini sudah ON sejak anak-anak bangun tidur. Alhamdulillah lancar. tidak ada drama berarti yang bikin esmoni saya naik. Demikian juga poin intonasi dan suara yang ramah, so far lancarr... hari ini nada suara masih terjaga di oktaf rendah.  Poin ketiga, mengatakan yang diinginkan, ini beberapa kali diulang, ketika menyuruh Icha ( 9tahun ) makan. Qadarullah, sejak Kamis kemarin sepulang sekolah badannya demam, jadi saya ijinkan tidak berpuasa dulu. Hobi si sulung membaca sering bikin sampai lupa makan, padahal badannya masih lemah karena sakit. Kondisi normal saja makannya susaah, apalagi waktu sakit gini,tambah susyaah, baca buku ,  nonton tv,main tablet.. yah maklum liburan. Karena itu saya coba mengganti kalimat :

"Jangan main tab sama baca buku mulu... makan dulu yaa.."

dengan kalimat :

"Yuk makan dulu, biar cepat sehat.. antibodi di tubuh kakak sedang berjuang mengalahkan benda asing yang masuk jadi perlu dibantu dengan asupan makanan yang baik dan banyak"

Dan ngga butuh waktu lama, nasi sop pentol bakso yang saya siapkan habis. Alhamdulillah..

Sedangkan untuk poin ke empat, memberikan pilihan, ini lebih sering saya aplikasikan ke Faisya ( 5 tahun ) Bocah yang sedang homoluden banget ini, paling susah disuruh mandi, apalagi kalau rombongan teman-temannya sudah nyamperin kerumah. Buru-buru mau pergi aja.

"Adek mau mandi sekarang apa main dulu 5 menit?"
"Mandi sekarang aja deh..."

Yess! Dalam hati emaknya bersorak. Jika saya gunakan kalimat perintah "Ayo mandi dulu sebelum main!!" bisa jadi endingnya gak semulus ini.


Mission Accomplished!
Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif  DONE !

#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



Jumat, 16 Juni 2017

[ GAME LEVEL 1 ] Day 9 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif, Memberi Pilihan

Juni 16, 2017 0 Comments


Ngadepin bocah tantrum memang dilema. Diturutin salah, nggak diturutin tambah salah. Eh yang bener memang jangan diturutin.Tapi prosesnya nggak gampang dan harus konsisten. Jangan kalah ikut ketularan tantrum. Memangnya tantrum menular bu? hehe,. dicoba saja. 

Nah, ngomong-ngomong masalah tantrum, kebiasaan Faisya ( 5 tahun ) setelah bangun tidur ya tantrum itu. Jika saya nggak buru-buru 'menyambutnya' dengan pelukan dan pujian, biasanya dia akan berteriak...Mamaaa sinii! temeni adek...! Nah.. kalau sudah begini, level sabar saya harus di stel ke level tertinggi. 
Yang paling sering nih, dia bingung antara masih ngantuk, nggak mau sekolah, dan ingin ikut antar kakaknya ke sekolah. Akhirnya yang ada marah-marah nggak jelas. Momen ini saya coba untuk mengaplikasikan praktek komunikasi produktif di poin memberikan pilihan.


"Masyaa Allah.. anak shalihah sudah bangun.... yuk baca doa bangun tidur dulu..bismillaah..."
"Hari ini tanggal hitam atau tanggal merah..?" tanyanya
"Sekarang masih tanggal hitam..yuk siap-siap kita.."
"Kakak sudah mandi?"
"Sudah.. itu kakak sudah siap. Adek mau mandi sekarang supaya bisa ikut anak kakak ke sekolah, atau mandi nanti.. nunggu di rumah sementara Mama antar kakak?"
"Mau ikut antar kakak.."
"Oke, yuk mandi dulu...."

Alhamdulillah, pagi yang indah tanpa drama. Sejauh ini, trik memberikan pilihan cukup manjur saya terapkan pada Faisya. 


#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



Kamis, 15 Juni 2017

[ GAME LEVEL 1 ] Day 8 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif, Menunjukkan Empati

Juni 15, 2017 0 Comments


Perkara komprod atau komunikasi produktif, memang harus banyaaak berlatih. Setelah tahu ilmunya, masa ngga berubah? Karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH !! Mau pilih yang mana hayoo.. pilih berubah kan? Karena setiap perubahan positif yang kita lakukan, akan membawa perubahan besar bagi generasi kita. Ingat, mendidik satu perempuan adalah mendidik satu generasi. Diakui bahwa pola pengasuhan itu berulang, pola yang salah akan diturunkan oleh anak-anak kita kepada generasinya kelak. Nah,, jangan sampai kita mewariskan pola asuh yang salah ke anak cucu kita. Setuju kan..?



Salah satu poin komprod yang bisa saya latih, menyesuaikan momen yang saya alami kali ini, adalah mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati. 


Kamis siang sepulang sekolah, Icha( 9 tahun ) kelihatan tidak bersemangat. Maklum memang puasa, tapi ini kelihatan lain. Hmm.. waktunya praktek komprod empati nih.. Sambil perjalanan pulang, saya coba sisipkan dialog yang menunjukkan empati.

"Kakak kok lemes... capek ya...?Kegiatannya apa tadi di sekolah..?''
Dia mengangguk."iya, capek banget... tadi kakak panas-panasan bagi baksos di lapangan?"
"Wah.. hebat, InsyaaAllah aktivitas hari ini dapat pahala yg banyak dari Allah..."
"Iya... tapi yang nerima baksos nya lamaaa baru datang, ditunggu dua jam baru ada yang datang, itupun satu orang..."
"Ooh.. mungkin undangannya memang jam segitu, boleh diambil misalnya jam 8 sampai jam 9, jadi yang jam 8 masih sibuk, datangnya jam 9... iya kan...?"
"Iya juga sih... tapi kelas lain sudah banyak yang datang, jadi cepat selesai..."
"Ya sudah, yang penting tugas hari ini sudah selesai kan?"

Tak terasa kami sudah sampai di rumah. Setelah ganti baju saya suruh Icha istirahat di kamar. Saya raba keningnya, Ya Allah.. panas banget. Beneran demam ni anak...

"Kakak mau buka sekarang ?" Icha menggeleng
"Ya udah...dibawa tiduran ya... sebentar lagi ashar, kita sholat trus istirahat lagi,, Gak lama lagi maghrib, sabar ya.." lanjut saya.

Anak mbarep tiduran, sayapun melanjutkan tugas domestik menyiapkan hidangan untuk berbuka.


#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip





Rabu, 14 Juni 2017

[ GAMELEVEL 1 ] Day 7 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif, Mengganti Nasihat Menjadi Refleksi Pengalaman

Juni 14, 2017 0 Comments



Salah satu gaya pengasuhan saya yang belum bisa hilang yaitu gaya menasehati. Terutama ke anak mbarep yang saat ini lagi sering-seringnya menguras emosi dengan tar sok tar sok nya.. entar besok entar besok.. di suruh apa-apa.. jawabnya  pendek " ntar "

" Tuh kan kak... apa mama bilang.."
" Makanya.. jangan bla bla bla..."
" Jadi anak wedok jangan males.. bla bla bla..."

Duh, ampuun nak.. Mamamu ini kudu lebih banyak banyak istighfar.. belajar.. istighfar lagi... 
Masih sering keceplosan. Seperti pas ini nih... sadar kalau anaknya kurang terawat, bukannya turun tangan mengingatkan tapi malah... 

" ih.. kakak ini giginya kotor banget tuh, males sikat gigi.. jangan males po'o kak.. habis sahur jangan langsung tidur, sikat gigi dulu,biar sisa makanan gak membusuk di gigi, bikin mulut kita bau. Apalagi waktu puasa..  jadi anak perempuan kudu rajin, malu kalau badan kita kotor..."

Makkk... itu nasehat apa kereta api?? Panjang betul... Yakin 100% kalau bakalan masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri. Ngaku saya salah....



Harusnya bagaimana? Menurut materi komunikasi produktif, yang paling sesuai menurut saya adalah menasehati berdasarkan refleksi pengalaman. Oke oke... saya coba ganti dengan komprod ya..

Seperti biasa, habis sahur Icha langsung mlungker lagi di kamar. Sambil saya pijit-pijit kakinya, saya ajak ngobrol. 

" Ngantuk ya..?"
" Ho oh..." jawabnya tanpa melihat. Pasti sudah feeling mau dinasehati nih !
" Iya.. waktu Mama kecil dulu Mama juga gitu kok.. bangun sahur rasanya beraat.. habis sahur ingin cepat-cepat tidur lagi. Jadinya gak gosok gigi deh... Makanya nih, giginya pada bolong.. jadi jelek kan, mana sakit lagi... "

Saya lirik responnya.  Eh dia ngeliatin. Tapi belum beranjak dari kasur. Hmm..
" Nanti habis gosok gigi kita sholat subuh  sama-sama ya..."

1...2...3...4

Alhmdulillah, bangun juga. Beranjak ke kamar mandi untuk gosok gigi.

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



Selasa, 13 Juni 2017

[ GAME LEVEL 1 ] Day 6 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif, Jelas Dalam Memberikan Kritikan

Juni 13, 2017 0 Comments

Selain jelas dalam memberikan pujian, dalam komunikasi produktif kita juga harus jelas dalam memberikan kritikan kepada anak. Biasanya nih, (saya) alih-alih memberikan kritikan yang jelas, malah memberikan larangan sepotong-sepotong. Dengan bahasa yang judgemental pula .Misal..

" Duduk yang sopan !"
" Sstt.. jangan berisik !!"
" Makan dulu baru ngomong..!"




Jadi baiknya bagaimana ? Sampaikan dengan jelas kritikan kita, namun jangan dengan bahasa yang menyakiti. Jadi selama ini salah nih? Salah bangeet..

Saya mencoba menerapkan ini ketika saya mendapati anak-anak ramai saat kultum sebelum sholat tarawih di masjid.

" Kak, sikap kakak di masjid tadi Mama rasa kurang baik, bisa ya besok tidak gaduh saat kultum? "
" Habis teman - teman ngajakin berisik Ma.."
" Bisa kan, kakak yang ajak teman-teman untuk tidak ramai?"

Efeknya belum langsung terasa sih, besoknya dan besoknya lagi, setiap jeda sholat Isya ke sholat tarawih gadis-gadis kecil itu masih saja ramai. Entah apa yang mereka obrolkan. Oke, jangan putus asa. Konsisten.. konsisten dan konsisten.

#level1
#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Senin, 12 Juni 2017

[ GAME LEVEL 1 ] Day 5 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif, Jelas Dalam Memberikan Pujian

Juni 12, 2017 0 Comments


Bagi saya, yang paling menantang dari tantangan komunikasi produktif ini adalah poin 'mengendalikan emosi' . Karena efek rutinitas sehari-hari, emosi saat berkomunikasi bersama anak   bisa naik turun bak rollercoaster.  Komunikasi pun menjadi ala kadarnya, asal anak diam, anteng, gak rewel dan beberapa stigma 'anak pinter lainnya yang justru mengebiri kebebasan dan kreativitas anak. Tak jarang anak menjadi korban verbal abuse, dan orangtuapun masih jarang yang ngeh dampak verbal abuse kepada anak-anak. Jadi,poin mengendalikan emosi ini yang selalu saya latih dan selalu menyertai semua poin yang saya praktekkan dalam komunikasi produktif.

Dalam mempraktekkan komprod ini, saya merencanakan poin apa yang akan saya lakukan, tetapi lebih seringnya mengikuti atau menyesuaikan momen yang terjadi sehari-hari bersama anak-anak. Seperti momen kali ini, ketika pertama kalinya Faisya (5 tahun ) -akhirnya- mau puasa sampai dhuhur. Saya latih komprod saya di poin memberikan pujian/kritikan yang jelas.



Menjelang hari-hari terakhir ramadhan, Faisya beru pertama kalinya berhasil puasa sampai dhuhur. Bukan hal mudah menanamkan kepada bocah 5 tahun itu makna puasa. 

"Aku senang sih, puasa... tapi puasa membuat anak-anak lapar.... matilah kita..." haha, logat upin ipin nya keluar. Gimana coba..? Saya pun terikut ber upin ipin ria.
" Taak... tak mati, puasa sihat.. " kata saya.
" Tapiiii... nak makan pun tak boleh.... kan kan kan...." lanjutnya. Ha ha.. serius, bahasa upin ipin kadang menjadi bahasa keseharian kami.Ish ish ish....

Sampai disitu, doi belum ada krenteg untuk ikut puasa. Akhirnya saya mencoba tips dari Bunda (guru TK) di sekolahnya. Berpuasa dengan batasan jam. Jadi tidak harus menunggu bedug Dhuhur jika dirasa masih terlalu berat. Kebetulan, pagi itu Faisya ikut bangun dan makan sahur. Saya mencoba memberikan pengertian untuk berpuasa sampai jam yang dia inginkan.

" Adek ingin berbuka jam berapa nanti?"
" Jam 8 ..." jawabnya kalem. Eh itu sih sarapan namanya... hehe.. 
" Oke, nanti jam 8 adek BISA makan, setelah itu puasa lagi ya.. "
" Iya ..."

Eh, ada komprod nya tuh.. gunakan kata BISA. Alhamdulillah, karena tantangan 10 hari, sedikit-sedikit jadi terbiasa berkomunikasi produktif.

Oke,lanjut lagi ya..
Jam 8 belum ada tanda-tanda minta makan. Jam 9 mulai lirik-lirik meja makan. Saya coba alihkan perhatiannya dengan yang lain. Alhamdulillah.. menjelang jam 12 adzan dhuhur berkumandang. 

" Yuk, waktunya berbuka..."
" Sudah boleh ? Yayyy...!!"
" Sudah.. tuh sudah ada suara adzan.."
" Mama juga buka..?"
" Enggak, Mama tunggu adzan yang maghrib. Adek hebat lho, sudah bisa puasa sampai dhuhur..  "
Mukanya tersipu-sipu dipuji begitu.
" Besok puasa lagi ya.."
" Iya, besok aku mau puasa lagi..."

Alhamdulillah...

#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip







Minggu, 11 Juni 2017

[ GAME LEVEL 1 ] Day 4 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif, BISA !

Juni 11, 2017 0 Comments


Tantangan 10 hari mempraktekkan komunikasi produktif ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. kelihatannya cuma, ahh,gampang.. ini sih komunikasi sehari-hari.. tapi ternyata butuh effort yang luar biasa. Di kelas Bunda Sayang, beberapa peserta mulai tumbang, ijin meninggalkan kelas karena satu dan lain hal. Sayapun sempat terhenti di hari ketiga, praktek terus, gagal terus.. duh.. jadi bingung apa yang mau ditulis. Tapi dukungan dari teman-teman membuat semangat saya kembali membara... 

Komprod, seharusnya bisa dilakukan dengan pasangan (suami) dan anak. Tapi untuk lebih fokus di tantangan 10 hari ini, saya akan melatih diri mempraktekkan komprod kepada anak. Me review kembali poin-poin yang sudah saya praktekkan, antara lain 'mengendalikan emosi'  di hari pertama, KISS ( keep information simple and short ) di hari kedua, 'intonasi suara yang ramah' dan 'mengatakan yang diinginkan' di hari ketiga. Nah, kebetulan ini lagi sering-seringnya pakai laptop buat ngerjain tantangan, sementara anak mbarep lagi seneng-senengnya bikin tulisan, jadilah laptop mungil ini bahan rebutan kami berdua. Ditambah juga adiknya yang ikut-ikutan ngantri laptop sekedar untuk liat-liat foto dan video. Beuuh... bener-bener butuh komprod kalau nggak mau perang dunia ketiga! 

"Ma,kakak boleh pakai komputernya?"
"Jangan.. Mama masih pakai... "

yang ini versi belum tahu komprod. Setelah belajar komprod, beda dong....

"Ma.. kakak boleh pakai komputernya?"tanya kakak Icha
"Adek juga.. adek juga mau pakai kemputer....." ini si unyu ikut-ikutan. Kemputer ya, bukan komputer hehe..
"Kakak mau nulis ya?Emangnya adek mau nulis apa..?" tanya saya
"Adek mau liat gajah.. " ( Video gajah maksudnya, video atraksi gajah yang kami ambil saat ke taman safari beberapa waktu lalu )
"Hmm... oke, kakak BISA pakai komputernya setelah Mama selesai bikin tugas ya.. trus adek juga BISA liat video setelah kakak selesai menulis... setuju? Sekarang main yang lain dulu.." kata saya/

Sebenarnya saya deg-deg an juga menanti efek komprod ini. mengganti kata 'jangan' atau  'nanti' dengan kata BISA. Dan beberapa detik kemudian...

"OKE...! ayo kak kita main dulu...'' kata faisya



pfuuuh.... lega.. ! Komunikasi seperti ini bikin hari-hari saya so sweet rasanya... bener-bener beda efek yang ditumbulkan. Padahal ini baru efek jangka pendek lho, belum lagi efek jangka panjang. Jika komprod konsisten diterapkan, anak-anak akan terisi dengan positif kantung jiwa nya, yang akan membuat mereka tumbuh penuh percaya diri. 

#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Minggu, 04 Juni 2017

[ GAME LEVEL 1 ] Day 3 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif, Mengatakan Yang Diinginkan

Juni 04, 2017 0 Comments

Hari Ahad mungkin hari santai untuk yang lain, tapi bukan untuk saya. Hari Ahad justru hari dimana saya harus ON terus. Rumah yang tidak (pernah) rapi. Anak - anak lebih sering bertengkar. Menyiapkan kebutuhan makanan dan cemilan seisi keluarga, nah poin ini lumayan berkurang, kan sedang puasa. Yah, begitulah nikmatnya menjadi Ibu. 

Hari ketiga tantangan komunikasi produktif (komprod) yang kebetulan jatuh di hari Ahad, saya mengambil poin ketiga dan keempat yaitu 'intonasi dan suara yang ramah' dan 'mengatakan apa yang diinginkan'. Kenapa langsung dua poin ? Karena kedua poin tersebut saling mendukung. Saya ingin menerapkan 'mengatakan yang diinginkan' dengan 'intonasi dan suara yang ramah. Bismillah yaa Allah, semoga diberi kemudahan.



Tantangan pertama di hari ketiga ini, Faisya ngompol !! Selimut, kasur lantai bantal pastinya basah terkena ompol. Hmm... tarik nafas lagiiii.... keluarkan... dalam kondisi biasa reaksi pertama saya biasanya marah. Berhubung sedang ditantang komprod, sayang dong kalau gagal di hari ketiga ini. Saya bangunkan pelan-pelan..

"Dek, ayo bangun dulu, dibersihkan badannya..."

Setelah bangun dan kooperatif untuk dibawa ke kamar mandi, saya membersihkan badan Faisya dan mengganti bajunya. Tugas extra mencuci selimut dan bedcover yang dijadikan alas tidur biarlah saya oper ke laundry depan rumah.

"Dek, besok sebelum bobok, Umi ingin adek pipis dulu... okey ?"

itu yang saya katakan untuk menggantikan kalimat

"Dek, besok lagi jangan ngompol yaa..

Yes, I did it!
Besok mempraktekkan poin apa lagi ya? Hehe, kita tunggu cerita besok.



#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sabtu, 03 Juni 2017

[ GAME LEVEL 1 ] Day 2 Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif , KISS

Juni 03, 2017 0 Comments


Hari kedua di tantangan 10 hari komunikasi produktif ( game level 1 kelas Bunda Sayang ). Hari pertama kemarin saya masih berkutat di poin 'mengendalikan emosi' . Memang tepat sekali, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Jadi poin pertama ini memang wajib dipraktekkan seterusnya, bahkan selamanya, Hari kedua ini saya tambahkan satu poin lagi yaitu KISS ( Keep Information Short and Simple ) . KISS ini melatih kita untuk membuat kalimat menjadi produktif, sehingga anak dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan dengan baik. Yaitu dengan menggunakan kalimat tunggal bukan kalimat majemuk. 




Hari Sabtu, saya ada jadwal kajian rutin.Anak-anak kadang ikut kadang dirumah bersama Abinya. Biasa ibu-ibu, mau pergi dua jam saja banyak sekali yang perlu dikondisikan.  Apakah rumah sudah rapi, anak-anak sudah makan, cemilan tersedia selama saya pergi... dan lain sebainya. Setelah semua beres, biasanya saya berpesan kepada si sulung..

"Kak.. Umi pergi dulu ya, jangan lupa sholat ashar, mandi. Jam 5 jangan lupa tutup jendela dan nyalain lampu teras. Kakak jagain adek ya, jangan main jauh-jauh..."

Hufff... gimana coba? Berapa banyak pesan yang harus ditangkap si sulung? Tapi bagaimana saya harus menyampaikannya menjadi kalimat produktif, sementara saya tidak bisa memantau langsung ketika pesan pertama sudah dikerjakan. 

Akhirnya saya mencoba menggantinya dengan membuat checklist to do yang saya tempel di meja belajarnya.

"Kak.. Umi berangkat ngaji dulu ya,, jangan lupa kakak sholat ashar yaa.. "
"Iya Mi.."
"Eh.. iya, supaya kakak nggak lupa, Umi buatkan checklist lho... Umi tempel di meja belajar. Tandai yang sudah dikerjakan yaa,, "
"Oke Mi...."

Memang tidak mudah melatih diri berkomunikasi produktif kepada anak. Tanpa disadari kita seringkali berkomunikasi sesuka hati, dan terkaget-kaget ketika anak memiliki gaya komunikasi yang (menurut kita) salah. Padahal, gaya komunikasi anak adalah cerminan gaya komunikasi orangtuanya. Dan mereka tidak pernah salah meng copy. Sepatutnya kita belajar memahami anak-anak, karena kita pernah jadi anak-anak. Sementara mereka, belum pernah menjadi orang tua.

Sampai bertemu lagi di hari ketiga tantangan komunikasi produktif!

#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip







Jumat, 02 Juni 2017

[ GAME LEVEL 1 ] Day 1, Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

Juni 02, 2017 2 Comments


Setelah berkali-kali meniupkan mantra 'ojo kalah karo wegah' ke ubun-ubun saya sendiri, akhirnya saya menerima tantangan game kelas Bunda Sayang level 1 ini. Komunikasi produktif. Sebenarnya, walau bukan karena tantangan, saya pun butuh mempraktekkan materi komprod ini. Qadarullah, Faisya (5 th 9 bulan ) sedang tantrum tingkat dewa belakangan ini. Saya sampai curhat ke suami, jangan-jangan ni anak ditempeli sebangsa jin. Pasalnya, ketika keinginannya tidak dituruti, ekspresi wajahnya menjadi sangat marah dan lain dari aura wajah aslinya. Bahkan bisa menggeram dan menggigit. Serem,kan ?

Dulu nggak gitu. Ketika batita sih pernah masa-masa menangis atau merajuk ketika keinginannya tidak dipenuhi. Sampai saya, alhamdulillah merasa berhasil mengatasi itu dengan konsistensi. Tidak selalu menuruti keinginannya walaupun dia mengeluarkan senjata andalan derai air mata anak buaya.



Setelah melalui perenungan mendalam, saya pun pasrah menganalisa dan mengakui jika sifat temperamen Faisya datang dari saya. Salah satu (atau bahkan lebih?) dari 12 gaya pengasuhan populer (parenthogenic) yang seharusnya tidak diterapkan pada anak tetapi malah sering saya lakukan. Yang salah satu efeknya membuat anak melawan, tidak peduli dan sulit diajak bekerja sama.

Nah, sekarang sudah tahu kan salahnya dimana? Jadi mari kita mulai tantangan 10 hari di Game Kelas Bunda Sayang. Saya memilih indikator komprod 'mengendalikan emosi'. Sebenarnya hari pertama saya mulai tanggal 1 Juni 2017. Dari setelah subuh, dimulai dengan drama bangun tidur. Ngamuk dengan alasan tidak dibangunkan makan sahur (padahal nggak puasa juga?!) tarik nafaaas, istighfar... masih aman. Ngamuknya reda sendiri. Menjelang siang mulai banyak permintaannya yang aneh-aneh. Disitu saya merasa gagal. Ketika suara saya meninggi dia pun balas meninggi.. ( Ya Allah ampuni hamba..) . Saya pilih menyingkir. Ke belakang, cuci piring. Barangkali dengan mendengar gemericik air keran emosi saya mencair. Tiba-tiba dari belakang sebuah tangan kecil menjawil bahu saya. Saya menoleh ke samping kanan, sebuah wajah mungil tersenyum lucu sambil mengulurkan tangan kecilnya. 
"Maaf..," katanya
Segera saya peluk bocah mungil itu sambil saya gelitiki pinggangnya, dia terkekeh-kekeh. 
Hari pertama gagal dengan suksesnya, tapi tidak apa-apa. Mengulang lagi di hari ini tanggal 2 Juni 2017. Masih dengan poin yang sama yaitu  'mengendalikan emosi'. Kronologis hari ini tidak jauh beda dengan kemarin. Hanya saja saya sudah lebih tegar. Bangun tidur sudah ancang-ancang mau ngamuk, dengan alasan yang sama, tidak dibangunkan sahur! Saya tepuk-tepuk punggungnya,sambil berkata

"Adek, tadi sudah Umi bangunkan lho.. katanya mau bobo aja.."
"Harus dibangunin sampai banguun!!!"
"Iya deh, besok Umi bangunin sampaaaaiii bangun... sekarang kita bobo lagi yuk..masih gelap nih.."
Wajah yang tadi berekspresi marah perlahan melembut. Sejurus kemudian mulutnya mulai banyak bercerita.. alhamdulillaah..

Tabel komunikasi produktif pada anak


Mission accomplished for bocah, sekarang giliran komprod-in bapaknya. Dari beberapa indikator komprod pada orang dewasa, untuk saat ini, yang paling memungkinkan saya aplikasikan adalah intensity of eye contact. Saya yang biasanya ngomong sambil lalu, berusaha mengubah kebiasaan. Mendekat dan menatap. Tetiba, ada suara cempreng bocah kecil, ''ciee cieee....." Faisya ! haha... 

Tabel poin komunikasi produktif pada pasangan ( orang dewasa )
Hmm, sulit jika belum terbiasa. Semoga dalam 10 hari ke depan saya bisa istiqomah dalam menerapkan komunikasi produktif kepada suami dan anak-anak. Wait and see for tomorrow... 


#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


catatan :
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas perkuliahan Bunda Sayang Institut Ibu Profesional

Kamis, 01 Juni 2017

12 Gaya Populer Pengasuhan ( Parenthogenic )

Juni 01, 2017 2 Comments


Bisa dikatakan, 12 gaya populer (parenthogenic) ini justru merupakan gaya pengasuhan sehari-hari para orangtua termasuk saya. Padahal, dampak dari 12 gaya ini sangat tidak baik untuk perkembangan mental anak. Seriius?? Karena 12 gaya ini merupakan kesalahan komunikasi yang menimbulkan dampak verbal abuse, yang dapat merusak jiwa anak dan efeknya baru akan terlihat dalam jangka panjang. Apa saja dampak verbal abuse pada anak? 
  • melemahkan konsep diri
  • mrmbuat anak diam, melawan, tidak peduli, sulit kerjasama
  • menjatuhkan harga diri dan kepercayaan diri anak
  • tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
  • iri
  • BLAST - boring  lonely angry/afraid stress tired yang akhirnya dapat menyebabkan beberapa penyimpangan sosial (teori Mark Kaselmen) 

hayuk di cek,jika masih terdapat gaya seperti dibawah ini, kita harus segera perbaiki pola pengasuhan kita:

1⃣Memerintah,
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”

2⃣Menyalahkan,
contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”

3⃣Meremehkan,
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”

4⃣Membandingkan,
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”

5⃣Memberi cap,
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”

6⃣Mengancam,
contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”

7⃣Menasehati,
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”

8⃣Membohongi,
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”

9⃣Menghibur,
contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”

10šŸ”ŸMengeritik,
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”

11⃣Menyindir,
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”

12⃣Menganalisa,
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

ah, bener kan..? sebagian besar gaya-gaya tersebut sering kita (eh, saya?) praktekan sehari-hari. Jadi bagaimana sebaiknya? Coba kita perhatikan poin-poin berikut :
  1. Jangan berbicara tergesa-gesa
  2. Setiap pribadi (anak) adalah unik
  3. Kenali diri sendiri dan anak, sisihkan waktu untuk bisa berduaan dengan anak
  4. Pahami perbedaan needs dan wants, contoh perilaku anak yang senang bermain (wants) tetapi bagaimanapun juga anak butuh mandi (needs).Pahami kemauannya, kemudian beritahu apa yang menjadi kebutuhannya
  5. Memahami masalah, beri kesempatan berpikir untuk memilih dan mengambil keputusan
  6. Baca bahasa tubuh ( 55-38-7)--> dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% suara dan 7% nada suara
  7. Dengarkan pesan, agar anak mau membuka diri.
  8. Mendengarkan dengan aktiv, berikan respon yang sesuai. Sediakan ruang bagi emosinya. 
  9. Gunakan “Pesan Saya” Jika kita yang memiliki masalah terhadap anak, gunakanlah “pesan saya” atau “i-message” yaitu dengan :
  • Ayah/Ibu merasa …. (isi perasaan kita) Kalau kamu …. (isi perilaku anak) Karena… (isi konsekuensi terhadap diri sendiri/orangtua/orang lain
  • Contoh: “Ayah merasa marah kalau kamu tidak mendengarkan ayah bicara karena itu membuat ayah merasa tidak berharga“
           Dalam “pesan kamu”, anak tidak bisa membedakan mana masalahnya dan mana dirinya. Hal                tersebut jika terus menerus dapat melemahkan konsep diri anak.

Dari komunikasi, anak-anak maupun orang dewasa belajar tentang values dan sebagainya. Komunikasi juga menentukan konsp diri anak ( self concept ) yang nantinya akan harga diri ( self value ) dan kepercayaan diri ( self confidence ).




Sumber bacaan :
Materi Cemilan  dari Tim Fasilitator Bunda Sayang 2  - Institut Ibu Profesional
yang bersumber dari catatan seminar ibu Elly Risman (artikel)

Follow Us @soratemplates